Nasional

TPFR: Kedatangan Densus Buat Masyarakat Bima Alami Gangguan Psikis

Senin 2 Rabiulawal 1434 / 14 Januari 2013 08:05

masjid bima 300x225 TPFR: Kedatangan Densus Buat Masyarakat Bima Alami Gangguan Psikis

TIM Pencari Fakta dan Rehabilitasi (TPFR) Bima menyatakan dari hasil laporan investigasi tahap pertama, sebagian masyarakat Bima mengalami traumatis psikis dan terintimidasi atas aksi Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror di Bima, Nusa Tenggara Barat.

“Selama ini Densus 88 melakukan justifikasi secara sepihak atas keterlibatan beberapa masyarakat Bima, termasuk kasus tembak di tempat para terduga terorisme,” kata ketua TPFR Bima, Hadi Santoso dalam keterangan persnya di Jakarta, Ahad (13/1/2013).

Tindakan asal tembak itu menimpa Bachtiar Abdullah (35), warga Bima yang ditembak mati polisi karena dituding sebagai teroris dan memiliki keterkaitan dengan jaringan Poso.

“Justru saya pertanyakan apa salah suami saya sehingga dibunuh seperti itu.  Dasarnya apa Densus tembak mati suami saya,” tanya Nuraini, istri Bachtiar, setelah suaminya meregang nyawa.

Nuraini merasa ada yang janggal dengan alasan Polisi bahwa suaminya merupakan salah satu pelaku jaringan Poso. “Suami saya tidak pernah keluar daerah sehari pun. Setiap harinya tetap ada di rumah,” ungkapnya.

Pagi harinya pergi jualan kue, sore harinya main sama anak-anak. Bila sudah waktu sholat, pergi sholat ke mesjid. Pernyataan Polri yang menyebutkan Bachtiar, digerebek seusai turun dari camp pelatihan, amat janggal.

“Camp pelatihan dimana. Sejak kapan suami saya ikut pelatihan di camp. Siangnya, suami saya masih ada di rumah. Coba suami saya pernah tidak ada di rumah barang sehari, bisa saja dituduh seperti itu,” bantahnya.

Meski keberatan atas penembakan terhadap suaminya, namun Nuraini mengaku tidak akan mencari keadilan melalui jalur hukum. “Kami tidak akan menuntut, biarlah Allah yang menghukum Densus,” timpalnya. (Pz/Islampos)

 

Redaktur: Rayhan



Peluang