Wawancara

Ustadz Adnan Arsal: ‘Muslim Poso Membela Haknya Kenapa Disebut Teroris?’

Kamis 12 Rabiulawal 1434 / 24 Januari 2013 10:25

adnan arsal 300x225 Ustadz Adnan Arsal: Muslim Poso Membela Haknya Kenapa Disebut Teroris?

Kedamaian di Poso pudar sejak 1998, sejak polisi tidak lagi menegakkan hukum, sejak tentara membiarkan umat Islam dibantai. Namun anehnya, ketika Muslim Poso bangkit, membela haknya, mereka malah dituding sebagai teroris. Lantas apa akar masalahnya? Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan Media Umat Joko Prasetyo dengan Ketua Forum Perjuangan Umat Islam Poso Ustadz Adnan Abdurrahman Saleh (Arsal). Berikut petikannya.

Tanggapan Anda terhadap kasus salah tangkap 14 orang di Poso?

Kemarin ketika Kapolri ke Poso saya langsung protes. Saat itu, Kapolri datang didampingi Panglima TNI dan Kepala BIN. Saya katakan bahwa polisi itu pengecut! Tidak masuk akal ini! Mengapa Brimob ketika ditembak, tidak mengejar penembak? Malah kembali ke masyarakat dan menangkap 14 orang warga itu.

Brimob memukuli mereka hingga babak belur, ada yang patah tulang rusuknya, berbiru-biru muka, mata bengkak, jadi babak belur masyarakat. Brimob pun memaki mereka dengan perkatakan yang sangat kasar, “Kamu ini semua binatang, anjing, babi.”  Mereka pun dibawa ke Polres Poso, ditahan tujuh hari, keluarganya tidak boleh menengok.

Ini pendidikan macam apa yang diberikan polisi di Poso? Polisi itu penegak hukum tetapi malah melanggar hukum juga. Harus dituntut dong. Pak Kapolri harus mengusut. Kalau prajurit melakukan itu, saya katakan, tidak mungkin prajurit melakukan tindakan tanpa komando.

Sehingga ini sudah bukan lagi persoalan Poso, ini sudah menjadi persoalan negara. Institusi yang tidak bertanggung jawab di dalam mengelola pengamanan negara. Untuk itukah? Maka yang harus dituntut bukan hanya prajuritnya tetapi juga komandannya, termasuk Kapolda Sulawesi Tengah.

Ada apa di balik tindakan pengecut Brimob itu?

Untuk memperpanjang urusan. Agar isu terorisme tetap ada.

Mengapa begitu?

Supaya ada pekerjaan.

Bayangkan saja 500 orang aparat, satu kompi, sangat bisa mengejar dan menyergap penembak itu, namun tidak disergap. Malah kembali ke desa dan menangkapi warga yang tidak bersalah? Apakah tidak memperpanjang urusan namanya. Jadi saya tidak habis pikir, apa sih maunya aparat dalam menyelesaikan masalah ini?

Tindakan brutal ini tidak bisa diterima oleh masyarakat. Lantas, bagaimana polisi bisa menanamkan kepercayaan kepada masyarakat—kalau polisi pelindung masyarakat—bila  begitu caranya? Inikah cara polisi mendidik masyarakat? Jadi jangan heran kalau masyarakat akan balas dendam juga dengan melakukan tindakan kekerasan kepada polisi, karena polisi mendidik begitu.

Kemudian masyarakat yang menembak, dituduh lagi sebagai teroris, kemudian polisi salah tangkap lagi, main bunuh di tempat lagi, tidak akan selesai masalah. Polisi itu penegak hukum, bukan hukum! Kalau polisi bertindak tidak sesuai hukum, sama saja dengan penjajah ini!

Bila ditelusuri ke belakang, sebenarnya seperti apa sih awalnya kok Muslim Poso disebut teroris?

Kami tidak bisa menerima, kalau kami yang dulu membela hak-hak kami, kemudian dibilang teroris. Caranya Kristen dulu membunuh itu, jauh lebih sadis dari orang yang dituduh polisi teroris. Kalau kami menuntut hak kami, kami dibilang teroris, saya bilang Muslim Poso itu sudah dibikin babak belur oleh Kristen pada waktu itu. Tapi Kristen tidak dibilang teroris.

Sekian kompi pasukan datang dari Jakarta, bantuan-bantuan BKO dari tempat lain masuk ke Poso. Kasihan masyarakat yang tadinya damai, melihat aparat yang datang arogan-arogan seperti itu, resah masyarakat, pengamanan seperti apa itu?

Datang ke mari bukan menangkap teroris, tetapi masyarakat yang disiksa. Masyarakat tidak bisa kerja ke ladang, dihadang di tengah jalan, tidak boleh ke luar rumah. Padahal masyarakat bekerja hari ini untuk makan hari ini, siapa yang mau memberi masyarakat makan hari ini?

Menderita masyarakat, tidak ada kepedulian pemerintah terhadap hal ini. Sekali lagi, ini bukan masalah Poso lagi, ini masalah negara. Negara yang tidak bisa menangani masalah keamanan di daerah dengan profesional! Tidak berdasarkan undang-undang. Hanya mengikuti maunya sendiri, arogan! Yang terlihat di masyarakat, hanya menyakitkan masyarakat.

