• Home
  • Disclaimer
  • Iklan
  • Redaksi
  • Donasi
  • Copyright
Selasa, 16 Desember 2025
Islampos
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
Tidak ada Hasil
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
Tidak ada Hasil
View All Result
Tidak ada Hasil
View All Result
Islampos
Home Fiksi

Bagaimana Aku Bisa Membayangkan Wanita Lain?

Oleh Saad Saefullah
8 tahun lalu
in Fiksi
Waktu Baca: 4 menit baca
A A
0
Foto: Pinterest

Foto: Pinterest

1.4k
BAGIKAN

Oleh : Rini Nurmala Sari

PAGI belum menguning, seperti biasanya kegiatan di rumah mungil itu sudah berlangsung. Atikah kecil masih pulas di pulau kapuknya, sedang sang ibu sudah berjibaku dengan tugas rumah tangga.

Kain sudah diputar di mesin cuci, ruang tamu dan keluarga telah tertata rapi. Kini Aisyah tengah sibuk menyiapkan sarapan, sembari mendengarkan murottal di televisi. Sesekali bibirnya ikut melantunkan ayat suci Al-Qur’an, meski berpeluh ia tetap merasa senang dengan kesehariannya.

“Pagi Abi, pagi my little princes!” sapanya, menyambut sang suami dan si buah hati. Senyum mengembang di wajahnya.

ArtikelTerkait

Tapi Ini Tanah Kami, Meski Duka dan Mati Tertanam di Sini

Hidup Itu Seperti UAP… Puisi Terakhir WS Rendra

Suamiku Mantan Majikanku

Gadis Cantik Sebagai Anugerah Tuhan

Begitulah cara sederhana seorang Aisyah berbakti pada suaminya. Menyajikan makanan yang diracik dengan bumbu cinta, juga segelas teh yang diseduh sepenuh hati.

Aisyah selalu berusaha cekatan, setiap kali suaminya hendak menyantap sarapan, perempuan berkulit sawo matang itu mengambil Atikah dari suaminya. Dengan segera ia memandikan si kecil dan memakaikan pakaian yang cantik untuknya. Setelahnya ia pun menemani sang suami di meja makan.

“Nasi goreng Umi enak.” Seru Fahri di sela mengunyah makanan. Pipi Aisyah memerah seketika, ia merasa bahagia dengan pujian suaminya. Padahal ia hanya memasak dengan resep biasa. Pikirnya. Mungkin cinta yang menjadikannya luar biasa. Hihihi … Aisyah terkikik dalam hati.

“Alhamdulillah, kalau begitu dihabiskan ya, Abi …”

Fahri mengangguk, “Dengan senang hati.” Sahutnya. Aisyah tertawa geli melihat tingkah suaminya.

Pernikahan mereka baru berjalan dua tahun. Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di halte bus kala itu. Fahri jatuh hati pada Aisah yang berpenampilan syar’i. tidak sedikit pun dari auratnya yang tak tertutup. Bahkan wajahnya. Dengan sengaja melupakan tujuannya semula, Fahri mengikuti ke mana gadis itu melangkah, hingga tahulah ia di mana Aisyah bertempat tinggal.

Tanpa menunggu lama, Fahri nekad datang untuk menanyakan status Aisyah. Perempuan yang menggetarkan hatinya. Saat tahu Aisyah belum menikah, dengan segera ia menyampaikan lamaran kepada orang tuanya.

Keluarga Fahri sempat kaget dan hendak menentang, namun lelaki itu berhasil meyakinkan. “Bagaimana pun dia aslinya, biar itu menjadi urusan saya. Karena nanti dia adalah istri saya.”

Fahri benar-benar yakin atas pilihannya. Perempuan bercadar itu pasti akan membuatnya bahagia. Bismillah … ucapnya sebelum memantapkan keputusan.

Aisyah yang tercatat sebagai mahasantri, juga menyambi sebagai pendidik di salah satu yayasan islam itu tak merasa berat meninggalkan segala rutinitasnya setelah menikah. Menemukan pendamping yang shalih merupakan anugerah, dan berbakti pada sang suami adalah langkah menuju jalan-jalan Surga.

“Aku ikhlas, Mas. Bila memang Mas mau aku meninggalkan studi-ku juga tugasku sebagai pengajar. Insya Allah, aku akan sepenuhnya berbakti padamu. Ridho Allah, ada pada keridhoanmu.” Lirihnya. Aisyah mengecup punggung tangan Fahri untuk pertama kalinya.

Fahri menahan debaran di dadanya yang begitu hebat. Saat tangannya perlahan melepas ikatan cadar istrinya.

“Subhanallah …”

Lelaki itu terhenyak melihat wajah sang istri yang tak lagi tertutupi.

Aisyah tersenyum, ia pun rupanya menahan debaran yang tak kalah hebatnya.

Sesaat mereka berpandangan, sebelum kemudian Fahri mengecup keningnya untuk pertama kali dan memeluknya.

