islampos
Media islam generasi baru

Akal Bisa Menyeret Manusia ke Neraka?

F: raira megumi
0

MANUSIA diciptaka oleh Allah beda dengan mahluk lainnya, karena ia mempunya akal.
Akal adalah nikmat paling agung setelah nikmat iman. Banyak nash syar’i yang menunjukkan keharusan menggunakan akal untuk bertafakur, dalam rangka untuk mengenal Allah dan mentauhidkan-Nya dengan menunaikan konsekuensinya.

Tidak akan sempurna agama seseorang sampai akalnya sempurna. Akal tanpa agama akan sesat, dan beragama tanpa akal adalah tangga menuju pemahaman yang salah dan perilaku buruk. Dan seringkali itu mencoreng wajah Islam yang murni.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah bila diberitahukan tentang seseorang yang shalih, ia akan bertanya, “Bagaimana akalnya? Agama seorang hamba tidak akan sempurna sama sekali hingga akalnya sempurna.” Apa yang diucapkan al-Hasan al-Bashri rahimahullah bisa kita kembalikan pada firman Allah Azza wa Jalla

“Dan Allah menimpakan adzab kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya,” (Q.S.Yunus :100).

Akal merupakan salah satu karunia di antara karunia Allah yang paling agung. Seseorang yang punya akal sehat akan bisa mengambil manfaat dari wejangan dan petunjuk al-Quran. Allah berfirman:

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada,” (Q.S al-Hajj :46).

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya,”(Q.S Qaf :37).

Hati di sini maksudnya adalah akal.

Akal yang dipuji dalam syariat, adalah akal yang memahami tentang Allah dan Rasul-Nya. Akal yang membentengi pemiliknya dari segala yang hina serta mendorongnya untuk taat dan berperilaku mulia. Inilah tipe dan corak akal seorang Mukmin. Sedangkan kaum kafir, mereka tidak memahami hakikat akal yang dipuji syariat. Barulah di akhirat mereka akan sadar namun tiada guna sehingga mereka pun mengatakan seperti dalam firman-Nya:

“Dan mereka berkata sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala,” (Al-Mulk :10).

Seorang alim Mekkah, Atha’ bin Rabah rahimahullah ditanya tentang karunia Allah yang paling utama bagi hamba-Nya, ia menjawab, “Memahami tentang Allah”

Memahami tentang Allah, memahami firman-Nya, dan memahami maksud yang diinginkan oleh Allah . Itulah gerbang terbesar kebaikan dunia dan akhirat. Saat itu berarti ia telah mengerti apa maksud tujuan diciptakannya akal.

Sedangkan akal yang berobsesi dunia akan menjadi sumber petaka yang melahirkan problematika dalam semua bidang kehidupan. Ia adalah penyebab utama yang menjadikan  banyak orang enggan turut serta berjuang untuk agama ini. Dan akal yang tidak digunakan semestinya, akan menyeret manusia ke dalam siksa neraka, sebagaimana yang difirmankan Allah,

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah),” (Q.S Al-A’raf :179). 

Mari kita isi akal dan pemahaman mengenai Allah, Rasulullah, dan syariat Islam, agar akal kita tidak menjerumuskan kita kepada neraka. []

Sumber: Khutbahjumat

loading...
loading...