Seri Yahudi

Penjajahan Yahudi Berkedok Industri Hiburan

Rabu 18 Syawal 1433 / 5 September 2012 10:26

X Factor2 thumb 610x335 47838 Penjajahan Yahudi Berkedok Industri HiburanPERANG antara penjajah Zionis-Israel melawan rakyat Palestina sudah bukan barang baru. Pembantaian terhadap bayi dan bocah Palestina yang dilakukan tentara Zionis juga sudah kerap terdengar.

Tapi, tahukah Anda bahwa Zionis-Israel ternyata juga menggunakan sarana  “hiburan” sebagai mesin perang, dalam melumpuhkan pemuda-pemuda Palestina?

Sebuah laporan pandangan mata, yang ditulis kembali oleh Syaikh Ali Thantawi di awal 1970-an, menceritakan bahwa di sepanjang garis perbatasan yang masuk di wilayah pendudukan tentara Zionis-Israel, penguasa Zionis mendirikan banyak sekali bar dan diskotik.

Sejumlah pelacur Yahudi dipekerjakan di sana. Penguasa Zionis membayar mereka dengan gaji yang lumayan. Tugas utamanya adalah menggoda pemuda-pemuda Palestina untuk melakukan kemaksiatan. Mereka tidak saja ada di dalam bar, tapi juga berkeliaran di jalan-jalan.

Tidak seperti pelacur umumnya, wanita-wanita Zionis ini mau melayani pemuda-pemuda Palestina dengan gratis. Di dalam diskotik dan bar tersebut diedarkan pula film-film dan bacaan porno, obat-obat terlarang, dan segala hal yang membangkitkan syahwat serta melenakan.

Bagaimana dengan pemuda Palestina yang menolak diajak berbuat mesum? Seorang pendatang dari tepian wilayah Barat menceritakan, ”Para pemuda yang menolak ajakan tersebut ditangkap dan diancam oleh penguasa Zionis sebagai orang yang simpati terhadap gerakan pembebasan Palestina.”

“Tujuan penguasa Zionis adalah untuk merusak akidah Islam yang dimiliki pemuda-pemuda Palestina. Mereka menyerang para pemuda kita dengan hiburan dan serbuan budaya,” tulis Syaikh Thantawi.

Apa yang dibuat Zionis di tanah pendudukan Palestina, juga dilakukan mereka di dunia secara keseluruhan. Dengan kekuasaannya yang meliputi berbagai bidang kehidupan manusia, Yahudi berhasil menciptakan kecenderungan dunia. Globalisasi, istilahnya.

Salah satunya adalah industri gaya hidup yang sangat materialistik. Adorno, filusf yang juga salah seorang aktivis Frankfurt Institut—sebuah lembaga kajian ilmu-ilmu sosial politik di Frankfurt, menyatakan bahwa dalam masyarakat industri, keberhasilan hidup seseorang diukur dari dari seberapa banyak orang itu memiliki harta benda. Orang sudah tidak mempermasalahkan dengan jalan apa harta itu di dapat.

“Kebahagiaan yang ditawarkan oleh industri konsumsi adalah kebahagiaan semu, karena tidak membawa manusia pada pemilikan diri yang tenang melainkan membuatnya tergantung dari makin banyak benda,” ujar Adorno.

Industri gaya hidup ditopang kuat oleh media massa dan promosi yang sangat gencar. Kebutuhan hidup bukan lagi ditentukan oleh orang-perorang, tapi oleh produsennya sendiri. Kebutuhan konsumen diciptakan oleh produsen.

Seseorang baru dianggap berhasil jika kemana-mana sudah naik mobil Jaguar, bukan Kijang. Seorang politikus akan dianggap sukses jika ia menduduki jabatan tinggi, walau dengan jalan korupsi. Atau orang belumlah dianggap beradab jika masih makan di warteg, bukan di Sizzler atau Mc Donalds.

