Ada Kesalahan Mendasar dalam Penyelenggaraan Sistem Pendidikan di Iindonesia

Foto: UpStream Connected
0 147

Oleh: Rofingatun Madaskar, [email protected]

Praktisi Kesehatan

 

KASUS kekerasan dalam dunia pendidikan, bukan kasus yang pertama kali terjadi di Indonesia. Jika dulu korban kekerasan cenderung berusia lebih muda, sekarang tidak jarang ditemui kekerasan yang dilakukan oleh murid kepada gurunya.

Beberapa waktu terakhir ini, masyarakat kerapkali disuguhi pemberitaan tentang kekerasan dilingkungan sekolah oleh senior kepada jeniornya pada Masa Orientasi Siswa Sekolah. Dimana masa ini merupakan waktu yang seharusnya sekolah memberikan kesan terbaik kepada murid barunya.

Kekerasan dilingkungan pendidikan terjadi hampir disemua jenjang pendidikan, pelakunya memiliki motif yang berbeda namun hampir sama yaitu balas dendam atau Role Play atas apa yang dulu dialaminya.

Kasus kekerasan ini terjadi hampir disemua jenjang pendidikan, mulai Sekolah dasar sampai Perguruan Tinggi. Dan yang mengherankan justru kekerasan ini seringkali terjadi  pada jenjang pendidikan perguruan tinggi yang Notabene mereka memilki intelektualitas yang lebih tinggi. Ada apa dengan pendidikan negara ini?

Kekerasan yang terjadi dilingkungan pendidikan bukan hanya kekerasan fisik, melainkan  kekerasan seksual yang pelakunya adalah orang terdekat dilingkungan mereka. Kita menengok pada kasus kekerasan seksual yang terjadi di Pusat ibu kota.

Dilingkunagn sekolah yang berstandart Internasional, diamana seluruh bagian ruangan hampir tidak lepas dari pemantauan CCTV, namun faktanya tidak ada jaminan terbebas dari kejahatan pedofil. Kasus ini santer diberitakan media masa karena pelakunya ternyata merupakan orang orang terdekat dilingkungan mereka, dan dilakukan dilingkungan sekolah yang mana sudah dilengkapi dengan sistem keamanan yang bertekhnologi.

Setelahnya muncul kasus kasus lain yang memaksa indonesia menempati peringkat Darurat Kekerasan Seksual Anak. Belum lagi menyusul kekerasan fisik yang terjadi dilingkungan sekolah yang mana pelaku kekerasan adalah guru kelas mereka sendiri, seperti vidio yang menjadi viral dimedia masa beberapa pekan terakhir ini, seorang guru yang memberikan hukuman fisik dengan cara mencubit telinga seorang muridnya, yang dihitung tidak kurang sampai hitungan yang kesepuluh.

Bagi pelakunya hal ini mungkin sesuatu yang biasa, yang wajar dilakukan oleh guru ketika seorang murid melakukan pelanggaran terhadap aturan aturan yang sudah ditetapkan, namun dalam negara hukum yang mana perlindunagn anak dijaminkan dalam Undang Undang RI No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang Undang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan anak, tindak ini menjadi sangant tidak beradab.

Sekalipun negara ini sudah menjaminkan adanya UU untuk menindak pelaku kekerasandalam dunia pendidikan baik kekerasan fisik maupun seksual, agaknya ini akan menjadi sulit untuk bisa memastikan tidak akan terulang kembali kekerasan dalam lingkungan pendidikan.

Meninggalnya tiga mahasiswa UII setelah mengikuti The Great Camping (TGC) Mapala UII Tlogodlingo di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Karanganayar, yang dilaksanakan pada tanggal 14-22 Januari 2017. Kasus ini menjadi salah satu bukti adanya sebuah kegagalan sistemik yang dinegara ini.

Alih alih negara mencangkan tujuan Pendidikan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3 Tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Namun yang ada, justru negara ini mengalami The Lost Generation.

Kegagalan sistem pendidikan di Indonesia membentuk manusia sesuai visi misi penciptaanya merupakan indikator kelemahan paradigmatik dari sistem pendidikan yang ada. Terdapat beberapa indikator kegagagalan.

Pertama  kekeliruan Paradigma pendidikan yang mendasari keseluruhan penyelenggaran sistem pendidikan, yaitu paradigma sekuler.

Kedua kelemahan pada tiga unsur pelaksana pendidikan:

(a) kelemahan lembaga pendidikan tercermin dari kekacauan kurikulum dan kurang berfungsinya guru dan lingkungan sekolah sesuai kehendak Islam,

(b) Faktor keluarga yang kurang mendukung,

(c) Faktor masyarakat yang tidak kondusif.

Ditambah lagi dengan problem yang berkaitan dengan aspek praktik/teknis yang berkaitan dengan penyelenggara pendidikan, seperti mahalnya biaya pendidikan, rendahnya sarana fisik, rendahnya kesejahteraan guru dan sebagainya.

Karena itu penyelesaaian problem pendidikan harus dilakukan secara fundamental. Hal ini hanya dilakukan perombakan secara menyeluruh yang diawali dengan perubahan paradigma pendidikan sekuler menjadi paradigma Islam.

Asas sistem pendidikan itulah yang nantinya akan menentukan hal hal yang paling prinsip dalam sistem pendidikan seperti tujuan pendidikan dan stuktur kurikulum. Artinya setelah masalah mendasar diselesaikan, maka berbagai masalah cabang pendidikan dapat diselesaikan.( Al WA-IE 2013)

Manakala berbica sistem pendidikan tentu tidak terlepas berbicara tentang sistem ekonomi. Seperti yang sudah diketahui bahwa, Indonesia merupakan negara yang mengadopsi sistem ekonomi kapitalis dimana prinsip dalam sistem ini adalah meminimalkan peran dan tanggungjawab negara dalam urusan publik, termasuk dalam pendanaan pendidikan.

Maka akan menajadi tidak besinergi manakala mengubah paradigma sistem pendidikan tanpa mengubah paradigma sistem ekonomi yang ada. Seharusnya ketika ingin memperbaiki sistem pendidkan dan sistem sistem yang lainya juga harus mengubah pandangan dari sistem ekonomi kapitalis menjadi Sitem ekonomi islam. Dimana dalam sistem ekonomi islam  menggariskan pemerintah menanggung segala pembiyaan pendidikan negara. []

loading...
loading...