ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Agar Anda Menjadi Suami Idaman

foto: dream big style
0

SEPERTI apakah suami yang diidamkan oleh para istri? Tampan seperti Nabi Yusuf AS atau kaya semacam Nabi Sulaiman AS? Atau cukup yang sederhana saja, asal baik hati, seperti Ali bin Abi Thalib RA?

Rasulullah SAW adalah sosok laki-laki yang diakui oleh istri-istrinya sebagai suami idaman. Seperti dikemukakan Aisyah RA ketika ditanya tentang perlakuan Rasulullah terhadap istrinya, “Dialah manusia terbaik, dalam akhlak dan segala-galanya, tidak pernah berbicara kotor dan berbuat kotor, tidak pernah bersuara keras terutama di pasar, tidak pernah membalas perbuatan buruk dengan perbuatan buruk pula, tetapi selalu memberi maaf dan ampunan,” (HR. Ahmad).

Tentu saja setiap suami bisa menjadi suami idaman seperti Rasulullah, asal memenuhi persyaratan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Iman dan Taqwa
Ini adalah syarat mutlak. Hatinya harus selalu dekat dengan Allah SWT. Setiap menyelesakan persoalan rumah tangga selalu merujuk kepada tuntunan Allah. Memperkuat hubungan dengan Allah merupakan jaminan terbaik agar pernikahan selalu terjaga kuat. Merasakan kedekatan dan kedamaian dalam hubungan dengan Allah akan berimplikasi pada hubungan suami dan istri di rumah.

2. Cinta dan Setia
Cinta tidak cukup disimpan di menikahi Aisyah hingga wafatnya Khadijah.

3. Sayang dan Penuh Perhatian
Rasulullah SAW selalu bersikap lembut terhadap para istrinya sebagai wujud kasih sayang. Ia suami yang sangat menyayangi istrinya dan memperlakukan dengan penuh perhatian. Rasulullah biasa minum dari satu gelas dengan istrinya, termasuk ketika sang istri sedang haid. Aisyah pernah bercerita, “Suatu saat ketika saya haid saya minum dengan gelas Rasulullah, kemudian beliau meminum di tempat dimana saya meletakkan mulut. Ketika saya haid dan tubuh saya berkeringat, saya memberikan gelas kepada Rasulullah dan beliau meminumnya di tempat yang saya minum,” (HR. Muslim).

Sabdanya, “Tidakkah seseorang dari kamu merasa malu untuk memukul istrinya sebagaimana di memukul hambanya? Di waktu pagi istrinya dipukul, kemudian di waktu malam ditidurinya pula.”

Dari Abdullah bin Zam’ar bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian memukul istrinya sebagaimana memukul seorang budak belia,” (HR. Bukhari).

4. Memahami Kesulitan Istri
Seorang istri butuh dipahami suaminya. Suami hendaknya mau mendengar dengan penuh perhatian ketika istri sedang mengungkapkan permasalahan. Juga ikut merasakan kegelisahan dan dapat membantu menenteramkannya atau mengatasi permasalahannya.

Sebagai seorang suami, Rasulullah SAW amat bertimbang rasa dan bersedia membantu keluarganya. Banyak pekerjaan yang dilakukan dengan tangannya sendiri, seperti menjahit pakaian dan memerah susu kambing. Ummul Mukminin Aisyah berkata, “Di rumah, beliau adalah manusia biasa yang melakukan pekerjaan menjahit bajunya, memerah kambingnya, membersihkan terompahnya. Beliau mengerjakan setiap pekerjaan istrinya, tetapi bila datang waktu shalat beliau keluar untuk shalat,” (HR. Bukhari).

5. Periang dan Suka Bercanda
Rasulullah SAW adalah orang yang tegas dan disiplin. Namun, tidak berarti beliau orang yang kaku, dingin dan tak dapat bercanda. Justru Rasulullah sering bercanda untuk menghilangkan ketegangan dan mencairkan suasana, namun tidak secara berlebihan. Meski beliau seorang yang sibuk, di sela-sela waktu yang masih sempat bercanda dengan istrinya, seperti yang dilakukannya dengan Aisyah. Dalam suatu riwayat Aisyah menerangkan kelembutan dan keramahan suaminya ketika berada di rumah, “Rasulullah SAW adalah selunak-lunaknya manusia, sepemurah-murah manusia, banyak tertawa dan tersenyum,” (HR. Ibnu Asakir).

6. Tegas dan Berwibawa
Sekalipun suka bercanda, sebagai suami Rasulullah SAW dapat besikap tegas. Terutama ketika para istri menuntut lebih dari apa yang beliau berikan. Rasulullah mengingatkan para istrinya, bahwa mereka lebih baik memilih Allah daripada tergiur dengan kesenangan duniawi. Dalam peristiwa ini Rasulullah pun dapat tetap menjaga wibawa di depan para istrinya, yaitu dengan tidak menampakan rasa marahnya, meski sebenarnya beliau sangat marah. Beliau lebih memilih menjauhi para istrinya dengan menyendiri dan lebih mendekatkan diri kepada Allah, hingga para istrinya menyadari kesalahan mereka.

7. Menghargai dan Memperlakukan dengan Baik
Rasulullah SAW bersabda, “Yang terbaik di antara kamu adalah yang terbaik memperlakukan istrinya. Ada dua dosa yang akan disegerakan Allah siksanya, di dunia ini juga, yaitu al-baghyu dan durhaka kepada orangtua,” (HR. Turmudzi, Bukhari, dan Thabrani). Al-baghyu yang paling dimurkai Allah ialah berbuat dzhalim terhadap istri.

Suatu malam, Rasulullah hendak melakukan shalat. Beliau bertanya dulu kepada istrinya, apakah sang istrinya membutuhkannya. Itu dilakukan karena sebenarnya malam itu adalah waktu untuk istrinya. Bila sang istri menjawab tidak, maka beliau pun menghabiskan malam hanya bersama Sang Pencipta.

Perlakuan baik tidak cuma ditunjukkan Rasulullah terhadap istrinya, tetapi juga terhadap kerabat dan teman-teman istrinya.

8. Bersih dan Rapi
Sebagaimana suami, istri pun lebih menyukai suami yang berpenampilan bersih dan rapi daripada suami yang jorok, lusuh dan kumal. Bukankah kebersihan itu bagian dari iman? Umar bin Khaththab RA pun pernah berkata, “Perempuan menyukai kalau suaminya berhias untuk dirinya, sebagaimana laki-laki suka istrinya berhias untuk dirinya.”

Nah, jangan ragu untuk melakukan apa yang dilakukan Rasulullah SAW kepada istri-istrinya. Bila hal-hal di atas bisa dilakukan, bersiaplah menerima limpahan cinta dari istri Anda. Selama hayat, insya Allah. []

Sumber: Ernawaty/Hidayatullah edisi 07

loading...
loading...