ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

7 Hal yang Mungkin akan Terjadi Sesudah Trump Jadi Presiden AS

US President Donald Trump speaks to the nation during his swearing-in ceremony on January 20, 2017 at the US Capitol in Washington, DC. / AFP PHOTO / Mandel NGAN
0

WASHINGTON –  Masuknya Donald Trump ke Gedung Putih diyakini dapat mengubah hubungan Amerika dengan beberapa negara di berbagai belahan dunia dan mengubah berbagai arah kebijakan. Berikut ini adalah tujuh perubahan yang mungkin terjadi ketika Trump menjadi presiden, dikutip dari BBC:

Nato akan terguncang

Trump dikenal sebagai orang yang luar biasa kritis terhadap Nato (Pakta Pertahanan Atlantik Utara), sebuah ujung tombak kebijakan luar negeri Amerika sejak lebih dari 60 tahun.

Ia tak henti menyerang organisasi itu dan menyebutnya sebagai lembaga yang sudah usang dan menilai anggota-anggotanya sebagai sekutu yang tidak tahu berterima kasih setelah memperoleh manfaat dari kebaikan Amerika Serikat.

Beberapa hari sebelum pelantikannya, ia menegaskan bahwa ‘banyak’ dari 28 anggota Nato tidak membayar kewajiban secara layak, yang merupakan hal yang ‘sangat tidak adil’ bagi Amerika Serikat.

Kecaman terbaru dilontarkan saat 3.000 tentara AS tiba di Polandia sebagai bagian dari rencana Barack Obama untuk meyakinkan sekutu Nato yang khawatir atas agresi Rusia.

Di satu sisi, retorika Trump berpijak pada kekhawatiran AS yang sudah lama mempermasalahkan sebagian besar anggota NATO yang tidak memenuhi target untuk menganggarkan setidaknya 2% untuk pertahanan, sementara anggaran belanja pertahanan AS merupakan yang terbesar di dunia.

Presiden terpilih itu juga menekankan bahwa Nato ‘sangat penting’ baginya.

Namun hal itu hanya memberi sedikit kelegaan dan sikap dasar Trump memicu kegelisahan di Eropa. Menteri Luar Negeri Jerman mengatakan komentar-komentar yang dilontarkan Trump soal Nato menyebabkan ‘kekhawatiran’ bagi negara-negara anggota yang tergabung di dalamnya.

Hubungan yang lebih nyaman dengan Rusia?

Selama kampanye pemilu AS, Trump memuji Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai pemimpin yang kuat, dan ia ingin menjalin kerjasama yang baik dengannya.

Hal itu terjadi sebelum badan intelijen AS menyatakan bahwa Rusia bertanggung jawab atas peretasan e-mail Partai Demokrat selama kampanye – yang awalnya disepelekan akhirnya Trump namun kemudian diakui bahwa AS memang telah kebobolan.

Publikasi panas sebuah berkas yang belum diverifikasi, menyatakan bahwa Rusia memiliki bahan-bahan yang memojokkan Trump juga telah menimbulkan berbagai pertanyaan terhadap presiden terpilih AS tersebut.

Ia kemudian menyanggah tuduhan-tuduhan tersebut sebagai ‘berita bohong’ dan mempertanyakan apakah berkas-berkas itu sengaja dirilis oleh pihak intelijen.

Kini, Trump mengungkapkan bahwa ia mulai mempercayai Putin (dan Kanselir Jerman Angela Merkel) namun ia juga memperingatkan bahwa hal ini ‘mungkin tidak akan berlangsung lama.’

Ia juga mengatakan akan tetap menerapkan sanksi AS terhadap Rusia ‘setidaknya untuk jangka waktu tertentu.’

Namun, ia juga menyebutkan dalam sebuah wawancara bahwa sanksi internasional bisa dicabut jika sejumlah ‘kesepakatan menguntungkan’ bisa dicapai dengan Rusia, termasuk pengurangan senjata nuklir.

