ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Ada Islam di Negara Maju, tapi Tidak Ada Tuhan di Hati

Mari Bertukar Kata, Teh Rina ...

0

Oleh: Raidah Athirah
Penulis, Kontributor Islampos, Tinggal di Polandia

Saya tahu saudara semua kecewa dengan pernyataan Teteh artis yang diidolakan. Tentang negara maju, agama dan juga Tuhan. Saya paham gejolak itu.

Curahan hati Teteh Artis.

“Ada pelajaran baru yang saya dapat dari penduduk Jepang selama dua hari saya disini. Mayoritas penduduk sini rupanya tidak memiliki kepercayaan terhadap suatu agama, bahkan Tuhan.

Tapi sebagian mereka percaya bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar dari diri mereka.

Ada yang menarik, tanpa kepercayaan terhadap agama tertentu, mereka begitu menjunjung tinggi nilai moral dan kemanusiaan.

Memiliki rasa syukur yang begitu besar atas semua kenikmatan yang mereka peroleh, dengan cara menghormati setiap makhluk hidup, makanan dan alam.

Memiliki kesadaran tinggi akan ketertiban, kedisiplinan, dan kebersihan.

Sulit menemukan tempat sampah di sini, tapi juga sulit menemukan sampah berceceran di setiap sudut nya.

Hampir tidak ada. (Mungkin saya belum mengunjungi semuanya, tapi sejauh mata ini melihat, memang setiap sudutnya terlihat rapih dan bersih).

Satu hal lain yang menarik perhatian saya, ketika saya menemukan beberapa penduduk asli yang tiba-tiba ingin memeluk suatu kepercayaan.

Kemudian saya bertanya, kalau hidupmu sudah sebaik ini tanpa agama, lalu kenapa kamu ingin mencari Tuhan dan ingin memiliki agama?”

Cara pandang Teteh artis bukanlah miliknya semata. Bila dijawab dengan jujur berapa banyak cara pandang ini, telah masuk ke ruang hati, mempertanyakan, meragukan dan kemudian karena tak ada akar yang kuat, banyak yang terhempas jauh memandang agama yang mulia ini dengan akal yang kerdil. Bahkan pada tingkat paling atas, keluar pernyataan-pernyataan gelap dan buta terhadap kebenaran Islam.

Jepang bukanlah satu-satunya negara maju di dunia. Saudara yang pernah berkunjung ke negara-negara Eropa yang maju, pasti juga memiliki kekaguman yang sama. Bahkan mungkin saja kekaguman itu melahirkan rasa silau.

Muncullah bisikan-bisikan penghasut.

“Jepang, Jerman, Prancis, Belanda, itu negara maju semua, serba bersih pake bingit …, sumpah mereka banyak yang nggak percaya Tuhan hidup baik-baik saja tuh! Jadi ngapain punya agama?”

Bukankah bila hati kita jujur, apa yang dicari dari kehidupan ini selain yang bernama kebahagiaan?

Sehebat apapun peradaban manusia, hati adalah relung paling akar yang harus diisi. Bila hati kosong, maka berilah jawaban terhadap angka bunuh diri dan depresi di negara maju. Mengapa bisa demikian?

a.http://www.euronews.com/…/suicide-rate-is-highest-in-europe…

Kutipan dari link diatas yang saya terjemahkan

“Hampir 800.000 kematian akibat bunuh diri terjadi pada tahun 2015, menurut Statistik Kesehatan Dunia, sebuah publikasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Laporan tersebut, menginformasikan bahwa data dari 194 negara anggota organisasi tersebut yang terkumpul , menunjukkan tingkat bunuh diri tertinggi adalah di wilayah Eropa sesuai dengan laporan badan kesehatan PBB (14,1 per 100.000 orang), dan tingkat terendah di wilayah Mediterania Timur (3,8 per 100.000).”

b.https://www.theguardian.com/…/number-of-suicides-uk-increas…c.https://www.befrienders.org/suicide-statistics

Maka pernyataan dan serangkaian argumentasi yang diutarakan oleh Teteh artis dengan sendirinya terjawab.