Anehnya, mungkin tanpa disadari, banyak orang yang menyatakan diri pemimpin umat—bahkan ada yang mengaku sebagai fundamentalis—yang juga terperosok ke dalam gaya hidup kreasi kaum Yahudi ini. Mobil tidak cukup satu atau dua, tapi lima, itu pun built-up semua.

Demikian dahsyatnya industri gaya hidup menciptakan manusia yang irasional. Kompetisi yang ketat dalam mencari harta benda menciptakan banyak orang stress. Sebagai jalan keluarnya, ini juga bikinan Yahudi, didirikan banyak tempat-tempat hiburan.

Selain itu, ada pula jalur untuk orang-orang yang menginginkan popularitas dengan instant. Ini adalah impian semua orang. Maka diciptakanlah aneka lomba dan pemilihan.

Dua atau tiga orang yang terpilih dan dengan sekejap menjadi selebritis bisa jadi memang pandai dan berbakat. Namun yang bahayanya adalah efek acara ini yang mampu menyihir ratsuan ribu bahkan jutaan manusia di sekitarnya menjadi para pemimpi dan boneka.

Industri hiburan dengan sigap berupaya mengeksploitasi segelintir “selebritis instant” ini menjadi mesin pencetak uang baginya. Jutaan orang mengirim sms dan mengontak premium call, antri dan bayar tiket masuk gedung konser, melupakan makan bahkan meninggalkan sholat.

Media massa seperti koran, majalah, dan tabloid pun ramai-ramai memuat berita ini. Bagai orkestra, masing-masing pihak berperan di dalam arus hiburan ini hingga menciptakan harmoni, ber-simbiosis mutualisma, dan berujung pada keuntungan yang luar biasa bagi pengusaha.

Secara materi, pengusaha meraup laba amat besar. Secara ideologis, musuh-musuh Islam bersorak kegirangan. Dalam hati mereka akan berkata, “Zweimer, kamilah tentara-tentaramu!”

Apa yang tersisa bagi kita? Keuntungan? Jelas tidak. Apa untungnya kita menonton berjam-jam acara seperti itu. Apa untungnya kita membahas sengit pertarungan antar peserta konser. Apa untungnya kita mengirim sms atau menelepon premium call. Tidak ada.

“Bukan rahasia lagi, ini adalah sesuatu yang melenakan dan melalaikan kita,” ujar pengamat dunia Islam Abu Ridho prihatin.

Padahal, seperti diucapkan oleh Adorno, di zaman seperti sekarang ini, ketampanan dan kecantikan bintang film, artis, penyanyi, dan sebagainya itu bukanlah sesuatu yang dimiliki oleh individu tersebut dalam arti sesungguhnya.

“Mereka hanya fungsi dan sekadar iklan dari masyarakat yang menindas kesadaran individu ini. Kebesaran dan kecantikan mereka hanyalah perpanjangan tangan dari kecanggihan alat fotografi dan promosi,” ujarnya.

Dengan industri gaya hidup dan hiburan, kesadaran banyak orang menjadi hilang. Orang larut dalam opini yang diciptakan. Inilah bentuk penjajahan kesadaran, penjajahan atas kemanusiaan. Dan ironisnya, banyak orang senang dan suka.

“Mereka seakan memiliki ‘pahlawan-pahlawan’ yang sesungguhnya semu. Di saat bersamaan, mereka melupakan pahlawan-pahlawan dalam artian sesungguhnya, serta melupakan sejarah bangsa ini,” papar Abu Ridho lagi.

Untuk menghadapi ini dan mengembalikan kesadaran yang hakiki memang bukan pekerjaan mudah. Bukan pekerjaan kecil. “Apalagi kita tidak memiliki media,” lanjut Abu Ridho seraya mengingatkan bahwa tugas untuk mengembalikan fitrah kemanusiaan ada di pundak semua aktivis dakwah. [rizki ridyasmara/islampos/saksi]

 

 

Redaktur: Saad Saefullah



Peluang