• Home
  • Disclaimer
  • Iklan
  • Redaksi
  • Donasi
  • Copyright
Kamis, 11 Desember 2025
Islampos
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
Tidak ada Hasil
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
Tidak ada Hasil
View All Result
Tidak ada Hasil
View All Result
Islampos
Home Ibrah

Anak, Si Peniru

Oleh Aldi Rahadian
7 tahun lalu
in Ibrah
Waktu Baca: 2 menit baca
A A
0
hal yang mesti diperhatikan orang tua , tips bagi orang tua, mahram muabbad

Ilustrasi. Foto: Shutterstock

1
BAGIKAN

DI sebuah sekolah diadakan pementasan drama. Pentas drama meriah itu dimainkan oleh siswa-siswi. Setiap anak mendapat peran dan memakai kostum sesuai dengan tokoh yang diperankannya. Semuanya tampak serius, sebab Pak Guru akan memberikan hadiah kepada anak yang tampil terbaik dalam pentas. Sementara di depan panggung semua orang tua murid hadir menyemarakkan acara itu.

Lakon drama berjalan sempurna. Semua anak tampil maksimal. Ada yang berperan sebagai petani lengkap dengan cangkul dan topinya, ada juga yang menjadi nelayan dengan jala disampirkan di bahu. Di sudut sana tampak pula seorang anak dengan raut muka ketus, sebab kebagian peran pak tua yang pemarah. Sementara di sudut lain terlihat anak dengan wajah sedih layaknya si pemurung yang selalu menangis. Tepuk tangan para orangtua dan guru kerap terdengar.

BACA JUGA: Mengajarkan Dua Kalimat Syahadat kepada Anak

Tibalah kini akhir pementasan. Saatnya Pak Guru mengumumkan siapa yang berhak mendapat hadiah. Setiap anak berdebar-debar. Berharap terpilih menjadi pemain drama terbaik. Mereka komat-kamit berdoa supaya Pak Guru menyebutkan nama mereka dan mengundang ke atas panggung untuk menerima hadiah. Para orangtua pun ikut berdoa, berharap anak mereka menjadi yang terbaik.

ArtikelTerkait

Sapu Cinta dari Sultan Abdul Hamid II

Istighfar dan Para Ulama Salaf

Kunci Menjadi Kaya: Sedekah dan Keberkahan harta

Sunnah Keluar Rumah, oleh: Ustadz Dr. Khalid Basalamah, Lc., MA.

Pak Guru naik panggung. Ia menyebutkan sebuah nama. Ahha… ternyata anak yang menjadi pak tua pemarah lah yang menjadi juara. Dengan wajah berbinar, sang anak bersorak gembira. “Aku menang…,” begitu teriaknya. Ia pun bergegas naik panggung diiringi kedua orang tuanya yang tampak bangga. Tepuk tangan terdengar lagi. Orang tua anak itu menatap sekeliling, menatap ke seluruh hadirin. Mereka bangga.

Pak Guru menyambut mereka. Sebelum menyerahkan hadiah, ia bertanya, “Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas mendapatkannya. Peranmu sebagai seorang pemarah terlihat bagus sekali. Apa rahasianya sehingga kamu bisa tampil sebaik itu? Kamu pasti rajin mengikuti latihan. Coba kamu ceritakan kepada kami semua, apa yang bisa membuat kamu seperti ini.”

Sang anak menjawab, “Terima kasih atas hadiahnya, Pak. Dan sebenarnya saya harus berterima kasih kepada ayah saya. Karena, dari Ayah lah saya belajar berteriak dan menjadi pemarah. Kepada Ayah lah saya meniru perilaku ini. Ayah sering berteriak kepada saya, maka bukan hal yang sulit untuk menjadi pemarah seperti ayah.” Tampak sang Ayah yang mulai tercenung. Sang anak melanjutkan, “Ayah membesarkan saya dengan cara seperti itu. Jadi, peran ini adalah sangat mudah buat saya.”

Senyap. Usai bibir anak itu terkatup keadaan tambah senyap. Begitupun kedua orang tua anak itu. Mereka tertunduk. Jika sebelumnnya mereka merasa bangga, kini keadaannya berubah. Mereka berdiri bagai terdakwa di muka pengadilan. Mereka belajar sesuatu hari ini. Ada yang perlu diluruskan dalam perilaku mereka.

Teman, anak adalah duplikat orang di sekitarnya. Setiap anak peniru. Mereka belajar sesuatu dengan menjadikan kita sebagai contoh. Karena itu, mereka juga cermin bagi kita. Tempat kita berkaca semua hal yang kita lakukan. Mereka laksana air telaga yang merefleksikan bayangan saat kita menatap dalam hamparan perilaku yang mereka perbuat.

Dan, cermin itu meniru pada semua hal, baik-buruk, terpuji-tercela. Jadi, cermin itu pancaran sejati setiap benda di depannya. Kita tentu tak bisa memecahkan cermin atau mengoyak ketenangan telaga itu saat melihat gambaran buruk. Sebab, bukankah itu sama artinya dengan menuding diri sendiri?