Saya tidak dalam kata menjustifikasi, saya berharap kita semua terbuka untuk mendiskusikan hal ini dengan pikiran terbuka.

Mengapa saya memberi judul seperti diatas? Karena saya ingin saudara bercermin dengan hati yang tulus bukan pikiran abu-abu.

Saudara memandang Eropa sebagai negara maju hanya mengandalkan logika setengah berpikir. Takjub mata namun sempit hati.

Sungai bersih, jalanan rapi,kebersihan sudah terlihat, kendaraan tidak ada yang melaju asal senang. Disiplin apalagi, sudah sampai ke telinga kita berpuluh tahun yang lalu.

Sekarang izinkan saya bertanya kepada saudara yang beragama Islam yang menyebut diri seorang Muslim/Muslimah, tidak ajaran agama yang mulia ini mengajarkan saudara tentang kebersihan. Kurang apa lagi dari perintah Allah dan RasulNya?

” …Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. ” (QS. Al-Baqarah 2 : 222)

“Kesucian (kebersihan) separuh dari iman.” (HR. Muslim 223)

Bila saya uraikan disini tentu tidak akan cukup kata menjelaskannya.

Apa yang saudara kagumi dari Jepang, Barat dan kemajuannya adalah sejalan dengan apa yang diajarkan Islam bahkan sebagai Muslim/Muslimah kita telah diajarkan tentang bab Taharah/Bersuci atau dalam kata yang kasar: Islam sudah sempurna mengajarkan kepada saudara semua mulai dari tata cara (maaf) cebok, sampai mandi jenazah.

Islam bukan saja menyentuh permukaan tapi memberikan jawaban akar dari semua kebingungan dan pencarian manusia.

Bila kekecewaan saudara dikarenakan memandang Islam karena perilaku masyarakat kita yang kalau kita mau jujur jauh sekali, jauh sangat dengan apa yang Islam ajarkan kepada kita. Kita membuang Islam, maka kebingungan dan kekacauan yang muncul.

Kita membandingkan negeri kita yang mayoritas Islam tapi suka membuang sampah sembarangan, kencing di setiap sudut jalan,puntung rokok sudah seperti bibit pohon dan atitude yang kasar dan amoral.Lalu kita dengan lancang berteriak.

“Jangan beragama! Lihat semua orang Islam itu kampungan dan jorok!”

Kasihanilah pikiran Anda yang sempit dalam memandang persoalan hidup. Kasihanilah jiwa Anda yang dipenuhi kekosongan. Kasihanilah….

Telah banyak kisah dan pelajaran tentang orang-orang yang merasa kosong dan lari dari agama ini.Tidak ada ketenangan yang mereka dapat selain kebingungan sampai di titik akhir.

Sebaliknya, ada orang-orang yang jujur mencari kebenaran bukan pembenaran maka Allah, Tuhan Yang Maha Membolak-balikkan hati menunjukkan kepada mereka jalan yang mereka cari. Jalan orang-orang yang berjalan dengan kedamaian.

Saya sampaikan kepada saudara bahwa ajaran Islam ada di Barat tapi Tuhan haruslah ditemukan di relung hati dengan bahasa penuh kejujuran bukan pura-pura.

Selalu saya kata bahwa kebenaran ini pahit tapi berkahnya sampai ke langit. Sebaliknya kesenangan dan pujian kadang adalah tipuan yang manis tapi kotornya pasti terlihat di akhir. Maka peganglah akar kebenaran ini sekalipun kita harus sendiri di perjalanan. Karena pada hakikatnya kita semua berjalan menuju titik kematian.

Islam telah sempurna. Kita yang harus terus belajar memahami ajaran agama yang mulia. Bila hati diterpa keraguan, mendekat padaNya. Merintih memohon petunjuk Nya, agar tiada sesal saat jasad berkabung tanah. []

Polandia,25 November 2017
Dalam Kabut Menjelang Musim Dingin
Perantau yang fakir ilmu

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun
loading...
loading...