“Kita sudah menikah, setelah ini apa kamu bersedia untuk selalu memakai cadar itu?” tanya Fahri suatu malam.

“Tentu, Mas. Aku bersedia.” Sahut Aisyah mantap.

“Boleh aku tahu alasannya apa?”

Aisyah menatap suaminya, lagi-lagi dada mereka sama bergetar hebat saat berpandangan.

“Sebelum menikah, aku mengenakannya karena ingin bertakwa pada Allah. Setelah menikah, aku akan tetap mengenakannya karena aku ingin bertakwa pada-Nya dan berbakti padamu.”

Fahri takjub. Darahnya mendesir seketika. Indah sekali penuturan Aisyah di telinganya. Kini ia merasa telah menjadi lelaki yang paling kaya. Karena telah memiliki seindah-indahnya perhiasan dunia, yaitu istri shaliha.

Dunia lelaki tidak sama dengan dunia perempuan. Saat tidak di rumah, ada begitu banyak godaan yang bisa menggoyahkan iman. Godaan terparah adalah bertebarannya perempuan-perempuan cantik yang berpakain minim dan berpenampilan mencolok di mana-mana. Seharian di luar rumah merupakan ujian terberat bagi seorang suami.

Miskinnya iman dan takwa pada Sang Pencipta, bisa memudahkan seorang lelaki untuk menghibur dirinya dengan perempuan-perempuan di luaran. ‘kan istriku di rumah, tidak tahu juga dia. Ah, mumpung ada yang cantik, lumayanlah! Begitulah mungkin isi pikiran lelaki yang tak tahan akan fitnah wanita di luar rumah.

Begitu pula dengan Fahri, ia pun lelaki normal yang tentu memiliki syahwat bila suatu ketika melihat wanita cantik di tempat kerjanya. Namun Fahri berupaya keras dengan senantiasa merapal zikir untuk menjaga dirinya. Ia akan selalu mengingat Aisyah dan putrinya bila terpojok pada keadaan yang memungkinkan untuk khilaf.

“Allahuma anjirna min fitnatin nissa …*” batin Fahri.

Konsekuensi bekerja di sebuah perkantoran tentu tak sedikit. Mulai dari bergaul dengan karyawan wanita, atau memiliki rekan seprofesi yang gila wanita. Sungguh, ia ingin mencari pekerjaan di tempat lain atau membuka usaha sendiri demi membatasi interaksi dengan wanita-wanita itu. Lirihnya.

“Fahri, ada karyawan baru lho. Masih single, cakep banget.” Seru salah satu rekan kerjanya.

“Enak aja, itu bagian gue tahu!” celetuk yang lainnya.

Fahri hanya mampu memperbanyak istighfar dalam hati. Reaksinya hanya diam dengan sesabit senyuman. Tangan dan pikirannya tetap fokus pada pekerjaan.

Ketika masih melajang, menundukkan pandangan adalah hal yang cukup sulit bagi seorang lelaki. Apalagi hampir setiap saat bertemu dengan wanita cantik dan seksi. Setelah menikah rupanya hal itu menjadi lebih sulit lagi. Karena lelaki tentunya memiliki cela untuk membandingkan kecantikan istrinya dengan wanita di luar sana. Sedapat mungkin Fahri tidak menatap wanita itu secara langsung dan berlama-lama. Ia hanya akan memandang jika keadaan mendesak. Dengan selalu meminta perlindungan pada Allah.

Terkadang, ia merasa bersalah terhadap Aisyah. Fahri akan selalu menyesali dirinya yang tak mampu setakwa sang istri dalam menjaga diri dan pandangan.

Pernikahan memang suatu jalan yang indah menuju Surga. Namun, bagi seorang suami ada banyak sekali hal yang memungkinkannya untuk terpeleset ke jalan Neraka. Maka beruntunglah bagi suami-suami yang mampu bertakwa dalam menjaga pernikahannya.

***

“Mengurus anak lumayan repot ya, Mi?”

Aisyah tersenyum, “Ya repotlah, Bi.”

“Ummi capek ya? Apa Ummi butuh seorang pembantu?” Fahri menatap istrinya yang tengah menidurkan Atikah.

“Enggak, Bi. Insya Allah, Ummi sanggup mengerjakan semuanya sendiri.”

“Tapi kasihan Ummi.” Sela Fahri khawatir.

Aisyah bangkit dan melangkah mendekati Fahri.

“Rumah adalah ladang pahala bagi seorang istri. Bagaimana mungkin Ummi menyerahkannya pada pembantu?” Aisyah menggelayut di lengan suaminya.

Fahri tersenyum. Ah, bagaimana mungkin aku sanggup bersenang-senang di luar sana dengan memandang wanita lain? Sementara istriku selalu menanggung lelah dan repotnya mengurus rumah dan anakku? Sungguh zalimnya aku bila sampai melakukan itu. Lirihnya membatin. Fahri memeluk Aisyah. Dari ambang pintu mereka menatap Atikah yang sudah pulas dengan memeluk boneka kesayangannya. []

*Ya Allah selamatkan kami dari fitnah perempuan.