Teman, peran apakah yang sedang kita ajarkan kepada anak-anak kita saat ini? Si pemarah atau si welas asih?

BACA JUGA: Ini 5 ‘Cara Nabi’ untuk Lindungi Anak-Anak dari Aneka Kejahatan

Semoga kita bisa menjadi orang yang sabar saat melihat seorang anak memecahkan piring yang mereka pegang. Sebab, mereka baru “belajar” memegang piring itu 5 tahun, sedang kita 20 tahun. Tentu mereka butuh waktu seperti juga kita ketika masih kecil seperti mereka.[]

Tags: AnakNasihat
ShareSendShareTweetShareScan
ADVERTISEMENT
Previous Post

Senyum Mahal

Next Post

Samudera Kebaikan Rasulullah

Aldi Rahadian

Aldi Rahadian

Terkait Posts

Sultan Abdul Hamid II

Sapu Cinta dari Sultan Abdul Hamid II

7 Juli 2025
Imam Syafi'i, Ulama, Madzhab, Istighfar

Istighfar dan Para Ulama Salaf

5 Juli 2025
Rezeki, Jalan Rezeki, pencuri, Uang Haram, Sedekah

Kunci Menjadi Kaya: Sedekah dan Keberkahan harta

4 Juli 2025
Pahala, Sunnah Keluar Rumah

Sunnah Keluar Rumah, oleh: Ustadz Dr. Khalid Basalamah, Lc., MA.

21 Juni 2025
Please login to join discussion

Tulisan Terbaru

Melakukan Perubahan, sifat jujur, orang yang meninggalkan shalat, istidraj, FITNAH, SYAHWAT, maksiat, bunuh diri, dosa, maksiat, taubat

5 Alasan Jangan Mengungkit Dosa Masa Lalu Seseorang yang Sudah Bertaubat

Oleh Yudi
14 Juli 2025
0

agar tidak mengulangi dosa, mengganti shalat wajib, dosa jariyah, mandi, dosa, shalat

Jangan Tinggalkan Shalat Meski Badan Kotor saat Kerja, Tidak Semua Kotor Itu Najis

Oleh Yudi
14 Juli 2025
0

Senin

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

Oleh Dini Koswarini
14 Juli 2025
0

Cerai, Sebab Zina Dilarang dalam Islam, zina, Penyebab Lelaki Selingkuh, Talak

Talak: Halal yang Dibenci, Senjata Iblis untuk Memecah Belah

Oleh Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Laporan Donasi Islampos Juli 2025: Alhamdulillah, Sudah Terkumpul Rp2.390.999! 1

Laporan Donasi Islampos Juli 2025: Alhamdulillah, Sudah Terkumpul Rp2.390.999!

Oleh Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Terpopuler

25 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan di Tempat Kerja

Oleh Dini Koswarini
13 Mei 2025
0
Cara Pengembangan Diri, Zakat Online, Tips Agar Nggak Ngantuk di Siang Hari, keutamaan syukur, Cara Jaga Hati yang Sehat, Syarat Bekerja dalam Islam, Tempat Kerja

Apa saja hal-hal yang tampaknya sepele, tapi sebenarnya berdampak besar jika dilakukan di tempat kerja?

Lihat LebihDetails

Berikut 7 Hadist tentang Muamalah

Oleh Sufyan Jawas
25 Oktober 2021
0
Hadist tentang muamalah

Dikutip dari halaman Swm, berikut hadist-hadist tentang muamalah.

Lihat LebihDetails

Jangan Penuhi Hidupmu dengan Keluhan

Oleh Haura Nurbani
7 Juli 2025
0
Keluhan

Jangan jadikan keluhan sebagai bahasa utama dalam hidupmu.

Lihat LebihDetails

85 Motto Hidup dari Kutipan Ayat Alquran

Oleh Eneng Susanti
17 Januari 2023
0
motto hidup ayat Alquran, cara menjadikan Al-Qur'an sebagai penyembuh

SAHABAT mulia Islampos, ada banyak pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik dari Alquran. Banyak pula kutipan ayat Alquran yang bisa...

Lihat LebihDetails

MasyaAllah, Inilah 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan beserta Artinya

Oleh Haura Nurbani
24 Agustus 2023
0
Hukum Mengubur Ari-ari Bayi, Fakta Bayi Baru Lahir, ASI, ciri bayi cerdas, nama, Nama Anak Perempuan, Hukum Bayi Tabung dalam Islam, Doa ketika Melahirkan

Nama Sahabiyat adalah nama wanita-wanita agung yang dikaitkan dengan Nabi Muhammad dalam menyebarkan Islam bersamanya.

Lihat LebihDetails
Facebook Twitter Youtube Pinterest Telegram

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.

Tidak ada Hasil
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.