ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Tubuh Berdarah, Apakah Batalkan Wudhu?

Foto: Pixabay
0

WUDHU adalah syarat sah seorang hamba sebelum melaksakan shalat agar terbebas dari najis kecil. Tanpa wudhu maka shalat seseorang adalah tidak sah. Namun seorang hamba dapat batal wudhunya karena beberapa perkara.

Wudhu yang telah batal akan membatalkan pula shalat seseorang sehingga mengharuskannya untuk berwudhu kembali. Lalu bagaimana jika tubuh berdarah, apakah hal itu membatalkan wudhu?

Darah yang keluar dari tubuh seseorang, selain kemaluannya tidaklah membatalkan wudhu, sama saja apakah darah itu sedikit ataupun banyak. Demikian pendapat Ibnu ‘Abbas, Ibnu Abi Aufa, Abu Hurairah, Jabir bin Zaid, Ibnul Musayyab, Mak-hul, Rabi’ah, An-Nashir, Malik dan Asy-Syafi’i. (Nailul Authar, 1/269-270).

Dari kalangan ahlul ilmi ada yang membedakan antara darah sedikit dengan yang banyak. Bila keluarnya sedikit tidak membatalkan wudhu namun bila keluarnya banyak akan membatalkan wudhu. Hal ini seperti pendapat Abu Hanifah, Al-Imam Ahmad dan Ishaq (Nailul Authar, 1/269).

Adapun dalil bahwa darah tidak membatalkan wudhu adalah hadits tentang seorang shahabat Al-Anshari yang tetap mengerjakan shalat walaupun darahnya terus mengalir karena luka akibat tikaman anak panah pada tubuhnya (HR. Al-Bukhari secara mu‘allaq dan secara maushul oleh Al-Imam Ahmad, Abu Dawud dan selainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 193).

Seandainya darah yang banyak itu membatalkan wudhu niscaya shahabat Rasulullah SAW itu dilarang untuk mengerjakan shalat. Dan tentunya akan mendapat teguran dari Nabi SAW atas shalat yang ia kerjakan tersebut dan akan diterangkan kepadanya atau siapa yang bersamanya.

Karena mengakhirkan penjelasan/ penerangan pada saat dibutuhkan penerangannya tidaklah diperbolehkan. Mereka para shahabat radhiallahu ‘anhum sering terjun ke dalam medan pertempuran hingga badan dan pakaian mereka berlumuran darah. Namun tidak dinukilkan dari mereka bahwa mereka berwudhu karenanya dan tidak didengar dari mereka bahwa perkara ini membatalkan wudhu. (Sailul Jarar, 1/262, Tamamul Minnah, hal. 51-52). Wallahualam. []

Sumber: Asysyariah.com

loading...
loading...