ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Abi Tak Boleh Kerja!

Foto: www.pinterest.com
0

Oleh: Muhammad Rifqy
Seorang Ayah Tinggal di Depok

KALIMAT perintah yang baku di atas seingat saya belum pernah terucap dari mulut anak laki-laki saya. Selama ini si sulung yang sekarang sudah berumur 3,5 tahun memang paling tidak suka ketika saya harus berpamitan untuk kerja. Namun, ucapannya kali ini sangat membekas di benak saya, mungkin akan cukup lama tersimpan di memori otak saya.

Biasanya, kata-kata yang terucap dari bibirnya berkisar antara: “Abi ga usah kerja deh..” , “Jangan kerja dong Abi…” atau “Khalid mau ikut Abi kerja…” yang diucapkan dengan nada memelas juga dengan mimik muka yang sedikit dibumbui drama.

Jujur, selama ini beberapa contoh kata-kata di atas saja sudah membuat saya cukup iba dan memberatkan saya untuk berangkat kerja.

Sekadar memberikan gambaran ilustrasi cuplikan drama yang biasanya terjadi beberapa menit sebelum saya berangkat kerja:

“Bang, sudah mau adzan Zuhur nih, Abi siap2 berangkat kerja ya, ayo salam, hug, kiss dan doa dulu (ritual sebelum berangkat kerja)”

“Bi, liat Khalid bisa gambar ambulance nih!” kata Khalid sambil pura-pura tidak mendengar.

“Masha Allah, bagus bang… Nanti malam abi pulang kita gambar lagi deh ya, karena sekarang Abi harus berangkat kerja…”

“Abi ga usah kerja deh, main aja sama Khalid…” rajuknya dengan muka dibuat sesedih mungkin.

“Kalo Abi gak kerja, kan nanti ga bisa beliin mainan buat abang…”

“Ok deh, nanti kalau Khalid udah hafal surat At-Takatsur beliin mainan Super Wings ya Bi..” (Dengan wajah sumringah sambil berimajinasi memiliki mainan permintaannya)

“Insha Allah ya Bang, mintanya sama Allah, abang doa juga. Ya udah sekarang mau muter sekali, engga?”

muter sekali adalah ritual tambahan yaitu muterin jalanan deket rumah 1 kali naik kendaraan kesayangan abinya sebagai penghibur karena abinya harus kerja.

“Mau, mau… Asiik…”

Sekembalinya dari “muter sekali” dia akan bergegas turun dan tutup pagar, lepas sendalnya lalu naik ke teras dan siap2 untuk melambaikan tangan dan mengucapkan salam sambil melemparkan senyuman yang sangat manis yang selalu berhasil to make my day.

Ilustrasi seperti di atas setidaknya terjadi sekali dalam 3 hari sejak dia mengerti kata “kerja”. Selain itu biasanya dramanya terlewatkan ketika dia benar-benar sedang serius bermain atau menggambar dan saya pun bisa meninggalkan rumah dengan lancar jaya tanpa hambatan.

Namun sejak 3 bulan terakhir setelah saya memutuskan untuk berhenti mengambil jadwal mengajar di pagi hari untuk meluangkan lebih banyak waktu untuk dia, hal ini lebih sering terjadi.

Kembali ke cerita di awal, hari ini ceritanya sedikit berbeda dan pastinya akan jadi kenangan untuk saya dan istri. Ceritanya pagi-pagi saya mengajak si sulung ke salah satu taman kota di deket rumah yang belum pernah kita kunjungi. Ternyata tamannya cukup bagus dan luas sehingga anak saya puas bermain lari-larian, naik jungkit-jungkit, main perosotan dan beberapa permainan khas taman lainnya. Intinya he was so happy and we really enjoyed the father and son quality time.

Seperti rutinitas biasanya setelah habis jalan keluar, sepulangnya dari taman dia mandi dan belajar baca iqro sama saya hingga menjelang zuhur dimana saya sudah harus siap-siap untuk berangkat kerja.

Saya sudah berpakaian rapi dan siap untuk berpamitan ke sulung, namun seketika dia memegang kaki sebagai tanda agar saya tidak pergi.

“Abi main dulu dong jangan kerja”

Seperti biasanya saya menjelaskan kalau nanti malam ketika saya pulang kita bisa lanjut bermain. Namun reaksinya tidak seperti biasanya, dia melihat mata saya dengan tatapan sendu dan mulai meneteskan air mata.

“Khalid gak suka abi kerja, abi di rumah aja main sama Khalid!”

Saya berusaha mengeluarkan jurus saya.

“Kan abang tahu kalau Abi tidak kerja nanti tidak bisa beli mainan dan buku”

Tanpa diduga sambil memeluk saya, bocah yang baru berumur 3 tahun 6 bulan ini menjawab,

“Abi ga usah beliin mainan Khalid lagi, kan mainan Khalid masih banyak, jadi abi ga usah kerja…”
Gak ngerti saya yang terlalu mellow ataukah memang manusiawi, saya tercekat, speechless dan berasa air mata mau keluar.

Saya terdiam.

Sementara pelukan dan tangisan semakin keras. Air matanya pun mengalir cukup natural sampai istri saya heran dan akhirnya coba menenangkan si sulung setelah kita bertukar kode khusus yang mengisyaratkan kalau ini bukan tangisan pura-pura, tapi sepertinya memang luapan emosi anak kami yang benar-benar ingin ayahnya di rumah.

Sambil kami berdua peluk si sulung, dia menyelesaikan pesan hatinya dengan suara yg lirih namun tegas.

“Abi tidak boleh kerja!”

Istripun berbisik agar khusus hari ini saya tidak masuk kerja.

Saya pun menggendongnya sambil menenangkannya.

“Oke bang, abi hari ini tidak kerja, main sama Khalid aja di rumah.”

Seketika tangisannya mereda seiring berkumandangnya adzan Zuhur dari masjid komplek.

“Jangan sedih lagi ya bang. Abi sayang abang. Yuk kita siap-siap pergi shalat.”

Sambil berusaha meyakinkan lagi, ia berpesan.

“Nanti abis shalat kalau Khalid bobo siang abi juga bobo ya, gak boleh kerja pokoknya.”

“Iya anak shaleh, siap!”

Seharian itu si abang sangat behave dan sweet, saya tersadarkan kalau dia sudah cukup besar untuk bisa mengungkapkan perasaannya, dan saya sangat menghargai sekali sikapnya itu.

Saya jadi teringat beberapa waktu lalu ikut nonton bareng film mengenai parenting yang lagi seru dibincangkan para orang tua, The Beginning of Life. Ada sebuah komentar salah satu ayah di film tersebut yang seperti ini:

“Our children don’t care if we are important, they don’t care whether I make any money, the only thing they really care about is whether I’m present.”

Dan saya sangat setuju dengan hal ini, seperti yang anak saya sebutkan di atas, dia tidak peduli saya punya uang atau tidak, dia hanya ingin waktu yang lebih lama bersama saya, ayahnya.

Mungkin kita juga pernah mendengar atau membaca cerita mengenai seorang anak yang meminta uang ke ayahnya untuk membeli waktu ayahnya agar bisa meluangkan waktu bersamanya. Dan banyak lagi kisah-kisah mengenai ayah dan anak lainnya yang selalu menginspirasi saya untuk terus belajar dan berusaha untuk menjalankan peran ayah semaksimal mungkin.

Cerita bagaimana nabi Ibrahim bisa berdialog dengan tenang bersama anaknya Ismail mengenai perintah Allah untuk menyembelihnya merupakan satu contoh bahwa kedekatan anak dan ayah merupakan satu hal yang sangat penting. Jika ayah dan anak tidak dekat, jangan harap perintah Allah seperti itu di iyakan, diminta tolong ambilkan minum saja sang anak bisa punya 1001 alasan untuk tidak melakukannya.

Cerita diatas sengaja saya tulis sebagai reminder untuk diri saya agar lebih bisa meluangkan waktu untuk anak dan tidak selalu memikirkan kerja, kerja dan kerja. Di bawah juga saya tambahkan beberapa komentar mengenai ayah dan anak dari film documenter The Beginning of Life.

– Fathers who are involved, who spend time more with their children release hormone that make them feel happier.
– I’ve learned more in two years with my son, than I’ve learned my whole life.
– They are so blinded by love for me. They almost can’t see my flaws. – Simon Kuper (Financial Times columnist)
– The father’s role is essential and different, which is to show their kids that there is a big world outside beyond their mother’s. – Vera Iaconelli, Ph.D. (Psychoanalyst)

Semoga bisa bermanfaat. []

loading...
loading...