ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Emmanuel Macron Menang Pemilu, Bagaimana Nasib Muslim Prancis?

Foto: newsweek
0

PRANCIS—Pemilu Prancis baru saja usai dan menunjuk Emmanuel Macron sebagai pemenangnya. Macron mengalahkan saingannya, Marine Le Pen dengan perolehan 65 persen suara, jauh mengungguli Le Pen yang hanya 35 persen.

Berbagai Media menyebut kemenangan Macron dianggap mengejutkan bagi Prrancis. Sebagai politisi muda, Macron diremehkan karena disebut masih kurang berpengalaman untuk masuk ke dunia perpolitikan. Bahkan Mantan PM Prancis Manuel Valls sempat memandang remeh dan menyebutnya dengan istilah “populis kelas ringan.”

Namun, Macron tampil sebagai ‘anti-mainstream’ di dunia elit sehingga menjadi harapan baru bagi warga pendukungnya dan akhirnya berhasil mengantarkan pria dengan dompet berisi jutaan euro itu menuju Istana ‘Elysee.’ Setelah macron menang, pertanyaannya sekarang, bagaimana nasib Muslim di bawah kepemimpinan sang mantan bankir itu?

Mengutip MINA, selain mempromosikan globalisasi ekonomi dan deregulasi nasional, Macron juga dikenal akan melonggarkan kebijakan terkait imigrasi dan menangani serta mempersatukan kaum imigran dengan pengungsi.

Salah satu kebijakan Macron terkait imigran adalah menambah lima ribu pasukan penjaga perbatasan Uni Eropa, melakukan pelatihan kepada semua pemimpin agama untuk mengenali faham sekuler yang diterapkan Prancis, menjadikan bahasa Prancis sebagai kualifikasi utama untuk menjadi warga negara.

Sementara saingan terbesarnya, Le Pen, mengatakan akan membatasi imigran dengan ketat setiap tahun, dan pencari suaka hanya akan dilayani pengurusannya di luar Prancis. Dia bahkan menyebut imigran adalah tragedi bagi Prancis. Imigran utamanya datang dari negara-negara timur tengah yang mengalami konflik seperti Suriah, Libya, Irak, dan negara lainnya di Afrika.

Pria yang akan melarang penggunaan telepon bagi pelajar SD di sekolah itu pernah memuji Kanselor Jerman Angela Merkel karena membuka pintu bagi para pengungsi. Dia mengatakan Perancis harus menerima pengungsi dengan alasan “perlindungan”, namun akan menindak pencari suaka dengan mengembalikan mereka ke negaranya.

Pada 2015, Le Pen pernah membuat sakit hati umat Islam di Perancis saat menyamakan Muslim yang tengah melakukan shalat berjamaah di jalan dengan Nazi. Macron menyebut Le Pen datang dari “Partai Kebencian.”.

Dalam kampanyenya, Macron mengatakan, “Saya tidak menerima orang dihina karena mereka percaya Islam.”

Le Pen juga berencana melarang hijab di seluruh tempat umum di Perancis. Dia juga akan melarang penyembelihan hewan di hari idul adha Muslim, namun tradisi kurban Yahudi akan tetap diperbolehkan.

Melihat hal itu, Muslim di Perancis mengaku lebih setuju memilih Macron yang dianggap akan menerima mereka sebagai minoritas. Macron dikatakan sebagai “Obama” nya Prancis, sementara Le Pen sebagai “Trump” nya Prancis.

Namun, tidak sedikit juga yang berpikir dukungan Macron terhadap Muslim dalam kampanye-kampanyenya tidak akan berlangsung lama. Muslim Prancis tidak pernah lupa dengan mantan Presiden Nicolas Sarkozy. Saat kampanye pilpres tahun 2009, Nicolas mengelu-elukan Muslim dan membela hijab wanita seperti yang dicitrakan Macron saat ini. Sembilan tahun kemudian, Nicolas melarang pemakaian hijab di negara itu.

Meningkatnya pengungsi di Prancis juga tidak dipungkiri menambah angka pengangguran di negara itu. Macron yang belum dketahui dengan detail programnya, tentu akan membuat cara untuk menekan angka ini. Salah seorang aktivis anti Islam terkemuka di Prancis, Yasser Louati, mengatakan Macron tidak akan membawa perubahan berarti untuk kelas pekerja dan minoritas. []

loading...
loading...