ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

Foto: LinkedIn
0

Oleh : Dede Arif Rahman
dedearif@gmail.com

SAYA bersama keluarga tinggal di Batujaya, Kabupaten Karawang, tepatnya di Desa Telukbango. Sebuah desa yang terletak jauh dari pusat kota Karawang, dengan jarak kira-kira 40KM. Karena aktivitas lebih banyak di Karawang, maka hampir setiap hari saya bolak-balik Karawang – Batujaya.

Pada pertengahan 2007 sedang ada perbaikan jalan antara Pisangsambo sampai Telukbango, berupa pembetonan. Sudah kita maklumi bersama, bahwa proses pembetonan jalan tentu lebih sulit dan memakan waktu lebih lama dibanding pengaspalan atau hotmix. Tapi hasilnya tentu jauh lebih awet dan kokoh dibanding hotmix.

Lebih dari satu bulan, perjalanan saya selalu terhambat karena adanya perbaikan jalan tersebut. Bukan hanya saya, bahkan semua orang yang melalui jalan itu pasti terganggu. Namun saya perhatikan, tidak ada satu orang pun yang aral atau marah-marah kepada para pekerja pembuat jalan tersebut. Padahal gara-gara mereka yang sedang bekerja itu perjalanan jadi terganggu. Para pengguna jalan itu dengan sabar menanti giliran dan menunggu aba-aba dari petugas untuk bisa melewati jalan yang sedang diperbaiki.

Kenapa hal itu bisa terjadi? Tentu dengan mudah kita bisa tahu jawabannya, yakni karena adanya harapan bahwa setelah itu mereka akan memiliki jalan yang jauh lebih baik dari sebelumnya, juga lebih awet. Mereka mengetahui bahwa proses menuju lebih baik sedang berjalan, walau pun untuk itu mereka harus rela terhambat perjalanannya.

Tahun itu adalah masa-masa yang cukup berat dalam hidup saya dan keluarga. Namun ketika melihat fenomena itu, timbul optimisme dalam diri. Saya yakin, bahwa Allah sedang memberikan pelajaran berharga untuk menjadi lebih baik dan lebih tangguh dalam menjalani kehidupan. Saya yakin, bahwa bersama kesulitan ada kemudahan, dan bersama kesulitan ada kemudahan (Allah pun menyembutkannya dua kali dalam Al-Qur’an Surat Al-Insyirah, yang berarti Allah ingin menegaskan bahwa benar-benar bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan).

Karena itu jangan pernah memandang negatif suatu kesulitan. Jangan pernah menganggap ia sebagai bencana yang merupakan akhir dari segalanya. Sesungguhnya ia adalah adalah proses yang harus dijalani untuk menjadi lebih baik. Melalui kesulitan, sesungguhnya Allah sedang mempersiapkan diri kita untuk mendapatkan anugerah-Nya, sebagaimana ilustrasi jalan beton tadi.

Karenanya kita harus ridha menjalani prosesnya. Jangan pernah kita menolak proses itu dengan cara lari dari kenyataan. Jika kita menolaknya, dan berkelit dari kesulitan dengan cara yang tidak disukai Allah, maka kita akan jatuh pada kesulitan yang lebih berat lagi. Apalagi jika sampai terpikir mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Na’udzubillahi min dzalika.

Percayalah, keadaan pasti akan membaik. Kesulitan pasti akan berlalu berganti kemudahan. Hari-hari itu akan Allah pergilirkan di antara manusia, baik kesulitan maupun kemudahan. Jika langit sudah mendung oleh awan yang pekat, suara halilintar menggelegar mengagetkan dan membuat tegang, itu tandanya sebentar lagi akan turun hujan yang menyuburkan bumi yang tandus. Setelah itu langit akan cerah kembali, bahkan dihiasi pelangi yang berwarna-warni, indah dipandang dan menyejukkan hati.

Kita tidak dapat menghindari takdir. Yang harus kita lakukan adalah menjalani takdir apa pun dengan cara positif dan disukai Allah, baik takdir berupa kesulitan maupun kemudahan. Baik berupa musibah maupun kenikmatan.

Seorang mukmin itu akan selalu dalam keadaan baik, apakah ketika ia mendapat musibah dan kesulitan, atau pun ketika mendapat kenikmatan dan kemudahan. Semua urusannya pasti baik. Betapa tidak..? Ketika mendapat nikmat dia bersyukur yang tentunya mendatangkan pahala dan kebaikan. Barangsiapa bersyukur, maka akan Allah tambah lagi nikmat-Nya. Ketika mendapatkan kesulitan dia bersabar. Bukankah sabar mendatangkan pahala..? Dan bukankah pahala adalah kebaikan..?

Maka seorang mukmin tidak boleh takut dan tidak boleh sedih. Apa pun yang menimpa kita, selama Allah mendapati kita selalu dalam taat pada-Nya, maka kita sedang dalam kondisi baik.

Jadi, kalau ada yang bertanya kepada kita, “Apa kabar…?” Tidak ada jawaban kecuali, “Alhamdulillah… Saya dalam kondisi baik..!” dan tidak ada kamus mengeluh dalam kehidupan seorang mukmin. []

Kirim RENUNGAN Anda lewat imel ke: islampos@gmail.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word. 

loading...
loading...