islampos
Media islam generasi baru

Belajar Syukur dari Kasiran Penjual Kandang Ayam

0

DI usianya yang senja, Kasiran, 84 tahun warga Kota Metro tetap semangat mengais rezeki. Meskipun harus berjuang hidup sebatangkara dengan keterbatasan fisik.

Mbah Kasiran tak pernah mengeluh dan tetap semangat menjalani kehidupan tuanya.

Untuk mengais rezeki, ia harus berjalan berkilo-kilometer menyusuri jalanan, untuk menjual kandang ayam dari anyaman bambu yang dibuatnya.

Ia mengaku tidak pernah merasa lelah sedikitpun, meski harus berjalan dengan satu kaki dan tongkat yang menopang kaki lainnya.

”Berhubung dikasih Allah kekuatan, jadi gak ada rasa capek. Allah yang memberi keselamatan. Jadi menghilangkan semua rasa capek juga,” kata Kasiran

Dia menuturkan kondisi kakinya itu bukanlah cacat dari lahir melainkan cacat karena diamputasi oleh dokter. ”Kaki ini dulu tahun 2000 terkena musibah tertusuk bambu runcing. Sehingga harus di amputasi,” ungkapnya.

Menurut sang kakek ia menjual kandang ayam hasil kerajinannya itu dengan harga Rp50.000. Ia juga mengatakan setiap harinya kandang yang dibawanya selalu laku. Dan tidak pernah sampai dibawanya pulang kembali.

kakek tersebut mengatakan, ia lebih senang bisa mendapatkan uang dari hasil kerja kerasnya dibandingkan dengan meminta-minta kepada orang lain. Menurutnya, ia tidak mau membuat beban kepada orang lain dengan meminta-minta. Karena setiap orang pasti memiliki beban hidup masing-masing. Untuk itulah ia tidak mau menimbulkan beban lagi kepada orang lain.

”Kalau ada yang ngasih ya saya terima. Tapi kalau meminta saya tidak mau. Karena belum tentu orang yang saya minta itu tidak memiliki beban hidup juga,” katanya lagi.

Pria yang sudah tinggal di Kota Metro sejak tahun 1939 itu mengatakan bahwa ia mulai hidup sendiri sejak ditinggal sang istri tercintanya yang lebih dahulu meninggal pada tahun 1980 silam. Dan sejak saat itulah ia harus berjuang hidup sebatang kara.

Meskipun ia memiliki seorang putri, ia tetap lebih memilih hidup sendiri dikota metro. Itu karena ia tidak mau menjadi beban sang anak yang kini tinggal di daerah Kabupaten Mesuji bersama suaminya.

”Kalau ikut anak tidak bisa beraktifitas seperti sekarang. Dulu memang sempat ikut sama anak. Tapi itu hanya satu tahun saja. Saya kembali ke Metro lagi karena saya lebih suka hidup mandiri tanpa membebankan orang lain, termasuk anak saya sendiri,” paparnya.

Menurutnya, meskipun harus mengurus kebutuhan hidupnya serba sendiri. Mulai dari memasak, mencuci mengurus rumah hingga mencari nafkah sendiri. Ia jauh lebih senang dengan kehidupannya itu dibandingkan harus menbebankan orang lain.

”Masak sendiri, nyuci sendiri, dan bersih-bersih rumah juga sendiri. Tapi saya jauh lebih senang seperti ini,” ujarnya.

Ia juga mangatakan, kalau masalah rezeki, pasti Allah akan memberikan rezeki kepada setiap umatnya.

”Yang penting mau berusaha pasti ada rizki yang diberikan untuk kita. Dan alhamdulillah selama ini ada saja rizki yang saya dapat. Baik itu dari hasil penjualan kandang ayam maupun dari pemberian orang yang membagi sedikit rezekinya untuk saya,” ujarnya. []

Sumber : khilafah

loading...
loading...