islampos
Media islam generasi baru

Jangan Jadi Da’i Selebritis

Foto: Chirpstory
0

SANGAT penting bagi seorang muslim memiliki semangat dan rasa tanggungjawab yang ting- gi untuk menunaikan tugas dakwah. Hal ini karena, disamping dakwah tugas yang amat mulia, juga amat dibutuhkan oleh umat manusia sejak dulu, kini hingga hari kiamat nanti.

Melalui media massa cetak dan elektronik, seorang da’i tidak hanya sekadar dikenal oleh masyarakat tapi juga menjadi amat populer atau da’i kondang. Bagi seorang da’i popularitas bukanlah tujuan. Boleh saja seorang menjadi populer karena dakwahnya dan selanjutnya popularitas itu digunakannya untuk kepentingan dakwah, amar makruf dan nahi munkar.

Oleh karena itu, seorang da’i kondang tidak akan terjebak oleh popularitas. Ia tetap mengarahkan dirinya sebagai dai sejati. Sikap diri seorang da’i adalah tetap mengedepankan nilai-nilai Islam.

Pertama, ikhlas dalam berdakwah yang membuatnya terus berdakwah meskipun berat dan menuntut pengorbanan harta dan jiwa.

Kedua, tawadhu atau rendah hati sehingga popularitasnya tidak membuatnya menjadi sombong apa- lagi merasa paling benar.

Ketiga, sederhana dalam hidup sehingga tidak ada jarak dengan semua kalangan.

Keempat, melayani dakwah kepada semua kalangan: bawah atau elit.

Karena itu, Nabi Muhammad Saw mendapat teguran langsung ketika beliau tidak suka dengan kedatangan Abdullah bin Ummi Maktum yang merupakan masyarakat “kelas bawah”, sementara beliau sedang berdakwah kepada kalangan elit. Ketidaksukaan beliau ditampakkan dalam bentuk wajahnya yang masam atau cemberut. Teguran itu terdapat dalam surat Abasa yang tidak membolehkan Nabi bersikap demikian.

Tampilan pribadi seorang da’i dalam ceramah atau dakwah adalah dengan menampakkan wajah santun dan ramah. Bukan tegang, kesal apalagi garang. Seorang dai mesti memilih kata-kata yang sebaik mungkin dalam mengutarakan pendapat serta berpakaian yang Islami, rapi, serasi sehingga enak dipandang.

Adapun isi ceramah, materi dak- wah hendaknya disajikan dengan singkat berkisar antara 20 hingga 60 menit, tergantung pada situasi acara. Khutbah Jum’at atau nasihat per- kawinan cukup 20 sapai 25 menit, ceramah kematian, pindah rumah, arisan dan sejenisnya cukup 30-45 menit, sedangkan ceramah umum sekitar 45-60 menit.

Penyampaian harus padat, sistematis, dan menarik sehingga jamaah memiliki kesimpulan yang utuh. Ceramah juga argumentatif, yakni memiliki kadar keilmuan yang memadai.

Untuk bisa berdakwah dengan materi, materi ceramah harus betul- betul dikuasai, bukan dihafal kata perkata, bila dalil ayat dan hadits tidak begitu dihafal hendaknya dicatat dengan baik dan boleh saja dilihat saat kita berceramah. Dalam hal materi, kuasai tema-tema yang banyak dan bervariasi sehingga kapanpun kita harus memberikan ceramah. Bahkan saat diminta secara mendadakpun kita sudah siap dan seorang da’i memang harus selalu siap untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah.

Hal lain yang amat penting untuk diperhatikan adalah ceramah jangan menggurui apalagi memvonis, tapi lakukanlah ceramah yang menggugah, karenanya gunakan kata “kita”, bukan “anda” apalagi “kalian”. Contohnya adalah kalimat berikut: “Bagaimana mungkin anda bisa disebut muslim yang sejati bila membaca Al-Qur’an saja tidak bisa?” Ini merupakan kalimat yang menggurui, tapi gunakanlah kalimat: “Bagaimana mungkin kita bisa disebut muslim yang sejati, bila membaca Al-Qur’an saja kita tidak bisa?”

Sebagai selingan dalam ceramah, mungkin saja seorang penceramah menyelipkan humor-humor segar yang tidak mengada-ada, sesuai dengan materi yang dibahas dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam serta tidak terlalu banyak dari porsi waktu yang tersedia. Seorang da’i bukanlah seorang pelawak, namun dalam dakwahnya ia juga bisa menghibur. []

Sumber: Majalah Saksi, Jakarta

loading...
loading...