Dirosah

Tiga Model Kepemimpinan

Ahad 13 Rejab 1433 / 3 Juni 2012 06:46

OrangLeaderOnPodiumSM 300x225 Tiga Model Kepemimpinanislampos.com–MODEL kepemimpinan umat sangat berpengaruh terhadap kemajuan dan kemunduran sebuah bangsa. Karenanya Islam mengajak umatnya untuk memilikinya kembali. Agar anugerah nikmat dari Allah SWT. dapat berfungsi lagi dan bertambah. Anugerah nikmat tersebut adalah model kepemimpinan umat. Kepemimpinan yang mesti dimiliki umat agar mereka mendapatkan hidup yang lebih baik, adil, sejahtera dan sentosa. Model kepemimpinan itu ialah:

Kepemimpinan Spiritual (Zi’amah Dieniyah)

Kepemimpinan Moral spiritual yang akan memberikan contoh pada umat tentang apa yang perlu diperbuat dan dilakukan pada kehidupan bermasyarakat. Sehingga masyarakat tidak terjerumus pada jurang kehancuran moral yang akan membawa kesengsaraan kehidupan bangsa. Kepemimpinan ini menjadi patokan dalam masyarakat yang dicontohkan langsung oleh pimpinan masyarakat untuk menjadi panutan dalam akhlak, ibadah, kesantunan, kedermawanan, perilaku keluhuran dan lainnya. Kemudian menyerukan pada masyarakat dengan penuh kesabaran agar dapat mengikuti jejak dan langkah perbuatannya. Serta memberikan kesadaran akan pentingnya moral bagi kehidupan berbangsa.  Dengan begitu masyarakat tidak lagi mencontoh perilaku keperibadiannya kepada figur-figur yang keliru.

Kepemimpinan Politik (Zi’amah Siyasiyah)

Kepemimpinan politik yang mengatur birokrasi dan administrasi masyarakat dengan  mengkedepankan pelayanan dan pengabdian. Bukan sebagai pemeras rakyat dan penyengsara umat. Hal ini akan terjadi bila kepemimpinan struktural dipimpin oleh orang-orang shaleh yang kridible. Kridibelitas mereka untuk memimpin umat lantaran kemampuannya dapat menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan benar.

Kepemimpinan Intelektual (Zi’amah Ilmiyah)

Kepemimpinan intelektual dapat mencerdaskan kehidupan umat. Kepemimpinan ini dapat diraih bila semangat intelektual kembali menggeliat. Sehingga menciptakan kecerdasan umat secara massal. Seluruh elemen masyarakat dapat memahami perkembangan zaman serta dapat mengerti alur kehidupan. Dengan itu tidak ada lagi unsur masyarakat yang menjadi obyek penderita dan terus dibodohi atas kebijakan dan sikap orang lain. Dari sana umat ini akan menjadi sokoguru dunia dalam ilmu pengetahuan. Setiap hari selalu muncul hal-hal baru. Setiap waktu ada penemuan baru (QS. Al Baqarah: 282).

Oleh karena itu kajian sirah harus menghantarkan pada bangkitnya semangat juang untuk merebut kembali model kepemimpinan umat terlebih lagi di hari ini, sehingga umat dapat merasakan kenikmatan dalam hidup yang penuh anugerah. Kehidupan mereka tidak terzhalimi sedikitpun. Bahkan mereka dapat dengan jelas melihat harapan dan obsesinya ke depan. Wallahu ‘alam bishshawaab.

 

Redaktur: Saad Saefullah



Peluang