ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Air Langit

0

Oleh: Intan Nai
fintanyulianto@gmail.com

 

Hujan turun membasahi bumi, membersihkan bumi dari bahaya polutan-polutan yang diciptakan manusia namun persahabatan tak mampir di keduanya. Alhamdulillah hujan datang, membawa kebaikan bagi seluruh alam. Sebuah fenomena karya Tuhan yaitu air ajaib yang turun dari langit.

Ketika hujan tiba, perasaan apa yang ada dalam benak kita? Rasa senang yang menghampiri, rasa sedih yang mengikuti kala hujan tiba atau rasa khawatir akan adanya hujan? Atau, pikiran-pikiran lain yang menghampiri, seperti takut ada petir dan angin, bingung pulang ke rumah bagaimana, jemuran yang basah, atau membuat kita galau berpikir tentang seseorang yang jauh disana? Stop! Coba kita enyahkan pikiran-pikiran buruk itu. Kita ambil positif dari kedatangan hujan.

Sesekali mungkin patut dicoba untuk merasakan sensasi dari mulai datangnya hujan hingga perginya hujan. Kita bisa mencoba dengan cara hanya mendengarkan suara hujan yaitu dengan mengamati suara apa yang terbentuk ketika air jatuh ke setiap permukaan yang berbeda. Atau dengan melihat turunnya hujan, melihat proses air jatuh ke tanah dan melihat daerah mana yang terjadi hujan maupun yang tidak terjadi hujan.

Kita telah lama hidup di bumi ini perrnahkah kita mengamati keadaan hujan turun dari kita mulai bisa merasakan gemercik air turun hingga detik ini? Apakah ada suatu perbedaan? Atau kita tidak merasakan kejanggalan ketika hujan turun di waktu terakhir kita merasakannya? Jika kita belum bisa memahami hujan, mengamati hujan tidak hanya mungkin untuk dicoba, namun memang sangatlah pantas untuk dicoba.

Keadaan ketika hujan turun tempo dulu berbeda dengan hujan yang kita lihat sekarang. Jika kita kembali ke masa lalu, ketika musim penghujan dilangsungkan, hujan datang dengan membawa keberkahan bagi alam. Rintik-rintik air yang terjun seakan membawa kita ke dalam suasana yang sejuk dan damai dalam jiwa. Sepoi-sepoi angin yang yang membelai kulit, membuat kita merasakan indahnya alam. Hujan datang bukan sebagai pembawa bencana, namun datang menyebarkan kebaikan.

Coba kita ingat pelajaran geografi ketika di masa SMA tentang peristiwa hujan. Dimulai ketika air mengalir dan kemudian berkumpul, selanjutnya terjadi proses penguapan hingga terbentuklah awan-awan lembut yang menyeimbangi indahnya langit biru, kemudian awan menghitam dan berakhir dengan turunnya hujan. Sebuah peristiwa yang sangat agung karya Tuhan yaitu bisa menaikkan air.

Dalam waktu ini, entah dalam keadaan hujan turun atau tidak, kejanggalan terjadi. Hujan turun dengan langkah malu, mulai kemudian berhenti, mulai kemudian berhenti, begitu seterusnya. Datang dan pergi dalam keadaan telat. Warga bumi berharap hujan datang membawa keberkahan dan kedamaian. Namun, ketika yang diharapkan datang kemudian dibenci. Berbagai rasa-rasa negatif bermunculan. Akibatnya, hujan datang dengan membawa hati yang tidak utuh.

Hujan tidak hanya marah oleh sikap warga, tetapi juga dengan perilaku warga bumi yang kian merusak alam. Sehingga, membuat hujan berduet dengan bumi membentuk rasa amarah karena rusaknya alam. Kini, hujan datang tidak membawa kesejukkan, namun membawa asam yang mengepul di udara akibat kendaraan. Status kehalalan diragukan bagi hujan. Sebuah pertanyaan muncul, apakah bumi ini sudah terlalu berumur? Apakah kiamat sebentar lagi dilangsungkan? Lantas jika hujan kini menunjukkan keengganannya berkunjung ke bumi bagaimana hujan dimasa depan? Entahlah, kita tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.

Ketika kita tersadar akan hujan, apa yang akan kita lakukan? Membiarkannya atau kita ikut bergerak? Jawabannya tergantung masing-masing orang.

Dalam sebuah buku berjudul “Hujan” karya penulis terkenal yaitu Tere Liye menceritakan sebuah peristiwa alam yang dahsyat terjadi. Dalam artikel ini, saya tidak akan menceritakan bagaimana kisah dalam novel tersebut karena saya tahu, anda bisa membacanya sendiri atau mencari di internet sinopsis novel tersebut.

Satu hal yang membuat saya ingin membuat artikel mengenai hujan, yaitu dalam novel tersebut hujan benar-benar ingin berhenti untuk menginjakkan jejaknya ke bumi. Peristiwa di novel tersebut membuat saya berpikir, akankah hal itu menjadi sebuah kenyataan di masa depan? Atau hujan betah untuk menetap di bumi? Kita tunggu saja tanggal mainnya.

Betapa banyak hikmah dibalik hujan. Kenikmatan yang Allah berikan untuk setiap makhluknya. Seperti dalam Al-Quran Surah Ar- Rahman

فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Dari Surah tersebut, ayat di atas yang senantiasa diulangi bermaksud bahwa Allah menginginkan kita untuk senantiasa bersyukur dengan segala kenikmatan. Begitu pula kenikmatan akan datangnya hujan. Jadi, putuskan berhenti mengeluh dan ucapkan rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Akankah kita tersadarkan kemudian mengambil sebuah tindakkan yang menurut kita, seperti kita menghargai kedatangan hujan, mengamati hujan, atau ketika hujan turun, kita berbondong-bondong untuk bersegara bermain dengan hujan atau kita tidak tersadarkan. []

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun
loading...
loading...