ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Ayah Tinggallah di Rumah, Biarkan Aku yang Berperang

Foto: Shutterstock
0

PADA 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriah. Kaum muslimin tengah melaksanakan ibadah puasa. Hari-hari itu, Madinah tengah diliputi ketegangan juga. Bagaimana tidak? Rasulullah baru saja mengumumkan kaum Muslimin untuk berperang. Perang Badar. Badar adalah nama sumur yang terletak 120 kilometer di barat daya Madinah. Dalam perang ini, jumlah pasukan musyrikin adalah 920 orang, sementara pasukan muslim hanya sebanyak 313 dengan senjata dan fasilitas yang sangat terbatas.

Ketika Rasulullah SAW memanggil kaum Muslimin yang mampu berperang untuk terjun ke gelanggang perang Badar, terjadi dialog menarik antara Saad bin Khaitsamah dengan ayahnya yakni Khaitsamah.

Dalam masa-masa itu, panggilan perang memang tidak terlalu mengherankan. Kaum Muslimin sudah tidak merasa aneh atau gentar lagi bila dipanggil untuk membela agama Allah dan jihad fisabilillah. Sebab itu Saad berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, aku akan keluar untuk berperang dan kau tinggal di rumah menjaga wanita dan anak-anak.”

Memang di rumah itu hanya ada dua orang lelaki saja. Saad dan Khaitsamah. Seperti diketahui, semua lelaki dewasa tanpa udzur diwajibkan berperang. Lagipula, di dada setiap muslim ketika itu bergelora untuk selalu membela panji-panji Muslim. Maka tidak heran, ketika mendengar perintah ayahnya sedemikian rupa, Saad langsung menjawab,”Wahai ayahku, demi Allah janganlah berbuat seperti itu. Karena keinginanku untuk memerangi mereka lebih besar daripada keinginanmu. Engkau telah tua dan tidak lagi diwajibkan berperang. Malah harus tinggal di rumah. Maka izinkanlah aku keluar dan tinggallah engkau di sini, wahai ayahku.”

Khaitsamah marah dan berkata kepada anaknya, “Kau membangkang dan tidak menaati perintahku!”

Saad tertunduk. Dalam hatinya tidak sama sekali ia ingin membantah ayahnya dalam urusan apapun. Maka ia pun menjawab, “Allah mewajibkan aku berjihad dan Rasulullah memanggilku untuk berangkat berperang. Sedangkan engkau meminta sesuatu yang lain padaku, sehingga bagaimana engkau rela melihat aku taat padamu tetapi aku menentang Allah dan Rasulullah.”

Khaitsamah sekarang yang merenung. Ia berpikir keras. Jika keduanya berangkat berperang, maka siapa yang akan menjaga keluarga mereka?  “Wahai anakku,” ujarnya. “Apabila antara kita harus ada yang berangkat satu orang baik—kau ataupun aku, maka dahulukan aku untuk berangkat.”

“Demi Allah wahai ayahku, kalau bukan masalah surga, maka aku akan mendahulukanmu untuk ikut berperang,” jawab Saad.

Tampaknya kedua lelaki itu tidak bisa menemukan pemecahan permasalahan itu. Mereka tampaknya tidak rela jika harus tinggal di rumah. Akhirnya setelah disetujui diputuskanlah melalui undian antara ayah dan anak itu sehingga terasa lebih adil.

Ternyata, hasil undian menunjukkan bahawa Saad lah yang harus turun ke medan perang. Dia pun turun ke medan Badar. Tetapi belum lama, ia ternyata mati syahid. Setelah Saad syahid, ternyata Khaitsamah memutuskan untuk berangkat menuju medan pertempuran.

Ketika hal itu diketahui oleh Rasulullah, Rasulullah tidak mengizinkannya. Hanya saja Rasulullah akhirnya mengizinkannya setelah Khaitsamah berkata sambil menangis, “Wahai Rasulullah, aku ingin sekali terjun dalam Perang Badar. Lantaran inginnya aku harus mengadakan undian dengan anakku. Tetapi itu dimenangkannya sehingga dia yang mendapat mati syahid. Kemarin aku bermimpi dan di dalamnya anakku itu berkata kepadaku, ‘Engkau harus menemani kami di syurga, dan aku telah menerima janji Allah.’ Wahai Rasulullah, demi Allah aku rindu untuk menemaninya di syurga. Usiaku telah lanjut dan aku ingin berjumpa dengan Tuhanku.”

Setelah mendengar hal itu, akhirnya Rasulullah pun mengizinkannya. Khaitsamah bertempur hingga mati syahid dan berjumpa dengan anaknya di syurga.

Kedua anak beranak itu telah menunjukkan kepada dunia bahwa ketika menjalani ibadah puasa pun mereka tetap menjalani aktivitas bahkan berperang. []

loading...
loading...