ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

“Bagaimana Cara Memperbaiki Diri, Wahai Abu Hazim?”

Foto: Inspiradata.
0

“DIMANAKAH letak rahmat Allah SWT?” sang khalifah, Amirul Mukminin, bertanya kepada Abu Hazim al-A’raj.

“Sesungguhnya, rahmat Allah itu dekat sekali dengan mereka yang berbuat kebajikan,” jawab Salamah sembari membacakan ayat Alquran.

Khalifah bertanya lagi, “Lalu, bagaimana kita menghadap kepada Allah kelak, wahai Abu Hazim?”

“Orang-orang yang baik akan kembali kepada Allah seperti perantau yang kembali kepada keluarganya, sedangkan yang jahat akan datang seperti budak yang curang atau lari, lalu diseret kepada majikannya dengan keras,” jawab Salamah.

Khalifah menangis mendengarnya sampai keluar isaknya, kemudian berkata, “Wahai Abu Hazim, bagaimana cara memperbaiki diri?”

“Dengan meninggalkan kesombongan dan berhias dengan muru’ah (menjaga kehormatan),” tutur Salamah.

“Bagaimana cara memanfaatkan harta benda agar ada nilai takwa kepada Allah SWT?” Sulaiman kembali bertanya.

“Bila Anda mengambilnya dengan cara yang benar dan meletakkan di tempat yang benar pula, lalu Anda membaginya dengan merata dan berlaku adil terhadap rakyat,” tutur Salamah.

“Wahai Abu Hazim, jelaskan kepadaku, siapakah manusia yang paling mulia itu?”

“Yaitu, orang-orang yang menjaga muru’ah dan bertakwa,” ungkap Salamah.

“Lalu, perkataan apa yang paling besar manfaatnya?”

“Perkataan yang benar, yang diucapkan di hadapan orang yang ditakuti dan diharap bantuannya,” kata Salamah.

Khalifah bertanya, “Wahai Abu Hazim, doa manakah yang paling mustajab?”

“Doanya orang-orang baik untuk orang-orang baik,” jawab Salamah.

“Sedekah manakah yang paling utama?”

Salamah menjawab, “Sedekah dari orang yang kekurangan kepada orang yang memerlukan tanpa menggerutu dan kata-kata yang menyakitkan.”

“Wahai Abu Hazim, siapakah orang yang paling dermawan dan terhormat?”

“Orang yang menemukan ketaatan kepada Allah SWT lalu diamalkan dan diajarkan kepada orang lain,” tutur Salamah.

“Siapakah orang yang paling dungu?”

Salamah berkata, “Orang yang terpengaruh oleh hawa nafsu kawannya, padahal kawannya tersebut orang yang zalim. Maka, pada hakikatnya dia menjual akhiratnya untuk kepentingan dunia orang lain.”[]

Sumber:Republika.co.id

loading...
loading...