islampos
Media islam generasi baru

Belajar Shalat Khusyuk dari Hasim al-Asam

Foto hanya ilustrasi
0

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya,” (QS. Al Mu’minuun 23 : 1-2)

DIKISAHKAN bahwa ada seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat wara dan terkenal sangat khusyuk shalatnya. Namun demikian dia selalu khawatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih baik ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasanya kurang khusyuk.

Pada suatu hari Isam menghadiri majelis seorang abid bernama Hatim Al-Asam dan bertanya: “Wahai Aba Abdurrahman (nama panggilan Hatim), bagaimanakah caranya Anda shalat?”

Berkata Hatim: “Apabila masuk waktu shalat, aku berwudhu’ lahir dan batin.”

Bertanya Isam: “Bagaimana wudhu batin itu?”

Berkata Hatim: “Wudhu lahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wudhu’ dengan air. Sementara wudhu batin ialah membasuh anggota dengan 7 perkara:

1. Bertaubat.

2. Menyesali dosa yang telah dilakukan.

3. Tidak tergila-gila dengan dunia.

4. Tidak mencari atau mengharapkan pujian dari manusia

5. Meninggalkan sifat bermegah-megahan.

6. Meninggalkan sifat khianat dan menipu.

7. Meninggalkan sifat dengki.”

Seterusnya Hatim berkata, “Kemudian aku pergi ke Masjid, kusiapkan semua anggota tubuhku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku.

Dan kubayangkan pula bahwa aku seolah-olah berdiri di atas titian Shiratul Mustaqim’ dan aku menganggap bahwa shalatku kali ini adalah shalat terakhir bagiku (karena aku merasa akan mati setelah shalat ini).

Kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik. Setiap bacaan dan do’a dalam shalat aku fahami maknanya. Kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawadu’ (merasa hina), aku bertasyahud (tahiyat) dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku shalat selama 30 tahun.

Ketika Isam mendengar penjelasan itu, menangislah ia sekuat-kuatnya. Ternyata ibadahnya kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim. []

loading...
loading...