Profil penulis : Rini Nurmala Sari, penulis pemula yang berdomisili di Kandis, Riau. hoby menulis cerpen-cerpen bernuansa islami dan berharap tulisannya bisa menginspirasi dan memberi manfaat bagi para pembaca. Dapat dihubungi di akun Facebook : Rini Nurmala Sari atau kontak di nomor 0812 7545 3055. Juga bisa melalui Email : rininurmalasari@yahoo.co.id

Tags: cerpenfiksiPoligami
Share1388SendShareTweetShareScan
ADVERTISEMENT
Previous Post

Bentengi Diri dari Kemaksiatan yang Dianggap ‘Halal’

Next Post

Usia Berapa Anak Harus Masuk Sekolah?

Saad Saefullah

Saad Saefullah

Lelaki. Tidak terkenal. Menyukai kisah-kisah Nabi dan Para Sahabat.

Terkait Posts

Palestina, Semangka, tanah, Pelajaran dari Gaza, Palestina, Palestina

Tapi Ini Tanah Kami, Meski Duka dan Mati Tertanam di Sini

6 November 2023
Hadits tentang Sabar, Konsultasi Kesehatan, Puisi Terakhir WS Rendra

Hidup Itu Seperti UAP… Puisi Terakhir WS Rendra

10 Oktober 2023
KDRT, Balasan bagi Orang yang Suka Memaki dan Menyakiti Orang Lain, Suamiku

Suamiku Mantan Majikanku

17 Agustus 2023
cantik, Rukun Islam, Amal Penghapus Dosa

Gadis Cantik Sebagai Anugerah Tuhan

9 Maret 2023
Please login to join discussion

Tulisan Terbaru

Melakukan Perubahan, sifat jujur, orang yang meninggalkan shalat, istidraj, FITNAH, SYAHWAT, maksiat, bunuh diri, dosa, maksiat, taubat

5 Alasan Jangan Mengungkit Dosa Masa Lalu Seseorang yang Sudah Bertaubat

Oleh Yudi
14 Juli 2025
0

agar tidak mengulangi dosa, mengganti shalat wajib, dosa jariyah, mandi, dosa, shalat

Jangan Tinggalkan Shalat Meski Badan Kotor saat Kerja, Tidak Semua Kotor Itu Najis

Oleh Yudi
14 Juli 2025
0

Senin

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

Oleh Dini Koswarini
14 Juli 2025
0

Cerai, Sebab Zina Dilarang dalam Islam, zina, Penyebab Lelaki Selingkuh, Talak

Talak: Halal yang Dibenci, Senjata Iblis untuk Memecah Belah

Oleh Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Laporan Donasi Islampos Juli 2025: Alhamdulillah, Sudah Terkumpul Rp2.390.999! 1

Laporan Donasi Islampos Juli 2025: Alhamdulillah, Sudah Terkumpul Rp2.390.999!

Oleh Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Terpopuler

MasyaAllah, Inilah 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan beserta Artinya

Oleh Haura Nurbani
24 Agustus 2023
0
Hukum Mengubur Ari-ari Bayi, Fakta Bayi Baru Lahir, ASI, ciri bayi cerdas, nama, Nama Anak Perempuan, Hukum Bayi Tabung dalam Islam, Doa ketika Melahirkan

Nama Sahabiyat adalah nama wanita-wanita agung yang dikaitkan dengan Nabi Muhammad dalam menyebarkan Islam bersamanya.

Lihat LebihDetails

21 Sifat Manusia Menurut Al Quran

Oleh Laras Setiani
17 Oktober 2019
0
ilustrasi.foto: kiblat

Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya...

Lihat LebihDetails

12 Ayat Al-Quran tentang Istiqamah, Dapat Memotivasi Kita

Oleh Sufyan Jawas
31 Oktober 2021
0
Hadist Nabi Tentang Ikhlas

ayat Al-Quran Tentang Istiqamah

Lihat LebihDetails

Khutbah Jumat – Bahaya Tasyabuh dengan Tradisi Non-Muslim

Oleh Sodikin
27 Desember 2019
0
Ilustrasi. Foto: Tribun

Dengan pengetahuan kita tentang bahaya Tasyabbuh, akan menyadarkan kita pentingnya membangun rasa percaya diri sebagi seorang muslim

Lihat LebihDetails

Jawab 20 Pertanyaan tentang Islam Ini, dari yang Paling Mudah sampai yang Agak Sulit

Oleh Dini Koswarini
2 Mei 2025
0
Teka Teki Fiqih, Pertanyaan, Pertanyaan tentang Islam

Berikut 20 soal pilihan ganda bertema Islami, disusun dari tingkat mudah hingga sulit, lengkap dengan jawabannya,

Lihat LebihDetails
Facebook Twitter Youtube Pinterest Telegram

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.

Tidak ada Hasil
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.