Analisis

Telenovela A La Densus Di Bandung

Jumat 29 Jamadilakhir 1434 / 10 Mei 2013 07:38

Densus 88 Antiteror

Oleh: Rap Al Ghifari

LAGI dan lagi masyarakat Indonesia disuguhkan berita memuakkan: Dagelan teroris. Teranyar, penggerebekan yang dilakukan densus di Bandung. Drama pengepungan dilakukan enam jam, dari siang sampai malam. Dan sekali lagi, darah tercecer dimana-mana, korbannya pun meninggal dunia.

Sudah lama saya meninggalkan televisi, tapi dari sejumlah informasi disebut dagelan teroris di Bandung, ada yang disiarkan TV secara langsung. Tak heran, masyarakat justru semakin muak. Di jejaring sosial, seperti Fb pun muncul begitu banyak komentar sinis yang ditujukan kepada densus.

Banyak pula jurnalis yang geli. Di status jejaring sosialnya mereka berkomentar ragam hal. Tapi apa boleh buat jurnalis hanya jurnalis, yang harus manut perintah pemilik media. Berita ‘sandiwara’ pun tetap harus naik, ditulis atau ditayangkan. Inilah zaman pers industri, media massa telah digenggam dan dikuasai kapitalis. Ini pula yang menjadi potret satu paradok media di Indonesia.

Tak semua berita yang dihimpun dan dinaikkan, sesuai dengan nurani jurnalisnya. Termasuk soal dagelan teroris ini. Apalagi, berkali-kali isu teroris selalu mengundang kemuakkan masyarakat. Contoh sederhannya, bisa dilihat dari komentar publik terhadap berita terkait, di media online. Hampir sebagian besar isinya menyindir densus.

Bahkan, komentar pedas tak datang hanya dari masyarakat Muslim. Mereka yang non Muslim juga ikut menuliskan kekesalannya terhadap densus. Dari sini kemudian bisa ditarik benang merah: Sesungguhnya, langsung maupun tidak, sadar atau tidak, densus dan kepolisian justru mengkerdilkan dirinya sendiri. Apa sebab?

  1. Banyak kejanggalan dalam setiap aksi pembunuhan densus terhadap terduga
  2. Beberapa kali densus menunjukkan arogansinya, bahkan lewat media
  3. Penembakan yang menghilangkan nyawa korban, merobek nilai kemanusiaan
  4. Adegan drama-drama penggrebekan menelanjangi logika masyarakat Indonesia
  5. Waktu penggerebekan menggunakan pola yang sama: Dilakukan tak jauh dari mencuatnya isu seksi yang menyudutkan pemerintah atau aparat.

 

Tapi, kasus di Bandung kali ini betul-betul menjungkirbalikkan akal sehat masyarakat. Banyak yang menilai aksi itu menggelikan. Penuh kejanggalan. Tak pantas dilakukan. Apalagi dipertontonkan. Di tengah isu seksi yang menyudutkan pemerintah dan aparat, densus justru membuat adegan kekonyolan.

Jika biasanya aksi densus dinilai keji dan sekadar pengalhan isu, aksi di Bandung mendapat penilaian lebih pedas lagi: bak telenovela. Perumpaan aksi penggerebekan dengan telenevola justru datang dari Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S Pane.

Setelah membaca berita terkait yang dilansir Okezone, saya pun terinspirasi membuat tulisan ini. Tepat sekali apa yang dikemukakan Ketua IPW tersebut. Neta mempertanyakan beberapa hal tekait penggerebekan di Bandung. Ia menanyakan:

  1. Apakah terduga betul-betul kuat dan profesional hingga penyergapan dilakukan 6 jam
  2. Apakah terduga lebih kuat dari Nordin M. Top, yang penyergapannya dilakukan lebih cepat
  3. Apakah amunisi terduga begitu banyak
  4. Kenapa polisi tidak menggunakan gas air mata tapi malah menembak dengan peluru tajam
  5. Kenapa pimpinan Polri ikut turun tangan dan menggunakan megaphone
  6. Kenapa kasus terorisme di Indonesia tidak ada habisnya
  7. Apakah isu terorisme sudah seperti narkoba hingga jadi bisnis gurih bagi pelakunya
  8. Apakah isu ini berkaitan dengan banyaknya bantuan asing ke Polri
  9. Kenapa bantuan asing ke Polri tak pernah diaudit secara transparan

 

Neta pun menyebut, “Sepertinya elite-elite Polri sengaja memainkan isu teroris, terutama teroris yang disergap di Bandung, dengan cara-cara teaterikal yang dramatis dan menegangkan ala telenovela.” Demikian dilansir Okezone, Kamis (9/5) pukul 10.02 WIB. Berita itu ditulis dengan judul: Penyergapan Terduga Teroris Bandung Bak Drama Telenovela.

Sudah banyak berita, analisa para pengamat, cercaan masyarakat dan sejumlah data yang menyebut rentetan kebringasan densus. Bahkan, beberapa waktu lalu sempat muncul video yang menghebohkan soal penyiksaan densus terhadap korban. Desakan pembubaran densus pun menguat. Tapi, seperti ada hidden power di belakang densus.

Faktanya, bukannya densus segera dibubarkan karena banyak bukti kekejian, kejanggalan, cercaan dan desakan; tapi justru kian membuat kekonyolan. Dagelan. Pembunuhan, yang disiarkan.  Entah dari mana logikanya: penggerebekan kerap membawa awak media, kantong mayat, pasukan berjumlah besar, serta cara penyergapan yang selalu merobek nilai kemanusiaan.

