ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Lupa Rakaat dalam Shalat, ini Solusinya

0

Advertisements

Rasulullah SAW bersabda:

أصلي رأيتموني ا كما صلو

“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat!” (HR. Baihaqi)

UMAT Islam diperintahkan untuk mengikuti tata cara shalat seperti yang diajarkan Rasulullah SAW. Bukan hanya gerakan dan bacaan, melainkan semua hal ikhwal shalat. Mulai dari niat dan takbir hingga salam. Demikian juga bila terjadi kesalahan atau kekhilafan dalam shalat.

Adakalanya di dalam shalat, seorang muslim lupa jumlah rakaat yang sudah dikerjakannya. Nah, bagaimana jika begitu?

Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah menceritakan, suatu ketika Rasulullah SAW lupa jumlah rakaat ketika shalat. Seusai shalat, beliau ditanya para sahabat, apakah ada perubahan jumlah rakaat shalat?

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Saya hanyalah manusia biasa. Saya bisa lupa sebagaimana kalian lupa. Jika saya lupa, ingatkanlah saya. Jika kalian ragu tentang jumlah rakaat shalat kalian, pilih yang paling meyakinkan, dan selesaikan shalatnya. Kemudian lakukan sujud sahwi.” (HR. Bukhari & Muslim)

Begitulah tuntunan yang diajarkan Rasulullah ketika lupa jumlah rakaat dalam shalat. Rasul memerintahkan untuk melakukan sujud sahwi.

Apa itu sujud sahwi?

Kata sahwi artinya lupa. Disebut sujud sahwi karena sujud ini dilakukan ketika lupa rakaat dalam shalat. Sujud sahwi disyariatkan dalam rangka menutup kekurangan ketika shalat disebabkan lupa.

Kondisi lupa semacam apa yang menyebabkan seseorang dianjurkan untuk melakukan sujud sahwi?

Pertama, kekurangan jumlah rakaat. Ketika terjadi kekurangan rakaat shalat dan baru sadar seusai shalat, maka langsung menambahkan jumlah rakaatnya yang kurang lalu sujud sahwi setelah salam.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami salah satu shalat siang, Zhuhur atau Ashar. Ketika pada rakaat kedua, beliau salam. Lalu beliau pergi ke sebatang pohon kurma di arah kiblat masjid. Sementara Di antara jamaah ada Abu Bakar dan Umar, namun keduanya takut berkomentar. Sementara jamaah yang punya urusan sudah keluar sambil mengatakan, ‘Shalatnya diqoshor.’ Hingga datag sahabat yang bergelar Dzul Yadain mendekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah shalat diqashar ataukah anda lupa?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menengok ke kanan kirinya, ‘Betulkan apa yang dikatakan oleh Dzul Yadain?’ Jawab mereka, ‘Betul, Ya Rasulullah. Anda shalat hanya dua rakaat.’ Lalu beliau nambahi dua rakaat lagi sampai salam. Lalu beliau sujud sahwi dua kali, dipisah dengan duduk sebentar. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat yang lain, dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengimami shalat Asar lalu beliau salam pada raka’at ketiga. Setelah itu beliau pulang. Seorang sahabat bernama al-Khirbaq menyusul beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, memanggil, ‘Ya Rasulullah!’ Lalu dia menyebutkan kejadian tadi. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke tempat imam dan menanyakan, ‘Apakah benar yang dikatakan orang ini?’ Mereka menjawab, ‘Ya benar’. Beliaupun menambahkan satu rakaat, hingga salam. Setelah itu beliau melakukan sujud sahwi dengan dua kali. Kemudian beliau salam lagi.” (HR. Muslim)

Kedua, kelebihan jumlah rakaat. Ketika ada orang yang kelebihan jumlah rakaatnya, maka langsung sujud sahwi setelah salam.

Sahabat Ibnu Mas’ud pernah menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami lima raka’at. Seusai shalat, kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah anda menambah dalam shalat?’ Lalu beliau pun mengatakan, ‘Apa yang terjadi?’ Sahabat menjawab, ‘Anda telah mengerjakan shalat lima raka’at.’ Lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya aku hanyalah manusia semisal kalian. Aku bisa memiliki ingatan yang baik sebagaimana kalian. Begitu pula aku bisa lupa sebagaimana kalian pun demikian.’ Setelah itu beliau melakukan dua kali sujud sahwi.” (HR. Muslim)

Ketiga, meninggalkan tasyahud awal. Meninggalkan tasyahud awal karena lupa. Ini ada 2 keadaan:

Pertama, dia baru teringat setelah berdiri sempurna ke rakaat berikutnya. Dalam kondisi ini, dia tidak perlu turun lagi, dan melanjutkan shalatnya sampai selesai. Kemudian nanti sujud sahwi sebelum salam.

Kedua, dia teringat sebelum bangkit ke rakaat berikutnya. Dalam kondisi ini dia langsung duduk tasyahud dan melanjutkan shalat sampai selesai.

Sahabat al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengimami kami shalat dzuhur dan asar. Tiba-tiba beliau berdiri (lupa tasyahud awal) lalu kami mengingatkan,  ‘Subhanallah’. Beliaupun mengucapkan ‘Subhanallah’. Dan berisyarat dengan tangannya menuruh kami untuk berdiri. Lalu kami berdiri ke rakaat ketiga. Ketika selesai tasyahud, beliau sujud sahwi sebelum salam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila kalian bangkit setelah mendapat 2 rakaat, dan belum berdiri sempurna maka hendaknya dia kembali duduk tasyahud. Dan jika dia sudah berdiri sempurna, maka jangan duduk, dan lakukan sujud sahwi dua kali.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Keempat, ragu jumlah rakaat. Ragu mengenai jumlah rakaat ketika shalat ada 2 keadaan:

Pertama, orang yang ragu jumlah rakaat dan dia bisa menentukan mana yang lebih meyakinkan.

Dalam keadaan ini, dia ambil yang lebih meyakinkan, kemudian sujud sahwi setelah salam. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian ragu dengan jumlah rakaat ketika shalat, pilih yang paling meyakinkan, dan selesaikan shalatnya, sampai salam. Kemudian lakukan sujud sahwi dua kali.” (HR. Bukhari & Muslim)

Kedua, orang yang ragu jumlah rakaat, dan dia sama sekali tidak bisa menentukan mana yang lebih meyakinkan. Dalam keadaan ini, dia memilih yang lebih sedikit rakaatnya dan sujud sahwi sebelum salam. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian ragu dalam shalatnya, dan tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, tiga ataukah empat rakaat maka buanglah keraguan itu, dan ambilah yang yakin. Kemudian sujudlah dua kali sebelum salam. Jika ternyata dia shalat lima rakaat, maka sujudnya telah menggenapkan shalatnya. Lalu jika ternyata shalatnya memang empat rakaat, maka sujudnya itu adalah sebagai penghinaan bagi setan.” (HR. Muslim)

Jadi, dalam keadaan lupa rakaat sekalipun, tetap ada solusinya, yaitu dengan melakukan sujud sahwi tersebut. []

SUMBER: CARASHOLAT.COM

 

Artikel Terkait :

loading...
loading...

Sponsored

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline