Antara Erdogan, Turki dan Kepemimpinan

Foto: Arrahmah.com
0 134

AKU mau ngomongin Turki juga ah gatel jari ingin ngetik karena aku pernah ke sana tahun lalu.

Turki negerinya indah dan eksotik juga luas di tata dan di kelola dengan baik. Waktu pertama kali diajak aku sedikit enggan, kupikir negara terbelakang, tapi kemudian aku senang banget, cantik banget. Kabarnya Syria lebih cantik lagi (Syria dan Turki tuh sebelahan negerinya kayak Malaysia Singapura bisa jalan kaki/naik bus).

Tapi Syiria keburu di hancurkan oleh banyak pihak lucu aja lihatnya, negeri kecil gitu di serang rame-rame sama negara raksasa karena kabarnya ada Isis. Jadi Isis itu gede banget yaa – sampai sekarang gak habis-habis walau udah banyak yang datang buat ngabisin dan hancurin.

 

Kembali ke masalah Turki, yaa keren banget negeri itu perpaduan antara Barat dan Timur. Perempuannya juga cantik-cantik menurut aku dan teman-teman saat berkunjung ke Turki perempuannya lebih cantik dari orang Arab karena mereka tuh half (biasanya kalau blend cantiknya exotic). Sampai ada teman yang bilang, kasir tokonya aja bintang film, kucingnya aja anggora plus didukung alam yang sangat indah jadi perfecto deh.

Aku juga lihat sendiri, nasionalismenya tinggi banget bendera dimana-mana dan dikibarkan walau bukan Independece day. Pride mereka sebagai bangsa Turki juga tinggi banget, dikit-dikit mereka bilang, ini khas Turkye, kalau kami orang Turkye, kalau Turki itu… (pede banget).

Dulu kan Turki pernah besar dan sisa-sisa kejayaannya masih jelas – bahkan Erdogan punya cita-cita ; ditempat kehancuran itulah akan terjadi kebangkitan.

Emang pemimpin musti punya cita-cita, punya visi dan mengajak rakyatnya/bawahannya membangun visi bersama.

Turki sekarang termasuk negara terkaya di Europa, dulu rank 111, sekarang masuk G 20, ketika Uni Europe melemah disusul keluarnya British.

Bahkan IMF pinjam uang 5 miliard dollars US ke Turkye, disaat Indonesia sibuk balikin hutang ke IMF. Lalu pencapaian ekonomi tuh meningkat 5 kali lipat. Kemudian di kala Universitas di Europe mulai memberlakukan bayaran pada studentnya, Turki membebaskan semuanya dari TK sampai Universitas ditanggung pemerintah.

Jadi gak heran, Erdogan cukup dicintai rakyatnya. Pemimpin itu harus berbuat dulu, baru ngetop di medsos, beda dengan proses pemilihan pemimpin di Indonesia, dibuat ngetop dulu via medsos baru merencanakan akan berbuat, ketika akhirnya jadi pemimpin itu juga belum kerasa ke rakyat, sehingga belum cukup cinta.

Yang ada sekarang adalah para pemimpin yang akan dipilih sibuk mensejahterakan rakyat dalam waktu sementara saja -dengan sembako, kaus dan lain-lain-. Saat masa pra pemilihan sikapnya ramah dan melayani, banyak senyum dan “menjanjikan” serta bersikap seolah-olah akan menjadi pemimpin yang mencintai dan melayani, ketika sudah terpilih, tiba-tiba berubah sikapnya menjadi pemimpin yang acuh tak acuh. Jadi ya wajar kalau rakyat kurang cinta bahkan gak cinta sama sekali.

Bagaimana mungkin kita saling mencintai kalau tidak ada interaksi (at least bicarakan visi negeri ini bersama sebarkan mimpi dan cita cita negeri, kayak dulu kan Suharto menjelaskan program REPELITA I, II dam seterusnya nya kayak apa dan gimana) jadi rakyat tahu negeri ini mau di bawa ke mana gitu.

Aisyah r.a. Berkata : Rasulullah SAWbersabda : “Jika Allah menghendaki kebaikan terhadap seorang raja, maka diberinya seorang menteri yang jujur, jika lupa diingatkan, dan jika ingat dibantu. Dan jika Allah menghendaki sebaliknya dari itu, maka Allah memberi padanya, menteri yang tidak jujur, hingga jika lupa tidak diingatkan dan jika ingat tidak dibantu,” (Abu Dawud).

Ya lain pemimpin, lain style dan tentu saja lain hasil, yang salah bukan pemimpinnya yang salah yang memilih…he hee he.

Jadi kalau Erdogan nanti terpilih lagi, gak heran, karena hasilnya nampak dan bukan rekayasa. Bukan membangun project mercusuar tapi dari gundukan hutang yang akan jadi bom yang harus ditanggung anak cucu kita. []

loading...
loading...