Entah apa gunanya UU 39/1999 tentang HAM dan UU 26/2000 tentang Pengadilan HAM. Dan kemana juga larinya para aktivis HAM hingga suaranya tenggelam? Untuk apa pula pemerintah kita merativikasi konvensi Anti Penyiksaan; jika televonela ala densus masih terus dipertontonkan. Sudah saatnya telenovela aparat dihentikan. Benar-benar dihentikan.

Campur tangan asing dalam dagelan teroris ini terasa, ada, tapi tak terlihat. Bagaimana mungkin anggota TNI yang pernah ditembak mati sparatis, tapi densus diam saja. Bagaimana mungkin sparatis yang membuka kantor perwakilannya di Inggris hingga menginjak harga diri Indonesia, tapi tetap tak terlihat ceceran darah mereka.

Sebaliknya, korban-korban pembunuhan dan penyiksaan densus langsung divonis tanpa ada bukti jelas jatuhnya korban pengeboman yang mereka lakukan. Apalagi dagelan di Jalan Bangka, Jaksel yang disergap hanya gara-gara berniat mengebom kantor kedubes Myanmar. Logikanya: baru niat sudah ditangkap. Ini lebih hebat dari Malaikat!

Sementara, sudah ratusan triliun uang rakyat yang digondol koruptor-koruptor. Dengan bukti dan tersangka jelas. Tapi dakwaan dan vonisnya, sungguh melukai masyarakat. Menyayat keadilan. Koruptorlah sang teroris. Merusak peradaban, membunuh kesejahteraan puluhan juta masyarakat. menghilangkan harapan generasi bangsa.  Tapi mana peran aparat?

Berharap pada aparat, memang tak lagi menjadi harapan masyarakat. Jual beli hukum, deal-deal khusus terhadap suatu kasus bukanlah barang langka di negeri ini. Tapi, haruskah membunuh dan menyiarkannya di depan media? Haruskah terus membodohi masyarakat? Hanya di rezim sby kasus teroris kian banyak.

Bahkan, sampai detik ini kita pun jelas apa sesungguhnya makna dari teroris. Jika berpatok pada KBBI, tentu banyak yang bisa dikategorikan sebagai teroris. Menurut KBBI online, kbbi.web.id: arti teroris adalah orang yg menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut. Lah, jika mengacu pada ini banyak sekali yang bisa dikategorikan sebagai teroris.

Lucunya, kenapa terduga di Jalan Bangka, yang belum terbukti mengebom kedubes tapi sudah disergap? Kenapa pula hanya para aktivis Muslim yang dituduh. Aneka simbol Islam, pesantren sampai buku-buku Islam disudutkan. Bahkan, nama Rohis pun sempat dikerdilkan. Termasuk ajaran-ajaran Islam ikut dilecehkan.

 

Optimalkan Kekuatan Media Islam

Melihat fakta demikian, sebagai umat Muslim kita tentu tak pernah rela Islam selalu diinjak. Dikambinghitamkan lewat dagelan bernama: penggerebekan yang dimainkan densus. Karenanya harapan umat untuk membubarkan densus perlu dijaga terus. Minimal dengan tiga hal:

–       Desakan kuat dari umat Muslim dan masyarakat luas di Indonesia

–       Desakan Ormas Islam yang tidak henti-henti

–       Kekuatan Media Islam

Poin yang ketiga menarik. Sebab, kekuatan Media Islam mulai diperhitungkan. Semangat kekompakkan dan perjuangannya membela kepentingan umat kian menggeliat. Tapi sepertinya masih ada beberapa hal yang kiranya bisa lebih dioptimalkan: Kecepatan informasi dan kesabaran mengawal suatu isu tertentu sampai tuntas.

Membenahi kecepatan informasi barangkali perlu waktu lebih lama. Karena di dalamnya harus ada SDM yang banyak dan handal, manajemen dahsyat dan dana yang kuat.  Paling tidak, yang saat ini ril bisa dilakukan kesabaran mengawal isu sampai tuntas.  Desakan pembubaran densus sempat ramai dan menjadi running news. Tapi berselang waktu akhirnya menghilang, mungkin, ‘tergoda’ isu lain.

Sementara densus tetap ‘berulah’ lagi.

Apalagi saat penangkapan di Bangka, yang waktunya tak jauh dari rencana aksi damai umat Muslim ke kedubes Myanmar. Bahkan ada yang menyebut, rencananya ormas Islam akan difasilitasi untuk bertemu Dubes Myanmar agar tak demo. Tapi, ormas Islam menolak. Tiba-tiba terjadi penangkapan terduga dengan tudingan: mau ngebom kedubes. Validitas kabar itu perlu penelusuran lagi.  Jika benar, bisa digunakan sebagai satu ‘peluru’ pembubaran densus.

Hal terpenting, semoga kesabaran dan konsentrasi isu pembubaran densus bisa ditingkatkan media-media Islam, meski dalam perjalanannya bisa saja tercipta isu seksi lain. Dua kekuatan: kecepatan informasi dan kefokusan media Islam terhadap satu isu, masih kalah dibanding media sekuler.

Tapi ini bisa menjadi satu pelecut agar terus berjuang untuk umat. Semoga pekerjaan besar membela kepentingan umat kian mendapat kemudahan dari Allah Ta’ala. Umat berharap telenovela densus bisa dihentikan. Barangkali bisa dimulai dengan mengotimalkan kekuatan media Islam. Semoga. Ya Rab, lipatgandakanlah kekuatan Mu kepada orang-orang yang ingin meninggikan agama Mu. Aamiin. []

Redaktur: Saad Saefullah



Peluang