Inilah Surga yang Disegerakan

0

 

Oleh: Mulkan Fauzi

“Keluarga” kidung saujana dalam sebuah nasyid, “Bagai Surga disegerakan. Para suami rela akui kelemahan.”

Keluarga tak mesti seperti…
Kapal feri; besar, namun sering tinggalkan dermaga berbulan lamanya.

Tak juga bagai…
Speed boat; cepat, tapi agaknya kurang perhatian pada panorama.

Takaran bahagia dalam lingkup berkeluarga laiknya lakara; kecil, tapi terkayuh pasti. Lambat, namun netra dapat lincah menangkap panorama. Dan, seimbang karena ada tangan yang sigap mempertahankan. Komunikasi tiap segmen yang terpintal rapi membuat sang sederhana menjadi istimewa. Ruang sempit menjadi mahligai berdipan emas permata.

John Gray dalam bukunya ‘Men are from Mars, Women are from Venus’ mengatakan, “Pada dasarnya, seorang lelaki merasa perlu untuk dibutuhkan, sementara perempuan merasa perlu untuk merasa disayangi”.

Selayaknya, sebuah keluarga tak akan pernah bisa lepas dari kerangkeng pertengkaran, tidak bisa tidak, pasti akan dialami. Maka, komunikasi adalah jalan paling elok yang tersajikan. Bukan saling salah-menyalahkan antar segmen/anggota keluarga, melainkan sebaliknya, saling akui kesalahan masing-masing. Dan karena suami adalah poros, sudah mutlak perlu memiliki kepekaan yang lebih daripada istri dan anak. Sigap mempertahankan keseimbangan.

Satu kisah…

“Anak pertama kami dilahirkan lewat operasi caesar. Istri saya, si fulanah, masih merasa linu sehingga ia meminum obat pereda rasa sakit. Kami merasa kepayahan, karena anak kami rewel dan cengeng; selalu ‘mengganggu’ kami saat tengah malam.

Suatu hari, ketika saya sedang bekerja, Istri saya mengerang sakit, sementara obatnya sudah habis tak bersisa. Tapi kemudian yang ia telpon bukan saya, melainkan adik saya. Lantas ia menyuruhnya untuk membeli obat pereda rasa sakit. Entah bagaimana, adik saya tidak kembali membawa obatnya. Dampaknya, istri saya mengerang sakit seharian. Saya tak bisa bayangkan bagaimana rasa sakitnya hari itu.

Ketika saya pulang ke rumah, saya dapati ia tengah kacau; salah tafsir, yang kemudian menjadikan keadaan lebih kacau. Saya mengira ia menimpahkan kesalahan pada saya. Ia berkata dengan nada marah, ‘Aku kesakitan sepanjang hari ini. Aku kehabisan obat dan tak ada yang peduli!’

Lantas saya menjawab, ‘Lalu kenapa tidak meneleponku?’

Ia kembali berkata, ‘Aku menghubungi adikmu. Aku menunggunya seharian. Apa yang bisa aku lakukan ketika ia tak kembali? bahkan berjalan pun aku tak mampu!’

Saya kesal, jengkel, dongkol, marah. Ketika saya hendak melangkah keluar rumah dan tak peduli, ia menghentikanku dan berkata, ‘Berhenti, janganlah engkau meninggalkan aku. Ini adalah saat dimana aku paling, paling membutuhkanmu, aku belum tidur seharian ini karena kesakitan. Tolong dengarkan aku.’

Lantas saya pun menghentikan langkah, lalu berbalik mendengarkannya.

Ia berkata, ‘Suamiku, engkau adalah teman hidupku sekarang. Engkau adalah orang yang aku pilih untuk menemaniku meniti jalan bahagia. Engkau adalah orang yang baik, selama aku juga baik. Tetapi saat aku tidak, engkau malah akan pergi meninggalkanku.’

Ia berhenti sejenak, menghela nafas. Saya lihat matanya mulai gerimis, lalu ia melanjutkan, ‘Saat ini aku tengah kesakitan, tolong jangan pergi. Ini adalah saat dimana aku sangat membutuhkanmu. Tolong peluk aku, pegang tanganku. Engkau tak perlu bicara apa-apa.’

Saya pun memeluknya erat dan menyeka air matanya. Dia berterimakasih karena saya tak meninggalkannya saat itu. Inilah kali pertama saya merasakan cinta. Cinta yang sebenarnya.

Dia benar, saya baik padanya hanya saat ia baik, tetapi ketika ia sedang ‘tak baik’ saya malah tak suka, bahkan akan meninggalkannya. Disana saya mengerti, bahwa memang, seorang istri butuh untuk disayangi tanpa mengenal kondisi. Dan saya, suami, akan selalu dibutuhkan tanpa mengenal kondisi juga.”

Pelukan, adalah pereda ketegangan. Dan komunikasi adalah jalan untuk menujunya.

Munna, seorang mafia taat orang tua dalam film ‘Munnabhai M.B.B.S’, saat ia gemetar dan merasa ketakutan, ibunya selalu memeluk erat dirinya. Ajaib! seluruh tekanan menghilang. Sehingga Munna menamainya dengan Pelukan Surga.

Keluarga adalah surga yang disegerakan, jika terjalin komunikasi yang elegan dan tentu selalu taat pada Allah SWT.[]

Tasikmalaya, 19/2/2015

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline