ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Tahnik, Sunnah Nabi untuk Si Bayi Baru Lahir

0

Advertisements

MENTAHNIK adalah menguyah sesuatu lalu meletakkan dan mengusap-usapkan kunyahan itu di mulut bayi. Hal ini dilakukan agar bayi mau makan dan membuatnya kuat.

Namun, mentahnik yang dimaksudkan di sini adalah mentahnik bayi yang baru lahir yang disyariatkan oleh Allah melalui petunjuk Rasul-Nya dengan cara menyuapinya sedikit buah kurma yang sudah dikunyah dan dibasahi. Selain sunnah yang dianjurkan, mentahnik juga akan membuat bayi merasa tenang dan aman atas kelangsungan makanannya.

Ia akan merasa mendapatkan perhatian, terlebih lagi buah kurma yang diberikan kepadanya dikunyah terlebih dahulu, sehingga meningkatkan kadar gula yang disukai olehnya. Dalam tuntunan ini terkandung pengertian melatih sang bayi agar nanti terbiasa mengonsumsi makanan barunya yang ia sedot dengan mulutnya agar terbiasa.

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Nabi saw sering didatangi para orang tua yang membawa bayinya untuk dimintakan berkah dan ditahnik.

Dalam Ash-Shahihain disebutkan bahwa Asma’ ra mendatangi Rasulullah sambil membawa bayinya. Ia bercerita, “Rasulullah mentahniknya dengan kurma lalu mendoakan dan memintakan berkah untuknya.” Keterangan dalam hadits ini menjelaskan anjuran membawa bayi yang baru lahir ke orang saleh agar mendapatkan doa mereka.

Masih dalam kitab Ash-Shahihain, diriwayatkan bahwa Anas bercerita, “Ketika Ummu Sulaim melahirkan bayi laki-laki, dia menyerahkan kepadaku untuk dibawa kepada Nabi saw. Aku membawa kurma dan membawa bayi itu kepada Rasulullah yang saat itu mengenakan baju Abaya. Beliau bertanya, ‘Apakah kamu membawa kurma?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Selanjutnya beliau mengambil beberapa butir kurma, mengunyah dengan mulutnya, dan membasahinya dengan ludah. Kemudian beliau membuka mulut si bayi dan menyuapkan buah kurma itu ke mulutnya. Bayi itu mengisap-isapnya dengan senang, sehingga Rasulullah bersabda. ‘Kesukaan orang-orang Anshar adalah buah kurma.’ Usai mentahnik, Nabi saw memberi nama Abdullah dan setelah anak itu tumbuh menjadi besar ternyata tiada seorang pemuda pun dikalangan Anshar yang lebih baik daripada dirinya. []

Sumber: Islam Parenting, Pendidikan Anak Metode Nabi/Karya: Syaikh Jamal Abdurrahman/Penerbit: Aqwam Jembatan Ilmu

 

loading...
loading...

Sponsored

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline