Seri Yahudi

Mengenal Sejarah Kitab Talmud

Selasa 11 Rejab 1434 / 21 Mei 2013 08:41

talmud

BANGSA Yahudi memang sejak dahulu kala bahkan ribuan tahun yang lalu sudah berulang kali merusak kitab suci yang diwahyukan oleh Allah swt kepada mereka. Bermula dari Taurat, Injil, dan mereka berusaha untuk merusak kitab suci umat Islam, Al-Quran. Tetapi untuk yang terakhir ini mereka tidak akan pernah berhasil sedikit pun karena Zat yang Maha Kuasa yang akan menjaganya dari segala tangan-tangan jahat sebagaimana firman Allah dalam Qs. Al-Hijr:9.

Studi komprehensif tentang Yahudi dan Talmud masih sedikit, masih diperlukan uraian faktual dan analisa yang besar porsinya untuk mengenal musuh bebuyutan kita itu, menurut Muhammad Husain Haikal, umat Islam baru menseriusi polemik Yahudi setelah terjadinya perang tahun 1967. Dan untuk mengetahui karakter bangsa Yahudi ini, kita harus lebih dahulu mengenal kitab suci mereka, Talmud. Sebuah kitab suci yang sangat dibanggakan oleh manusia-manusia yang menyebut dirinya sebagai Bangsa Pilihan Tuhan.

Talmud berarti ajaran atau pengetahuan, derivasi dari kata laumid dalam bahasa Ibrani yang artinya pelajaran, ada yang mengatakan pengajaran dengan perantara kitab suci, dan setelah pertengahan abad kedua maeshi ditetapkan Talmud sebagai kitab yang berisi hukum-hukum syariat kaum Yahudi.[1]

Pada prinsipnya kitab Talmud terbagi dalam dua bagian: Pertama, Mishnah sebagai naskah asli (Matan) adalah kepingan-kepongan udang-undang yang dibuat oleh bangsa Yahudi untuk kepentingan mereka sendiri, guna melengkapi kitab Taurat (Perjanjian Lama). Kitab Mishnah ini disusun sekitar tahun 190-200 SM oleh seorang bernama Judah Hanasi, kira-kira 1 abad setelah Titus dari Romawi menghancurkan Haikal (Kuil Yahudi).

Kedua, Gemara yang tersusun atas Gemara Jerussalem (Palestina) yang berisi rekaman diskusi para tokoh agama (Hakhom) yang ada di Palestina, khususnya para tokoh agama jebolan Thabariyah, saat mereka menafsirkan nash-nash kitab Mishnah. Gemara Jerussalem ini selesai dikodifikasikan pada sekitar abad ke IV Masehi. Sementara Gemara Babilon adalah hasil rekaman penafsiran MIshnah oleh para tokoh agama Yahudi di Babikonia, penyusunannya selesai sekitar tahun 500 Masehi.

Mishnah dengan tafsir Gemara Jerussalem disebut dengan nama “Talmud Jerussalem”, sedangkan Mishnah dengan tafsiran Gemara Babilon disebut“Talmud Babilon”, keduanya sejenis. Mishnah sendiri adalah kodifikasi Undang-Undang Lisan (Oral Law atau Oral Tradition) yang pindah dan beredar dari mulut ke mulut para Hakhom sejak lahirnya gerakan Pharisi. Undang-undang lisan ini disusun menurut kehendak para Hakhom itu sendiri. Gerakan Pharisi ini mencapai puncak aktifitasnya pada zaman nabi Isa u, yang kemudian melahirkan suatu aliran destruktif yang melandasi gerakan Pharisi di kemudian hari. Isa Al-Masih, Nabiyullahmengutuk gerakan kaum Pharisi.[2]

Dalam muqaddimah “Tafsir Mishnah”, filosof Yahudi Maimonides telah menuliskan definisi Mishnah sebagai berikut:

“Sejak dari guru kita Musa sampai pada Hakhom kita yang suci Judah Hanasi, para ulama belum pernah bersepakat tentang prinsip ajaran keyakinan yang harus diajarkan secara terang-terangan atas nama “Undang-Undang lIsan”. Bahkan setiap Ketua Mahkamah, sebagai Nabi pada setiap generasi, selalu membuat catatan sendiri berdasarkan apa yang pernah didengar dari para tokoh sebelumnya, yang kemudian disampaikan secara lisan kepada umatnya. Jadi setiap ulama menyusun kitab sejenis yang sesuai dengan tingkat kemampuanyyan masing-masing. Jika karya ulama itu cukup berbobot sebagai tafsir kitab Taurat dan Undang-Undang Lisan (yang tertulis itu), maka karya tersebut bias dikukuhkan oleh SANHEDRIN yaitu Mahkamah Tertinggi Yahudi. Demikianlah perkembangannya sampai pada masa Hakhom. Yahudi yang suci- Judah Hanasi, sebagai orang pertama yang menghimpun ajaran hukum, keputusan-keputusan serta uraian undang-udang yang berasal dari Musa –Guru utama kita yang harus ditaati oleh setiap generasi.[3]

Pertumbuhan Mishnah

Mishnah dalam bahasa Ibrani berarti: Ma’rifat atau Learning, juga disebut sebagai Undang-Undang Kedua (Second Law) sesudah Taurat[4]. Bangsa Yahudi berkeyakinan bahwa Mishnah berasal dari wahyu yang dturunkan kepada Nabi Musa di Thur Sinai. Dikisahkan oleh Hakhom Levi ben Chama berasal dari Simon ben Lakish –sebuah ayat yang katanya sebagai tafsiran dari Taurat, “Kau akan kami beri Lah Batu yang telah kami tulis di atasnya Undang-Undang dan Wasiat, untuk kau ajarkan kepada mereka (Exodus 24:12).

