ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Berawal dari Uang 10 ribu, Kakek Ini Dapat Naik Haji

0

IA bernama Abdullah bin Saiful Hadi, seorang bapak yang mempunyai dua orang anak. Berasal dari Kabupaten Jember Jawa Timur.

Meski hanya lulusan SD namun semangatnya untuk dapat menunaikan rukun islam yang ke lima begitu kuat.

Sejak sekolah, beliau telah bekerja sebagai tukang becak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hingga mulai tahun 1987, beliau selalu berusaha menyisihkan uang dari hasil mengayuh becak dan kuli panggul di pasar Mangli  Jember.

Dari penghasilan yang tak seberapa itu, beliau berhasil mengumpulkan uang untuk ditabung sebagai ongkos naik haji antara Rp 10.000, hingga Rp 20.000. Kecuali di hari Minggu dimana banyak toko libur sehingga penghasilannya hari itu hanya cukup untuk makan saja. Namun di hari lain, dia tetap istiqomah menabung.

Karena kesabaran dan ketekunannya, akhirnya pada tahun 2009 pak Abdullah mantap mendaftarkan dirinya ke bank untuk mendapatkan nomer porsi keberangkatan haji.

Keinginannya yang kuat juga didukung oleh sang istri yang juga menabung untuk berangkat haji pula.

Saat itu untuk mendapatkan nomer porsi haji harus memiliki dana sekitar 20 juta, namun dari hasil menabung selama bertahun-tahun tersebut beliau hanya memiliki dana 17 juta.

Untunglah sang istri yang juga turut menabung, dan memiliki dana pas tiga juta untuk menutupi kekurangannya. Dan untuk menambah kekurangan biaya lain-lainnya, mereka mendapatkan bantuan melalui kegiatan arisan warga.

Pak Abdullah sangat bersyukur karena akhirnya dapat menunaikan ibadah haji pada tahun 2011. Akan tetapi sang istri lebih dahulu di panggil oleh Allah sebelum pak Abduh menunaikan ibadah haji.

Di depan Ka’bah beliau mendoakan almarhum istrinya, serta memohon doa agar mendapat rezeki yang berkah. Tak lupa, doa menjadi haji yang mabrur.

Seseorang yang berikhtiar untuk mendapatkan ridha Allah, serta berdoa yang tak pernah putus. Allah tidak pernah tidur, Ia selalu melihat hambaNya yang senantiasa berikhtiar dan berdoa.

Karena doa dan ikhtiar memang tak bisa dilepaskan, bagaikan dua sisi mata uang. []

 

Sumber: alshaumroh

loading...
loading...