Tentang Ujian, Belajar dan Menjadi Orang Berilmu

Foto: Tatin Robiatin Hasanah/Islampos
0 48

BULAN April dan Mei 2017 adalah bulan dimana anak-anak sekolah Menengah dan Dasar di Indonesia melaksanakan Ujian Nasional. Setelah itu disusul oleh Ujian Kenaikan Kelas (UKK) pada awal Juni (www.websitependidikan.com). Perguruan tinggi pun sama, melaksanakan ujian akhir semester pada bulan-bulan antara Mei, Juni dan Juli.

Pada intinya ujian dilakukan untuk mengukur dan mengevaluasi hasil belajar. Untuk menghadapi ujian dengan baik dan mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan tentu perlu ada persiapan yang baik pula. Persiapan utamanya yaitu belajar.

Memang, suasana belajar akan sangat kental sekali ketika masa-masa ujian. Saya ingin sedikit bercerita. Pada saat ini Saya sedang tinggal di Liverpool untuk menemani suami melanjutkan studi di salah satu Universitas di Liverpool, United Kingdom.

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan email dari perpustakaan kampus yang intinya memberitahukan agar visitor atau anggota perpustakaan yang bukan student di sana untuk tidak masuk ke perpustakaan semasa ujian berlangsung (15 Mei 2017- 2 Juni 2017). Visitor boleh masuk kembali ke perpustakaan setelah masa ujian usai. Email tersebut dikirim seminggu sebelum pelaksanaan ujian.

Selain email, jauh sebelumnya juga sudah terpampang pengumuman di papan-papan pengumuman perpustakaan yang kurang lebih sama dengan isi email yang dikirimkan.

Alasan visitor tidak diperbolehkan masuk adalah karena perpustakaan akan sangat penuh oleh para student yang tengah belajar dan mengerjakan tugas untuk persiapan ujian yang mereka hadapi. Bahkan perpustakaan menyediakan ruangan tambahan untuk para student belajar. Mereka sampai ada yang tertidur disana, juga membawa bekal makanan sebagai amunisi dan minuman untuk tetap kuat belajar.

Sebetulnya, suasana seperti ini di hari-hari biasa sudah nampak, namun meningkat drastis di masa ujian. Di hari-hari biasa pun Saya bisa merasakan suasana belajar yang kuat. Bahkan penampilan student yang bertato, selengean, tampang seperti preman, bisa dengan serius belajar. Namun, jangan salah setelah penat belajar, di akhir pekan kebanyakan dari mereka pindah memenuhi klub-klub malam, bar-bar, kafe-kafe, pulang sangat larut. Ya, mereka serius belajar dan di akhir pekan ‘serius’ juga nongkrong di bar.

Tempat saya tinggal di Liverpool termasuk tempat juga di mana para student tinggal. Sehingga Saya sering bertemu mereka di jalan, bis, halte bis, supermarket, taman dan mall. Pemandangan pasangan muda yang berpacaran, ciuman di tempat umum (bukan hanya student saja saya kira) mudah dijumpai dan menjadi hal yang dianggap biasa.

Mereka bisa melakukannya di halte bis ketika menunggu bis, di taman, sambil menunggu antrean kasir dan tempat umum lainya. ATM kondom akan sangat mudah didapatkan di tempat umum seperti toilet mall dan stasiun. Ini memang sudah menjadi budaya Barat, yang sayangnya juga sudah hampir menjadi budaya juga di Timur, khususnya di Indonesia. Miris sekali kalau menelisik data pergaulan bebas di Indonesia, negeri yang mayoritas penduduknya muslim cenderung meningkat setiap tahunnya. Bahkan sudah menjadi negeri darurat zina.

Menurut BKKBN 63 % remaja sudah pernah melakukan seks pra nikah. Tidak hanya itu kenakalan remaja pun mengalami hal yang sama.

Melihat fenomena demikian, dimana satu sisi pendidikan semakin meningkat, belajar dengan serius, ujian terus dilaksanakan, mencari ilmu dari satu jenjang ke jenjang lebih tinggi berlomba-lomba diraih. Tapi di sisi lain moral semakin bobrok, manusia berperilaku layaknya seperti binatang, memuaskan hawa nafsu sesukanya.

Memang, tidak semua pelajar, mahasiswa dan kaum muda berprilaku demikian. Ada juga yang berprestasi dalam bidang akademik, olahraga, seni dan lainnya. Tidak ikut-ikutan terjerumus ke dalam gaul bebas dan kenakalan remaja. Justru sebaliknya, turut serta berkontribusi bagi kebaikan di tengah masyarakat dengan aktif berorganisasi dan berdakwah. Berprestasi saja tidak cukup, tapi juga mulia. Menjadi mulia dengan ilmu yang ia punya.

Menjadi orang berilmu bukan hanya pandai dalam suatu bidang tertentu saja. Ilmu yang ia punya bisa bermanfaat bagi kemaslahatan manusia. Lebih dari itu menjadi orang berilmu adalah seperti yang dikatakan oleh Imam Sya’bi ketika seseorang berkata kepadanya. “berilah aku nasihat wahai orang alim!” Maka Imam Sya’bi menjawab; Orang alim (berilmu)adalah orang yang takut kepada Allah SWT”.

Pelajar di Inggris dan pelajar di Indonesia sama-sama manusia. Manusia adalah makhluk cipataan Allah SWT. Inggris memang mayoritasnya bukan muslim, tidak pecaya kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Kemajuan pendidikan dan ilmu pengetahuannya di bidang sains dan teknologi, keseriusan dan kesungguhan belajarnya bisa dicontoh. Namun, tidak perilaku-perilaku sekulerisme-hedonismenya.

Sebagai seorang muslim yang diciptakan oleh Allah SWT untuk tujuan beribadah kepada Nya maka tentu ilmu yang dimiliki harus dibaregi dengan tuntunan dari Allah dan Rasulullah. Menjadi seorang berilmu, berarti menjadi orang yang takut kepada Allah SWT, takut untuk melanggar apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Perasaan takut ini terhimpun dalam makna takwa, yakni melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan menjauhi laranganNya.

Harapan menjadi orang berilmu, manusia-manusia bertakwa tentu hanya menjadi isapan jempol belaka selama kita masih meninggalkan ajaran Islam, mengekor budaya seklerisme-hedonisme ala barat.

Kembali kepada soal ujian dan belajar. Belajar memang bukan semata untuk ujian. Tapi, belajar itu jalan untuk kita bisa menjadi seorang yang berilmu. Sebagai manusia yang dikaruniai akal, belajar adalah suatu hal yang membuatnya bisa mengarungi hidup ini dengan tetap sebagai predikatnya sebagai manusia bukan binatang.

Belajar, menuntut ilmu, mempunyai keterampilan tentu bukan hanya dibatasi untuk sebatas ujian di sekolah, namun untuk menjalani ujian kehidupan yang sesungguhnya. Bagaimana menghadapi segala macam ujian kehidupan, mulai dari hal yang kecil sampai hal yang besar. Bagaimana membentuk mental yang tidak rapuh ketika mendapat musibah, tidak mudah stres ketika mengalami kekecewaan, tidak mudah terseret arus kehidupan yang bebas dan tantangan zaman lainnya dengan ilmu dan rasa takut terhadap Allah SWT, Tuhan pencipta alam semesta. []

Kirim OPINI Anda lewat imel ke: [email protected], paling banyak 2 halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri. 

loading...
loading...