ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Akibat Longsor Ponorogo, Masjid pun Jadi Tempat Belajar Anak-Anak

Foto: Republika
0

PONOROGO–Longsor yang terjadi di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, membuat puluhan siswa SDN Banaran terpaksa memanfaatkan teras Masjid untuk kelas darurat sementara karena sekolah mereka berada pada zona rawan bencana longsor susulan.

Pengalihan tempat kegiatan belajar mengajar itu telah dilakukan sejak Selasa (4/4/2017) berdasarkan instruksi dari UPK Dinas Pendidikan karena bahaya untuk keselamatan siswa beserta guru apabila terjadi bencana longsor susulan.

“Pemindahan kelas untuk pembelajaran siswa ini atas instruksi kepala UPK Dinas Pendidikan Kecamatan Pulung untuk sementara mengosongkan SD dan memindahkan lokasi KBM ke tempat aman, di masjid Ibadus Sholihin, rumah penduduk atau lainnya yang ada di wilayah aman,” kata Sudjarsijo, Guru Penddikan Agama Islam (PAI) SDN Banaran.

Menurut Sudjarsijo, lokasi sekolahnya berada di jalur rawan longsor susulan, hanya berjarak 50 meter dari tempat kejadian longsor sebelumnya yang mengebumikan 35 bangunan rumah dan menewaskan 28 warga sekitar tebing.

Bahkan tim SAR gabungan, saat ini masih melakukan pencarian korban hilang. Sementara itu, potensi longsor susulan masih mungkin terjadi yang mengancam keselamatan penduduk di bawahnya, terutama di jalur patahan yang ada persis di bawah bangunan SD Banaran.

“Sesuai petunjuk dinas, kegiatan belajar-mengajar di kelas darurat masjid Ibadus Sholihin ini akan terus diberlakukan hingga tiga pekan ke depan. Setelah itu akan dievaluasi seiring perkembangan operasi pencarian dan penetapan status darurat bencana di desa ini,” ujarnya.

Puluhan siswa itu berasal dari kelas 1 sampai kelas 6 SD. Meskipun mereka belajar di teras Masjid,
guru SD Banaran tetap kreatif memberikan kesan menyenangkan untuk siswanya lewat permainan yang menghibur dan hasta karya.

“Alhamdulillah hari ini yang masuk sekolah dan ikut pembelajaran semakin banyak. Jika hari pertama Selasa (4/4/2017) ada 30 siswa dan hari ini sudah 50 siswa. Sementara ini kami belum akan memberikan pelajaran berat untuk siswa demi menghindari beban psikologis pada mereka,” ucap Sudjarsijo.

Salah satu siswa yang mengikuti pembelajaran di kelas darurat justru mengaku senang dengan kebijakan sementara sekolahnya, karena lebih banyak menghibur dan berkumpul dengan banyak temannya.

“Ya senang saja kan bisa bermain bersama, berlatih hasta karya, membuat kerajinan origami dan semacamnya, tanpa harus memikirkan pelajaran yang berat-berat,” tutur Cheila, salah satu siswi kelas VI dengan wajah ceria. []

Sumber: Republika

loading...
loading...