Di masa pemerintahan Obama, kerjasama antara AS dan Rusia diwarnai berbagai ketegangan terkait permasalahan di Ukraina, Suriah dan persoalan peretasan di dunia maya. Nampaknya hubungan kedua negara akan berubah secara signifikan di bawah kepemimpinan Trump.

Akhir dari perdagangan bebas?

Kebijakan perdagangan Donald Trump akan berdampak besar terhadap cara Amerika menjalankan kepentingan bisnisnya dengan seluruh negara-negara dunia dalam beberapa dasawarsa.

Ia mengancam untuk membatalkan sejumlah perjanjian perdagangan bebas yang ada, termasuk Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara antara AS, Kanada dan Meksiko, yang ia tuding sebagai penyebab banyaknya pengangguran. Ia bahkan menyarankan AS menarik diri dari Organisasi Perdagangan Dunia WTO.

Sejak memenangkan pemilu, ia memusatkan perhatiannya untuk mengancam perusahaan- perusahaan, khususnya para produsen mobil, bahwa ia akan menerapkan tarif sekitar 35% untuk barang-barang yang diproduksi di Meksiko.

Tujuan dari kebijakan perdagangannya adalah untuk menciptakan lapangan kerja di AS, dan menutup defisit perdagangan, serta memperoleh ‘kesepakatan menguntungkan’ bagi rakyat Amerika.

Dan Cina khususnya, selalu dibidik, bukan hanya dalam masalah perdagangan.

Akhir dari kebijakan Satu Cina?

Percakapan telepon antara Trump dan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen pada awal Desember lalu telah mendobrak keprotokolan AS selama empat dasawarsa.

Beijing menganggap Taiwan sebagai sebuah provinsi mereka, dan menolak klaim negara itu sebagai negara merdeka -yang merupakan prioritas utama kebijakan luar negeri Cina, sesuatu yang sudah lama oleh AS diakui juga sebagai kebijakan ‘Satu Cina.’

Presiden Taiwan baru-baru ini mengatakan bahwa “segala sesuatunya bisa dirundingkan, termasuk kebijakan yang disebut Satu Cina.” Lalu Cina menanggapinya dengan mengatakan bahwa prinsip tersebut tidak bisa ditawar.

Posisi yang bertentangan ini menimbulkan berbagai pertanyaan serius atas jalur hubungan antar Cina dan AS yang merupakan dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia.

Tapi Trump menunjukkan tingkat pragmatisme pada isu-isu lain yang berhubungan dengan Cina. Trump awalnya menyebut Cina sebagai manipulator mata uang, namun sebutan itu ia hapuskan saat terpilih menjadi presiden. Ia kini malah mengatakan akan ‘berbicara dulu dengan mereka.’

Kesepakatan nuklir Iran bisa dikaji lagi

Bagi Presiden Obama, kesepakatan dengan Iran berupa pencabutan sanksi ekonomi internasional dengan imbalan negeri itu menghentikan upaya membuat senjata nuklirmerupakan suatu ‘kesepahaman bersejarah.’

Tapi untuk Donald Trump, yang menyuarakan lagi kekhawatiran Partai Republik, itu merupakan “kesepakatan terburuk perundingan yang pernah saya lihat.”

Ia pernah mengatakan bahwa membatalkan kesepakatan tersebut merupakan ‘prioritas utamanya,’ tapi sekarang ia mengatakan tidak ingin menunjukkan apa yang akan ia lakukan.

“Siapa yang bermain kartu dengan menunjukkan tangan ke semua orang sebelum memainkannya?” katanya dalam sebuah wawancara dengan majalah Times.

Menghapuskan kesepakatan itu akan memberikan dampak besar pada Timur Tengah. Iran adalah pemain kunci dalam konflik Suriah dan merupakan seteru Arab Saudi dan Israel.

Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif mendesak Trump untuk tetap berkomitmen dengan kesepakatan nuklir. Ia menyarankan AS harus menghormati kesepakatan mengingat perjanjian itu disepakati bersama sejumlah negara adidaya lain.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei malah pernah melontarkan kalimat paling kasar. “Jika mereka merobeknya, kita akan membakarnya,” seperti dikutip oleh kantor berita Associated Press.

