Akademisi Sebut Situasi Saat Ini di Mesir Picu Ketidakstabilan

0

ANKARA – Subsidi minyak yang tinggi dan utang ekonomi yang semakin besar akan memicu ketidakstabilan di Mesir setelah pemilihan presiden, kata Mohammad Hamad, profesor ilmu politik di Universitas Kairo.

Middle East Strategic Research Center (ORSAM) yang berbasis di Ankara dan TOBB Economy and Technology University pada hari Senin lalu mengadakan pertemuan politik membahas Mesir setelah referendum konstitusi pekan lalu.

Pada pertemuan tersebut, Hamad mengatakan, “Konstitusi baru memang membawa beberapa perubahan besar seperti memperluas kemerdekaan tentara, memberdayakan presiden dan membuka jalan bagi kontrol lebih lanjut dari pengadilan sehingga membangun kembali pengaruh negara di Mesir.”

Hamad menambahkan bahwa konstitusi baru akan menjadikan Dewan Keamanan Nasional memperkuat kontrol militer atas kehidupan politik di negara itu, lapor Anadolu Agency.

“Sebuah pasal dalam konstitusi baru menyebutkan bahwa menteri pertahanan yang ditunjuk tunduk pada persetujuan dari dewan militer yang lebih tinggi,” kata Hammad.

Namun, Hamad mengatakan pemerintahan militer yang kuat melalui konstitusi baru tidak cukup untuk menstabilkan negara pada saat subsidi tinggi harga minyak dan meningkatnya utang luar negeri tidak segera ditangani.

Militer Mesir mengambil alih negara pada bulan Juli tahun 2013 dan menangguhkan konstitusi Mesir serta menggulingkan Mursi. Pemerintahan kudeta kemudian menyiapkan konstitusi baru untuk memberdayakan militer, kepresidenan dan peradilan. Konstitusi baru itu telah disampaikan pada  referendum pekan lalu.

Mehmet Ozkan, pakar Timur Tengah di SETA Foundation yang berbasis di Ankara, mengatakan bahwa situasi yang sedang berlangsung di Mesir saat ini adalah kerugian baik bagi Ikhwanul Muslimin dan militer karena “Pengaruh tentara tidak meninggalkan ruang politik bagi Ikhwanul Muslimin, tapi dalam hal ini tidak ada masa depan ekonomi bagi pemerintahan militer Mesir.”[fq/islampos]

loading...
loading...