Editorial

Merdeka! Merdeka?

Sabtu 30 Ramadhan 1433 / 18 Agustus 2012 10:30

Indonesia merdeka    by pangerankodok Merdeka! Merdeka?

“KAMI bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta, hari 17 bulan 08 tahun 05. Atas nama bangsa Indonesia. Soekarno-Hatta”.

17 Agustus 1945. Soekarno dengan heroiknya membacakan teks proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia dari Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Suara khas Soekarno yang kharismatik itu menggema ke seluruh penjuru Tanah Air. Bahkan, menjangkau ke berbagai belahan dunia melalui bantuan media massa.

Para pejuang kemerdekaan yang dengan darah dan air matanya mati-matian berjuang dan membebaskan diri dari kolonial Jepang dan Belanda,  begitu terharu dengan proklamasi tersebut. Mereka yang selalu bersemboyan “Merdeka atau Mati” tak kuasa menahan derai air mata. Air mata yang menandakan syukur dan memuji Sang Khaliq atas berkah dan rahmat-Nya yang dikaruniakan kepada bangsa Indonesia.

Sejak saat itu, bangsa ini tak lagi dijajah secara fisik oleh imperialis, yang dalam sejarah Indonesia tercatat bangsa Portugis, Spanyol, Belanda, dan Jepang, pernah menjajah negeri kita. Kerja rodi, tanam paksa, dan kekejaman fisik yang dilampiaskan oleh para kompeni pada orang-orang pribumi yang idealis, tak lagi ada. Perjuangan yang digelorakan oleh para pahlawan bangsa ini tak kenal balas budi. Mereka dengan sekuat tenaga dan tetes darah yang penghabisan berjuang keras mengusir kolonial. Demikianlah, betapa kemerdekaan itu mahal harganya!

Mengisi kemerdekaan dengan pembangunan merupakan agenda besar pasca proklamasi. Presiden Soekarno yang pernah langsung merasakan pedih dan perih dalam berjuang pada masa awal kepemimpinannya masih tampak idealismenya. Meski untuk membangun bangsa ini diperlukan modal yang tak sedikit, namun ia berupaya untuk tidak “mengemis” pada negara-negara maju, apalagi bekas penjajah bangsa Indonesia. Tidak!

Menjadi bangsa yang mandiri menjadi tekad seorang Presiden Soekarno. Tekad ini dikukuhkan dalam pidato resminya saat merayakan HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1965. Ketika itu Soekarno memberikan judul pidatonya “Tahun Berdikari” yang dimaksudkan agar dalam membangun karakter bangsa ini tidak tergantung pada pihak asing dan berdiri di atas kaki sendiri. Pidatonya ini bisa jadi sebagai puncak dari ideologi kepemimpinannya yang menolak derasnya tawaran “investor” asing karena hal itu ia anggap sama dengan praktik imperialisme tetapi dengan “baju” ekonomi.

Dalam konsep Berdikari atau lebih dikenal sebagai “Trisakti Tavip” itu memiliki jargon: berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Konsep inilah yang tampaknya tidak disukai oleh negara-negara asing yang ingin menguasai bangsa ini tanpa disebut sebagai imperialis.

Dan, entah faktor kebetulan atau sudah didisain oleh pihak asing, tak selang sebulan, tepatnya pada 30 September 1965, terjadi peristiwa yang oleh rezim pengganti Soekarno, yakni Soeharto, sebagai Gerakan 30 September atau Gestapu atau G30S/PKI. Peristiwa ini menjungkalkan kekuasaan Soekarno dengan meninggalkan teka-teki pergantian kekuasaan yang misterius.

Pergantian kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru membawa “angin segar” bagi kekuatan asing yang bernafsu menguasai sumber daya, khususnya sumber daya alam Indonesia yang gemah ripah loh jinawi. Presiden Soeharto dengan sudinya menerima pinjaman-pinjaman dari lembaga-lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dan IMF dalam menjalankan pembangunan infrastruktur di segala bidang. Meski pada akhirnya pinjaman-pinjaman itu menjadi bumerang bagi kekuasaannya. Presiden Soeharto terpaksa harus lengser keprabon akibat krisis moneter akut pada 1997-1998.

Era reformasi yang ditandai oleh keterbukaan dan transparansi terhadap kebijakan-kebijakan publik menjadikan pemimpin bangsa ini tak lagi bisa menjalankan pemerintahannya dengan cara-cara otoriter. Aspirasi dan suara publik mendapat tempat, meski belum sepenuhnya berjalan secara ideal. Termasuk pinjaman-pinjaman asing belakangan sudah sudah mulai dikurangi.

Namun apa daya, aset-aset sumberu daya nasional seperti sektor energi, keuangan, komunikasi, sebagian sudah dikuasai pihak asing. Sehingga, kemandirian yang dicita-citakan oleh founding fathers bangsa ini tampaknya masih jauh dari harapan. Jadi, kita memang sudah merdeka dari kekuatan (fisik) bangsa asing. Tapi, merdeka dari kekuatan asing yang non-fisik (baca: pengaruh), masih menjadi tanda tanya. Entah sampai kapan! Wallahu a’lam. [misroji]


Redaktur: Saad Saefullah



Peluang