ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Begini Derita Bocah Rohingya di Bulan Ramadhan

0

Advertisements

PENGUNGSI Rohingya berusia 12 tahun memimpikan Ramadhan di kampung halamannya sendiri—makan ikan untuk berbuka puasa, mendapat kejutan dari keluarganya dan bersantai di bawah pepohonan sebelum shalat malam di masjid.

Namun bagi MD Hashim keinginan untuk berbuka puasa dengan nikmat hanya ada dalam mimpi. Pasalnya ia dan pengungsi lainnya hidup dalam kemelaratan di Bangladesh di bulan Ramadhan tahun ini, usai etnis Muslim Rohingya pergi dari Myanmar dalam tindakan keras militer.

“Di sini, kami tidak dapat membeli hadiah dan tidak memiliki makanan yang enak, karena di sini bukan negara kami,” kata Hashim kepada AFP di sebuah bukit tandus di distrik Cox’s Bazar.

PBB telah menggambarkan tindakan tentara rezim Myanmar membersihkan terhadap minoritas yang teraniaya sebagai pembersihan etnis, dan ribuan Muslim Rohingya diyakini telah dibantai sejak Agustus 2017 lalu.

Hampir 700.000 orang Rohingya melarikan diri dari kekerasan ke Bangladesh. Di sini mereka tinggal di gubuk bambu dan terpal. Sementara mereka mengakui bahwa mereka beruntung untuk melarikan diri, sekarang, dengan makanan dan uang yang langka dan suhu melonjak, Ramadhan menjadi sumber kecemasan bagi banyak orang Rohingya.

Related Posts
1 of 25

Duduk di dalam tenda plastik di hari yang terik, Hashim dengan senang hati mengingat kembali kesenangan sederhana yang membuat Ramadhan menjadi saat paling mengasyikkan sepanjang tahun di desanya. Setiap malam, teman dan keluarga akan berbuka puasa bersama dengan hidangan ikan dan daging yang dimasak hanya sekali dalam setahun di bulan Ramadhan.

Pakaian baru akan ddiapaki dan diberi dengan parfum tradisional yang disebut “attar” untuk menandai Idul Fitri.

“Kami tidak dapat melakukan hal yang sama di sini, karena kami tidak memiliki uang. Kami tidak memiliki tanah kami sendiri. Kami tidak dapat menghasilkan uang karena kami tidak diizinkan,” kata Hashim.

Rohingya dilarang bekerja dan lebih dari dua lusin pos pemeriksaan militer melarang mereka meninggalkan apa yang telah berkembang menjadi kamp pengungsi terbesar di dunia.

Mereka hanya mengandalkan amal untuk semuanya mulai dari makanan dan obat-obatan hingga pakaian dan bahan-bahan perumahan. Hasyim harus berjalan lebih dari satu jam dalam panas yang membakar untuk mencapai pasar terdekat. []

SUMBER: THE NATION

loading...
loading...

Sponsored

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline