Dahnil Anzar Ragukan Komitmen Jokowi soal Pemberantasan Korupsi

0

JAKARTA—Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjutak menyatakan keraguannya terhadap komitmen Jokowi terkait pemberantasan korupsi. Hal itu ia sampaikan melalui cuitan di akun Twitter-nya.

“Mohon maaf, Pak. Saya ragu dengan komitmen pemberantasan korupsi bapak saat ini,” tulis Dahnil, Ahad (9/4/2018)

Keraguan itu muncul karena terbengkainya penanganan kasus penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan yang mengalami penganiayaan berupa penyiraman air keras ke mata kirinya beberapa waktu lalu (2017).

Menurut Dahnil, penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan merupakan simbol upaya teror terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia.

“Pak Presiden @jokowi 9 hari lagi, 1 tahun sudah penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan sebagai simbol upaya teror terhdp pemberantasan korupsi. Dan terus terang kami kecewa dengan sikap miskin aksi ramai retorika empati dari pak Presiden untuk mendorong penuntasan teror ini,” tulis Dahnil.

Dahnil pun menjelaskan, menurutnya terbengkalianya kasus Novel itu disebabkan oleh rendahnya komitmen terhadap pemberantasan korupsi.

“Cacat mata Novel Baswedan adl simbol teror terhadap agenda pemberantasan korupsi yang sulit terungkap di Negeri ini, karena? mohon maaf Pak Presiden @jokowi. Karena Presiden rendah komitmennya terhadap agenda pemberantasan korupsi, lawan bandit politik,” tulis Dahnil.

Dahnil juga menyinggung soal kesamaan kasus yang terjadi pada masa kepempinan Presiden Jokowi dan Megawati Soekarnoputri.

“Di Jaman Ibu Megawati, Munir meninggal di Racun. Di Jaman Pak Joko Widodo, Novel Baswedan disiram Air keras,” tulisnya.

Lebih jauh, Dahnil juga mengaitkan kasus tersebut dengan kursi kekuasaan yang menurutnya harus dipertanggungjawabkan.

“Dahnilanzar: Pak Presiden @jokowi bila kursi kekuasaan tidak bisa digunakan untuk mengungkap kebenaran, karena kebenaran itu bisa mengancam kursi tersebut. Silahkan Pak, nikmati kemewahan kursi kekuasaan tersebut. Karena bagi kita yang beragama, kekuasaan harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT kelak,” tulis Dahnil. []

loading...
loading...
Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline