islampos
Media islam generasi baru

Bakar

Foto: Asa Mulchias
0

Oleh: Asa Mulchias
Penulis

Alif baru 4 (empat) tahun. Dia, ungkap sang ibu, Siti, belum mengerti arti kematian.

Inilah kenapa Siti merasa nyaris tumbang. Karena Alif terus saja menanyakan di mana Joya, ayahnya. Padahal, Joya telah tiada. Tewas dibakar warga karena dituduh mencuri ampli musala.

Kala Magrib datang, Alif bertanya kenapa ayahnya tidak shalat. Lalu dia berlari, bolak-balik ke musala, bertanya pada jamaah di sana.

“Kok Abi nggak auloh akbar,” ucap Alif.

Saat diberi tahu ayahnya meninggal karena dibakar, Alif berkomentar, “Abi kok dibakar, emang ayam?”

Ucapan itu diulang-ulang.

Membuat hati Siti makin hancur. Air mata menetes terus.

Ada banyak pihak yang meyakinkan bahwa Joya tidak mencuri. Kalaupun iya, ia tidak boleh dibakar. Ini betul-betul bertentangan dengan pesan Rasulullah.

Tidak boleh menyiksa makhluk dengan api.

Hanya Allah yang berhak menghukum dengan api.

Bukan sesama manusia.

Betul bila dikatakan akhlak adalah PR besar bangsa ini. Tapi, wawasan keIslaman juga tidak kalah penting.

Sayangnya, kurikulum pengetahuan Islam hanya mentok di bab thaharah dan ibadah-ibadah. Diulang-ulang di SD, SMP, sampai SMA. Bahkan ada juga yang sampai bangku kuliah.

Kerdil betul wawasan orang-orang yang membakar itu.

Lebih kerdil lagi jiwanya. Yang seenaknya membunuh tanpa melihat dulu apa masalahnya.[]

loading...
loading...