Lebih banyak lagi senjata nuklir di Asia?

Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat juga menimbulkan berbagai pertanyaan seputar keamanan di Asia.

Presiden terpilih AS itu bukan hanya mengejutkan Cina atas komentarnya terhadap Taiwan, tapi calon Menteri Luar Negerinya, Rex Tillerson sudah mengatakan niat untuk memblokir akses Cina ke pulau-pulau buatan yang dibangun di kawasan Laut Cina Selatan, yang memicu peringatan akan terjadinya ‘bentrokan militer’ dari surat kabar pemerintah Cina.

Jepang dan Korea Selatan sudah disebut secara khusus oleh Trump sebagai negara yang terlalu mengandalkan AS. Ia bahkan mengatakan bahwa akan lebih baik kalau mereka memiliki persenjataan nuklir mereka sendiri.

Kemudian ada negara ‘bandel’ di kawasan ini: Korea Utara, yang berusaha mengembangkan senjata nuklir mereka.

Trump mengemban tugas untuk membatasi ambisi-ambisi nuklir itu, sesuatu yang gagal dilakukan para pemimpin AS sebelumnya.

Belum jelas, bagaimana ia bisa mengatasi hal ini, tetapi ia telah mengusulkan negosiasi langsung dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

Menanggapi pengumuman terbaru dari Kim Jong-un bahwa Korea Utara akan melakukan uji coba rudal jarak jauh yang mampu membawa hulu ledak nuklir dalam waktu dekat, Trump hanya menjawab lewat twitnya: “Itu tidak akan terjadi.”

Apakah ia memiliki suatu strategi dalam benaknya, tidak diketahui. Namun seorang calon presiden paling tak bisa ditebak berurusan dengan suatu negeri paling tak bisa ditebak di dunia, membuat Korea Utara akan menjadi semacam titik api dalam tahun-tahun mendatang.

Perombakan kesepakatan perubahan iklim

Presiden terpilih Donald Trump mengatakan bahwa ia akan ‘membatalkan’ Kesepakatan Iklim Paris dalam waktu 100 hari setelah menjabat sebagai presiden dan akan melakukan segala upaya untuk membalikkan peraturan perubahan iklim yang diupayakan oleh Presiden Obama.

Trump berulang kali menyanggah bukti ilmiah tentang perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia, dan menyebutnya sebagai ‘dongeng.’

Bagaimanapun, seperti terjadi pada berbagai masalah lainnya, ia telah menyatakan pandangan berbeda kepada New York Times pada bulan November bahwa ia mengakui memang ada “sejumlah keterkaitan’ antara kegiatan manusia dan perubahan iklim, dan mengatakan ia memilih untuk ‘memeriksa lagi’ Kesepakatan Paris, dan bukan langsung menarik diri dari perjanjian tersebut.

Bahkan jika ia ingin melakukan hal itu, Amerika Serikat tetap saja secara hukum terikat pada rencana Paris selama empat tahun. Terdapat juga ‘hambatan hukum dan prosedural’ yang akan mencegah Trump dalam niatnya melakukan perombakan total kebijakan iklim AS, kata The New York Times.

Sejumlah kritikus mengatakan sikapnya bisa menyebabkan pemerintah lain yang skeptis terhadap permasalahan iklim, untuk mengurangi upaya mereka dalam memangkas emisi pemanasan-bumi.

Rencana presiden terpilih untuk membatalkan Perjanjian Paris, sikapnya yang meremehkan proyek Clean Power Plan Presiden Obama dan tekadnya untuk terus mendorong penggunaan batubara dikecam oleh para pegiat lingkungan di seluruh dunia.

Tapi para pendukung bahan bakar fosil mengatakan rencana Trump adalah memprioritaskan kebutuhan para keluarga di Amerika dengan memberikan mereka energi yang terjangkau selain mendongkrak ekonomi dan menciptakan lebih banyak kesempatan (kerja) bagi generasi mendatang.[fq/islampos]

loading...
loading...