Analisis

Siapa Menang Perang Di Suriah?

Selasa 22 Rabiulakhir 1434 / 5 Maret 2013 13:40

syria and iran assad and armedijad Siapa Menang Perang Di Suriah?

MARI kita sejenak abaikan pemandangan tentang Suriah yanga tersebar di negara-negara tetangganya; antrian untuk selimut dan makanan kaleng, dan marilah kita kesampingkan pemadangan yang terhampar di Suriah sendiri, rakyatnya dikejar oleh kematian di pintu toko roti, atau rudal dan detonator di ruang bawah tanah atau bahkan gua.

Mari kita lupakan praktik brutal oleh rezim Suriah, dan tindakan kolot oleh para pejuang asing tertentu. Mari kita hanya mengajukan pertanyaan sederhana: Siapa yang menang perang di Suriah?

Para pengamat mengakui bahwa rezim Suriah telah menunjukkan perlawanan sengit dan luar biasa terhadap upaya para pejuang yanga ingin menggulingkan Bassar Al-Assad—bagi para pejuang Suriah, Assad turun adalah harga mati, apakah damai atau menggunakan kekerasan.

Hal ini sama sekali tidak mengejutkan. Suriah memiliki tangan yang berbeda dari rezim-rezim yang telah tumbang sebelumnya, katakan saja Mesir, Tunisia, atau Libya.  Selama lebih dari empat dekade, Suriah sudah membangun sebuah bangunan militer yang kuat dengan mengandalkan kesetiaan mendalam sektarian Syiah.

Kemampuan ‘bangunan’ ini adalah melampiaskan kerusakan pada daerah-daerah di Suriah dan sama sekali tidak mampu memulihkannya kembali. Di situ, ada bantuan Iran dan Russia yang melanjutkan pertempuran. Oleh karena itu, fakta bahwa tentara militer Suriah berhasil mengembalikan kontrol atas kota atau jalan-jalan tidak dapat diambil sebagai sebuah keberhasilan yang serius, karena mereka juga tidak menunjukkan kemampuan untuk menyelesaikan pertempuran dan memutar kembali waktu.

Kondisi Partai Baath, sementara itu, tidak meninggalkan ruang untuk interpretasi dan analisis. Partai ini, yang pernah memonopoli kepemimpinan negara dan masyarakat, sudah berubah jadi bemper belaka, dan tinggal menunggu pensiun saja. Jika Baath Irak mengklaim bisa digulingkan melalui intervensi asing, Baath Suriah tidak memiliki alasan yang sama.

Para pejuang juga berada dalam kondisi yang sama. Mereka sudah menyerahkan semua pengorbanan besar yang mereka miliki dan menguasai banyak wilayah Suriah, namun fakta juga menunjukkan bahwa tidak mampu menyelesaikan perang ini dengan cepat.

Sementara itu, Rusia berhasil memulihkan diri dan berdiri sebagai persimpangan wajib menuju solusi. Tapi meskipun pentingnya peran Rusia, di Dewan Keamanan PBB dan seterusnya, fakta menunjukkan bahwa Iran adalah pemain utama di Suriah—bukan Rusia. Selain itu, tidak ada kemungkinan di Suriah  bahwa setiap solusi akan menjamin posisi Moskow sama seperti sebelum letusan pergolakan Suriah.

Satu hal yang juga harus dibaca adalah bahwa Iran telah mencegah jatuhnya rezim Suriah, dan bahwa tidak mungkin ada solusi tanpa persetujuan. Tapi fakta juga menunjukkan bahwa tidak mungkin bagi Iran untuk mendapatkan situasi yang nyaman di Suriah setelah solusi itu lahir, atau sesuatu yang mirip dengan apa yang dinikmati oleh rezim Assad saat ini.

Tetapi jika kita mempertimbangkan fakta bahwa peran Iran dalam mendukung rezim Suriah praktis telah memicu konflik Sunni-Syiah di wilayah tersebut, maka kita dapat mengatakan bahwa Iran tidak menang.

Apa yang dapat dikatakan oleh Iran juga berlaku sama bagi Hizbullah di Lebanon. Hizbullah mungkin bisa memainkan peran penting dalam mencegah atau menunda runtuhnya rezim di Suriah, tetapi hanya dengan imbalan harga yang dibayar oleh Lebanon. Memang, nama terakhir telah menjadi sangat terlibat dalam garis patah Syiah-Sunni dalam beberapa bulan terakhir.
Sebuah harga yang tinggi juga dibayar oleh Hizbullah sendiri, dengan mengorbankan reputasi dan hubungan dengan masyarakat Sunni di Lebanon dan Suriah, dan juga mungkin membuka kedok-kedok mereka yang selama ini berlabel Syiah.

Hampir hal yang sama berlaku untuk Iraq dan sikap dari pemerintah Nouri al-Maliki di sana. Amerika Serikat, untuk bagian ini, tidak bisa dikatakan menang di Suriah. Iran, Iraq, Lebanon, Amerika, dan mungkin Israel sesungguhnya sedang menunggu ‘muntahan’ dari semua efek Perang Suriah sekarang ini. Namun untuk rakyat Suriah yang sudah dibantai pasukan Assad, kemungkinan untuk solusi negosiasi sangat sedikit, dan mengubah keseimbangan kekuasaan memerlukan banjir bantuan militer dan sungai darah. Satu hal yang pasti, bagi masyarakat Suriah, dua tahun perang itu sudah hilang selamanya. [sa/islampos/dar alhayat]

 

Redaktur: Saad Saefullah



Peluang