ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Belajar Baik dari Keluarga yang Tidak Baik, Bagaimana?

Foto: Media Publica
0

KITA bisa belajar pada siapapun dan kapanpun, ada beberapa tipe keluarga di bahawah ini yang bisa kita ambil pelajaran di dalamnya.

Apa saja tipe keluarga tersebut?

Keluarga A

Sang ibu kalau marah suka teriak-teriak sampai tetangga satu kampung dengar. Pukulan, bentakan, & hardikan sudah jadi santapan sehari-hari bagi si anak ketika melakukan kesalahan. Pertengkaran demi pertengkaran terus terjadi karena masalah ekonomi. Bila pun ada keharmonisan, itu hanya sedetik. Kehidupan sehari-hari lebih banyak diisi dengan pertengkaran.

Keluarga B:

Dari luar terlihat sempurna. Suami sukses, istri ibu rumah tangga yang baik, dan anak-anak udah jadi “orang”. Tapi siapa sangka jika di dalam rapuh. Suami tidak mau tahu urusan istri. Anak-anak tidak terlalu dekat, lebih dekat ke orang lain. Dan, istri merasa sebagai korban, merasa  berjuang sendiri.

Keluarga C:

Sang ayah suka main perempuan. Sang ibu pun suka keluyuran enggak jelas. Anak-anak diumbar. Memang tidak pernah terjadi pertengkaran, tapi seolah bukan keluarga karena masing-masing asik dengan urusan sendiri.

Keluarga D:

Kedua orangtua hanya mementingkan prestise dan nama baik. Tak peduli perasaan anak. Pokoknya anak harus kerja di anu dan sekolah di situ agar jadi orang sukses menurut kacamata mereka. Sungguh tragis, di luar dipuja-puja orang tapi dalamnya sangat rapuh. Sang anak menjalani hari-hariny hanya sekadarnya saja, enggak tahu harus ke mana.

Keluarga E:

Bagai punya dua kepribadian. Saat marah meledak-ledak seperti orang kesurupan. Kemudian, biasa aja seolah gak terjadi apa-apa. Anak-anak takut cerita karena takut dimarahi. Ada yang jadi keras, ada yang menutup diri.

Beragam cerita kelam seperti di atas bukan untuk membuat kita takut menikah, tapi justru bisa membuat belajar.

Tidak ada keluarga yang sempurna. Jadi kalau sudah tahu begini sebenarnya setiap orang tidak perlu iri karena semuany punya masalah masing-masing. Pun tidak perlu juga merasa lebih baik karena keluarganya enggak gitu karena kondisi bisa berubah sewaktu-waktu.

Pepatah mengatakan bahwa orang pintar belajar dari kesalahan sendiri tapi orang bijak belajar dari kesalahan orang lain. Jika tidak ada yang bisa dijadikan contoh, jadilah contoh. Walau untuk memulainya diperlukan tekad serta perjuangan yang tidak mudah bahkan berdarah-darah.

Dari beragam model keluarga tersebut kita bisa belajar banyak hal. Belajar mengelola emosi salah satunya. Bahkan bisa dibilang kecerdasan emosi yang mumpuni sangat penting dalam membina rumah tangga. Tentu sebagai orangtua kita tidak mau jadi penjahat psikis terselubung kepada anak-anak bukan? hanya karena tidak bisa mengendalikan emosi.

Kita juga bisa belajar bahwa mengendalikan kata-kata itu sangat penting. Sekali melesat, tidak akan pernah bisa ditarik lagi.

Kita juga bisa belajar bahwa meng-upgrade diri itu sangat penting. Masalah yang datang akan semakin menantang, masa iya ilmunya segitu-segitu aja.

Tidak ada keluarga yang sempurna 100 persen. Tapi setidaknya dari beragam contoh buruk yang kita temui di dunia nyata kita bisa belajar untuk menjadi lebih baik, belajar untuk memiliki keluarga yang tangguh dan tidak hanya sekadar pencitraan saja. Belajar juga untuk menjadi keluarga yang sesuai ridho-NYA. []

 

loading...
loading...