ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Bayi versus Profesor

Foto: Amazon.com
0

Oleh: Widianingsih

BERKUNJUNG ke rumah kerabat merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Apalagi agendanya memancing. Hari itu, kami sekeluarga berkunjung ke rumah teman bersama keluarga sahabat. Suami, saya beserta anak-anak dan sahabat suami saya, membawa istri dan baby-nya.

Tiba di sana, sudah siap berbagai makanan ringan terhidang. Sang baby, Kenza namanya. Ia mulai bergerak cepat menyentuh semua benda di hadapannya. Kenza langsung mengambil air mineral dalam gelas plastik plus sedotannya, jari mungilnya menusukan sedotan ke plastik penutup dengan susah payah. Alhasil Ia pun dapat meminumnya. Mama Kenza pun tampak sibuk merapikan kembali benda-benda yang disentuh sang putra.

Hingga tibalah toples berisi kacang yang dia sentuh. Nah, mulailah Ia melakukan uji coba. Pertama, Ia masukan sedotan ke dalam toples kacang. Ia gerakkan sedotan untuk mengambil kacang, namun sayang belum berhasil. Saya membantu mama Kenza memverbalkan apa yang kenza lakukan.

“Kenza sedang mencoba mengambil kacang dengan menggunakan sedotan ya….wah wah coba kita lihat bagaimana hasilnya?” tukas saya.

Ia pun menatap saya. Tak lama kemudian Ia ambil kacang menggunakan jari munglinya dan memasukan ke mulut.

Saya berkata : “Ooh sekarang Kenza menggunakan jari tangan untuk mengambil kacang, lalu memakannya.”

Kembali Kenza menatap saya.

Tak lama kemudian Ia memegang sendok dan memasukannya ke dalam toples. Kacangnya diambil menggunakan sendok, lalu disimpan di luar toples. Kemudian Kenza mengambil satu-persatu kacang dengan jari dan di masukan ke mulut. Ia mengulangi hal tadi, namun yang kedua kali ia langsung memasukan sendok beserta kacang ke mulutnya.

Saya berkata lagi, “Alhamdulillah, hari ini Kenza menemukan cara berbeda untuk mengambil dan memakan kacang. Bisa memakai jari, juga bisa memakai sendok.”

Ia pun tersenyum memandang saya.

Saya jadi teringat kisah sang professor, ketika dia meneliti seorang bayi. Sang professor menatap mata sang bayi. Begitupun sebaliknya sang bayi menatap mata sang professor. Maka timbul pertanyaan dalam benaknya. “Apa yang ada di dalam pikiranmu wahai bayi mungil?”

Lalu dalam benak sang bayi pun balik bertanya. “Apa yang ada di dalam pikiranmu wahai Professor?”

Kemudian keduanya saling tersenyum.

Sang professor melihat apa saja yang dilakukan sang bayi, kemudian mencatatnya. Begitu pula sang bayi, dia terus mengamati apa saja yang dilakukan sang profesor. Namun Ia belum bisa mencatat semua yang dilihat. Otaknya menyimpan semua rekaman kejadian yang ia amati. Maka sang profesor pun membuat kesimpulan: setiap bayi merupakan peneliti andal.

Tugas besar orang tua adalah memelihara fitrah ini hingga usia aqil baligh. Agar ketika sang bayi dewasa kelak, tetap menjadi peneliti yang andal. []

loading...
loading...