islampos
Media islam generasi baru

Anak-anak Suriah Diserang “Stress Beracun”, Mengapa ?

Seorang anak gadis Suriah, terlihat sedang memegang boneka beruang putihnya, yang selalu menjadi kawan bermain di samping reruntuhan bangunan akibat konflik yang terjadi di Suriah. Foto: BBC
0

SURIAH–Ribuan bahkan jutaan anak-anak di Suriah, saat ini mengalami “Stress Beracun” akibat peperangan yang terjadi telah membuat mereka trauma.

Mereka sudah terbiasa hidup di tengah-tengah konflik, sehingga kejadian yang mengerikan seperti kematian, pembunuhan, kelaparan, dan pengeboman seringkali menjadi tontonannya.

Salah satu organisasi kemanusian Save the Children melaporkan, stresnya anak-anak di Suriah karena perang, sudah menyebabkan meningkatnya perilaku menyakiti diri sendiri, percobaan bunuh diri, dan perilaku emosional di antara anak-anak.

“Kerusakan generasi anak-anak di Suriah, bisa menjadi berbahaya apabila tidak mendapatkan bantuan segera mungkin,” temuan ini didasarkan pada ratusan wawancara di Suriah.

Save the Children berdasarkan hasil risetnya, perang yang telah terjadi di Suriah mulai pada tahun 2011 sampai saat ini telah menewaskan 300 ribu orang.

Penyebab kematian yang terbesar adalah gangguan kesehatan mental, dan kesejahteraan yang menyerang anak-anak di Suriah.

Laporan dari Invisible Wounds mengungkapkan “Krisis kesehatan mental pada anak-anak di Suriah, sangat menakutkan.” seperti dilansir BBC, Selasa (7/3/2017).

Dalam wawancara yang dilakukan Save the Children kepada lebih dari 450 orang warga Suriah, termasuk anak-anak dari berbagai usia, orang tua, pengasuh, pekerja sosial, pekerja bantuan serta guru.

Mereka menemukan, 84 persen orang dewasa mengatakan bahwa hampir semua anak-anak mengalami stress psikologi yang disebabkan oleh pengeboman dan penembakan.

“Dua pertiga dari anak-anak Suriah telah kehilangan orang yang dicintainya, kemudian rumah-rumah yang mereka miliki dibom atau dirampas, ditambah luka yang mereka rasakan akibat diserang.”

Dari 71 persen responden menanggapi, anak-anak semakin banyak menderita penyakit mengompol yang terus menerus akibat ketakutan. “Hal tersebut merupakan gejala gangguan stres pasca-trauma.”

Sementara itu, 48 persen dari orang dewasa mengatakan mereka telah melihat anak-anak yang telah kehilangan kemampuan mereka untuk berbicara atau mulai menderita kesulitan berbicara sejak perang dimulai.

Hampir setengah dari mereka yang diwawancarai mengatakan, saat ini anak-anak selalu memiliki perasaan duka atau kesedihan mendalam.

“Akibat dari konflik perang yang tejadi, 2,3 juta anak memilih untuk melarikan diri dari Suriah. Hanya tiga juta anak di bawah usia enam yang tidak mengetahui apa-apa soal perang,” kata laporan itu.

“Stres perang dapat mengganggu perkembangan otak dan organ lain sehingga meningkatkan risiko kecanduan serta kesehatan mental di usia dewasa,” kata Alexandra Chen, komisi Perlindungan Anak dan Spesialis Kesehatan Mental di Harvard University, Amerika Serikat. []

loading...
loading...