ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Belajar Menjadi Baik

0

Oleh: Erna Ummu Azizah
Komunitas Peduli Generasi dan Umat

SIAPA sih yang tak ingin menjadi baik? Semua orang pasti ingin menjadi baik. Menjadi anak yang baik, menjadi orang tua yang baik, menjadi pasangan (suami/istri) yang baik, menjadi saudara, sahabat, tetangga, guru, murid, dan semua yang baik-baik.

Menjadi baik itu memang tak mudah, harus mau memulai dan mau belajar. Dan biasanya iblis/syaithan sudah bersiap siaga menggoda. Dalam Al-Qur’an terekam dialog antara Allah SWT dengan iblis yang dihukum oleh Allah. Dalam dialog tersebut, iblis menyatakan untuk selalu menyesatkan manusia. Hal tersebut tertera dalam surat Al A’raf ayat 16-17 berikut ini:

{قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16) ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ
شَاكِرِينَ (17) }

“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang- halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).’” (QS. Al A’raf : 16-17)

BACA JUGA: Orang Baik Banyak Ujiannya

Dari ayat Al Quran di atas dijelaskan bahwa Iblis akan selalu menghalang-halangi kita dari jalan yang lurus. Caranya, dia akan mendatangi kita dari muka, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri kita. Lalu apa maksud dari keempat penjuru itu?

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan firman Allah SWT dalam surat Al-A’raf ayat 17 di atas adalah:

“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka”: Iblis akan membuat manusia ragu akan permasalahan akhirat (Min baini Aidihim),

“dan dari belakang mereka”: membuat mereka cinta kepada dunia (Wa Min Kholfihim),

“dari kanan”: urusan-urusan agama akan dibuat tidak jelas (Wa ‘An Aimaanihim)

“dan dari kiri mereka”: dan manusia akan dibuat tertarik dan senang terhadap kemaksiatan (Wa ‘An
Syama’ilihim).

Karena godaan syaithan itulah akhirnya kita jadi malas, egois, sombong dan selalu mengedepankan hawa nafsu. Padahal itu adalah cara syaithan untuk menjerumuskan, sehingga hidup kita akhirnya jadi hancur berantakan, selalu dirundung duka dan kegalauan yang berakhir dengan penyesalan. Jika hal itu terjadi maka bersorak gembiralah syaithan karena telah berhasil menjadikan kita temannya kelak di neraka. Naudzubillah.

Lalu timbul pertanyaan di benak kita, mengapa iblis/syaithan tidak mendatangi kita dari atas dan dari bawah kita? Hal tersebut dijelaskan dalam sebuah tafsir Al Qur’an berikut ini:

Al-Fakhrur-Razy dalam tafsirnya berkata: “Diriwayatkan bahwa ketika Iblis mengatakan ucapannya tersebut, maka hati para malaikat menjadi kasihan terhadap manusia mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, bagaimana mungkin manusia bisa melepaskan diri dari gangguan syaitan?” Maka Allah berfirman kepada mereka bahwa bagi manusia masih tersisa dua jalan: atas dan bawah, jika manusia mengangkat kedua tangannnya dalam do’a dengan penuh kerendah-hatian atau bersujud dengan dahinya di atas tanah dengan penuh kekhusyu’an, Aku akan mengampuni dosa-dosa mereka” (At-Tafsir Al-Kabir V/215)

Dalam tafsir yang lain juga dikatakan bahwa Iblis tidak mendatangi kita dari atas, karena rahmat turun kepada manusia dari atas (Tafsir Ibnu katsir III/394-395).

Loading...

Oleh karena itu iman adalah senjata kita. Berdoalah, mari kita berlindung kepada Allah atas segala godaan syaithan yang terkutuk. Dan jangan pernah bosan untuk terus belajar.

Hidup adalah belajar. Belajar dari yang tidak bisa menjadi bisa. Dari yang tidak biasa menjadi terbiasa. Belajar taat meski terkadang berat. Belajar tersenyum walau mungkin sedang terluka. Belajar mengalah untuk meraih kemenangan. Belajar ikhlas agar hati senantiasa tenang. Belajar memahami meski kadang tak sehati. Dan belajar memberi tanpa berharap diberi.

Semuanya memang harus dari hati, hati yang selalu terpaut kepada Ilahi, bukan hati yang dipenuhi nafsu diri. Karena jika ego yang dituruti, jangan berharap semua kebaikan akan terjadi.

BACA JUGA: Jangan Ragu untuk Hijrah Menuju Lingkungan Baik

Ya, masing-masing dari kita adalah pembelajar. Oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk terus belajar, agar semakin baik dan baik lagi. Semuanya memang butuh proses tapi belajarlah, berubahlah ke arah yang baik walau 1 hari hanya 1%, insya Allah 100 hari 100%.

Mulailah belajar menjadi baik detik ini juga, jangan ditunda-tunda, karena perkara ajal adalah rahasia, jangankan hari esok, sejam, semenit bahkan sedetik kemudian pun kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.

Dengan belajar menjadi baik, insya Allah menjadikan hidup semakin hidup. Andaikata hadir rasa kecewa dan air mata mendera, Allah-lah yang Maha menjadi Saksi. Dialah Yang Maha Adil, dan sebaik-baik pemberi balasan.

Jadilah orang yang ketiadaannya dicari, kehadirannya dinanti, kepergiannya dirindui, kematiannya ditangisi, dan kebaikannya diteladani.

Bismillaah. Laa hawla walaa quwwata illaa billaah. []

Kirim RENUNGAN Anda lewat imel ke: redaksi@islampos.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri. Isi dari OPINI di luar tanggung jawab redaksi Islampos.

Artikel Terkait :

loading...
loading...

Sponsored

Comments
Loading...

Maaf Anda Sedang Offline

Send this to a friend