Orang Islam dituduh teroris tetapi mengapa Kristen tidak?

Itu lagunya Amerika, yang negara kita pakai. Padahal negara ini berdaulat, mampu menentukan nasibnya sendiri, jangan nurut-nurut saja ke Amerika. Masa, orang-orang Poso yang mengikuti majlis taklim disebut ada gejala-gejala teroris? Shalat berjamaah disebut gejala teroris? Ini namanya membonsai ajaran Islam. Umat ini mau jadi apa kalau tidak didakwahi, kalau tidak ada majlis taklim?

Jadi kalau kita mengikuti lagunya Amerika?

Sama juga dengan pelecehan terhadap agama Islam. Kalau Islam mengajarkan jihad ketika melawan penjajah, melawan kezaliman. Kalau tidak ada jihad, mau jadi apa kita ini? Kalau tidak ada jihad, kita jadi pengecut dalam beragama. Padahal jihad itu ajaran Islam yang murni. Kalau ada orang yang memelesetkan ajaran jihad, itu dosanya orang yang memelesetkan.

Tetapi orang yang memahami “jihad” yang sebenarnya, kok dipelesetkan jadi “teroris”? Itu orang sudah mengikuti lagunya Amerika! Amerika kan takut kalau melihat umat Islam berjihad! Lihat di Suriah, kezalimannya sudah luar biasa maka masyarakat bangkit berjihad. Takut Amerika itu!

Jadi kalau Amerika bilang “teroris, teroris, teroris,” jangan diikuti. Lagunya Amerika itu.

Inti masalah kasus 1998 itu apa?

Hanya persoalan anak-anak meminum minuman keras, berkelahi. Persoalannya, mengapa polisi tidak menyelesaikan perkelahian anak-anak yang minum minuman keras itu? ditangkap orang yang minum itu, malamnya dilepaskan. Anak-anak marah, karena orang yang minum itu sudah membacok remaja masjid. Karena tidak terima, maka anak-anak ini main hakim sendiri, dibakarlah rumah orang  yang membacok remaja masjid itu.

Persoalannya semakin kacau, karena umat Kristen sekabupaten kemudian menyerang ke kota. Sekabupaten, jelas tidak mungkin tanpa komando. Menurut saya, mabuk dan kemudian membacok itu merupakan skenario saja, karena mereka memang sudah berencana untuk menyerang.

Buktinya?

Polisi pun tidak menyelesaikan kasus pembacokan itu, malah kemudian setelah anak-anak terpancing, orang Kristen sekabupaten menyerang Kota Poso, menghabisi umat Islam.

Setelah kita berdamai, berkumpul antara tokoh Islam dan Kristen, tiba-tiba malamnya Kristen menyerang. Empat kali kita berdamai, empat kali mereka menyerang. Tidak bisa lagi ditolelir lagi pengkhianatan Kristen itu. Terpaksa saya serukan untuk berjihad!

Mengapa?

Umat Islam sudah dihabisi oleh mereka. Jawabannya tinggal jihad sekarang. Kezaliman yang seperti itu perlu adanya jihad karena polisi sudah tidak mampu mengamankan. Umat Islam dihanyutkan di sungai tanpa kepala, Muslimah disobek perutnya, diiris buah dadanya, ada juga Muslimah yang dipancangkan tombak di kemaluannya.

Bagaimana dengan TNI?

TNI hanya membiarkan mereka masuk, melihat dan membiarkan mereka menyerang umat Islam! Saya tanya pada komandan yang berjaga waktu itu, mengapa mereka dibiarkan masuk? Jawabannya, “karena tidak ada perintah dari atas.”  Lho, umat Islam sudah ratusan jadi korban, mereka tidak mau mengamankan? Ini namanya pembiaran.

Tapi kan akhirnya Tibo dan kedua temannya ditangkap dan dieksekusi mati?

Memang, mereka kan melakukan penyerangan, tetapikan bukan hanya Tibo cs. Ada 16 nama yang disebut Tibo di pengadilan yang merancang kerusuhan itu. Bahkan Tibo buat buku itu. Itu bisa dipertanggungjawabkan oleh pengacara Tibo cs.

Cuma anehnya, negara tidak mau mengambil sikap untuk mengusut yang 16 orang ini. katanya kalau dituntut lagi, itu bakal ribut. Ini tanggung jawab pejabat pemerintah sangat berat di Hari Kemudian karena tidak menyelesaikan masalah ini secara hukum.

Yang 16 orang itu siapa?

Pendeta dan pejabat pemerintah daerah waktu itu termasuk Yahya Patiro dan Limpadeli. Sampai sekarang ke-16 orang itu dibiarkan, tidak pernah dipanggil. Padahal banyak bukti dan testimoni dari saksi yang diberikan kepada satgas dari Jakarta waktu itu, Saut Nasution. Bahkan Saut mengatakan akan membawa berkas bukti dan kesaksian tersebut ke Jakarta untuk diproses, tetapi sampai detik ini tidak ada satu pun yang diproses.

Ada apa sebenarnya di belakang semua ini? Umat Islam terus ditekan, ditekan, ditekan dituduh teroris. Sedangkan Kristen dibiarkan, tidak disebut teroris. Itu bentuk ketidakadilan. Negara macam apa kok mengambil kebijakan semacam ini?

Redaktur: Rayhan



Peluang