Yang dimaksud dengan Lauh adalah sepuluh wasiat (Ten Comandements); Undang-Undang yang dimaksud oleh ayat di atas adalah Undang-Undang tertulis, sedangkan Wasiat adalah Mishnah. “Yang kami tulis” berbarti yang ditulis para Nabi dari berbagai kitab suci –yang dikutip oleh kaum Yahudi- “untuk kau ajarkan” mempunyai arti kitab Gemara. Semua ajaran tersebut telah diberkan kepada Musa di Thur Sinai.

Jelaslah bagaimana para tokoh agama Yahudi iru telah menipu umatnya. Betapa mereka telah membedakan antara Lauh Bati dengan undang-undang tertulis (padahal keduanya adalah satu). Kemudian mereka mencampur adukkan antara Lauh dan Wasiat, serta menganggap bahwa Lauh itu adalah wasiat yang sepuluh, sedangkan wasiat itu adalah Mishnah. Mereka juga membohong umat dengan mengatakan bahwa kalimat “untuk kau ajarkan” bukannya ajaran Taurat tetapi apa yang diajarkan dalam kitab Gemara (mereka menganggap kitab tersebut lebih penting dari seluruh kitab yang ditulis oleh seluruh kitab yang ditulis oleh para pembesar agama Yahudi, masalah ini akan diuraikan di belakang nanti). Mereka juga telah menafsirkan “yang Kam tulis” bahwa sebyeknya kembali kepada para Nabi, padahal yang dimaksudkan adalah Tuhan.

Orang-orang Yahudi telah menambahkan, bahwa Mishnah berasal dari Musa dan telah berpindah-pindahselama 40 generasi sampai Judah Hanasi yang suci. Secara hukum bangsa Yahudi tidak dibenarkan menuliskan (membukukan) ajaran tersebut, selama kuil mereka masih berdiri sebagai Markas Besar Yahudi. Kitab Yahudi yang terpenting menyerupai Mishnah adalah kitab karya Hakhom Eliezer ben Jacob yang bernama Braitha. Kitab ini dianggap sebagai pasangan kitab Mishnah, disebabkan 102 undag-undang dari hukum syariat Talmud adalahyang ditulis oleh Eliezer ben Jacon, walaupun isinya bertentangan dengan Mishnah.

Pembahasan Mishnah

Mishnah terdiri dari 6 pembahasan yang bernama Sidarim yang berarti undang-undang yang bersifat perintah, sebagai berikut:

  1. Zeraim, berisi pembahasan mengenai masalah pertanian yang terdiri atas 11 Bab atau traktat.
  2. Moed, meliputi masalah lebaran dan puasa, terdiri atas 12 Bab.
  3. Nashim (wanita) yang memuat masalah undang-undang perkawinan, talak, nadzar dan yang bernadzar. Terdapat 7 Bab di antaranya “Abudah Zarah” yang artinya “Mengabdi pada Berhala”, jelaslah sudah melalui pokok pembicaraan ini bahwa kaum Yahudi mempunyai hubungan dengan animesme.
  4. Nezekim (darurat) berisikan undang-undang perdata dan pidana, sebanyak 10 Bab.
  5. Kodashim (semua yang dikuduskan), tentang peraturan sembahyang dan penyembahan kepada Tuhan, sebanyak 11 Bab.
  6. Toharoth (mensucikan), peraturan tentang kesucian dan najis, terdiri dari 12 Bab.

Isi keseluruhan kitab Mishnah ini adalah 63 Bab yang teruarai dalam pasal-pasal.

Talmud kadangkala juga disebut “Shash” sebagai singkatan dari kata Ibrani“Shisash Sedarin” yang artinya “Enam Hukum”. Sebagai pendamping kitab “Enam Hukum” ini adalah kitba Talmud mini (Minor Tractates) yang isinya sebagai berikut:Sefer Torah, Mezuzah, Tafilin, Tzitzith, Abadin, Kuthim dan Gerim. Selain itu masih ada 6 buah Bab lagi dalam kitab Talmud gaya baru yaitu; Aboth de Rabbi Nathan, Soferim, Semahoth, Kallah, Derech Eretz Isarel dan Derech Eretz Zuta.

Masih terdapat pula kitab mirip dengan Talmud, yaitu kitab yang bernama Midrash. Kitab ini berisi dongeng-dongeng dan hukum yang diciptakan oleh para Hakhom setelah penyusunan Talmud. Para Hakhom itu khawatir jangan sampai dongengan dan hukum yang diciptakan mereka itu tercecer dan hilang, maka mereka terpaksa membukukannya dalam kitab Midrash ini. Padahal mengabadikan Talmud sendiri membutuhkan waktu lebih dari seribu tahun.[5]

Para Arsitek Mishnah

Hakhom Akiba menyusun dan mengkodfikasikan kitab Mishnah, menyusul kemudian muridnya, Meir yang melengkapi Mishnah dan menyederhanakannya. Para pembesar Hakhom telah pula merintis penyusunan Mishnah, masing-masing menurut selera masing-masing, sampai pada Judah Hanasi yang berhasil mengumpulkan seluruh Mishnah yang ada dan menjadikannya satu kitab Mishnah yang standart. Judah Hanasi sukses menghimpun semuanya itu, terutama dalam menukil karya Meir.

Para ulama yang ikut serta dalam penyusunan Mishnah sejak matinya Hillel tahun 10 Masehi hingga selsainya penyusunannya sekitar tahun 200 Masehi disebut dengan nama Tanna’im[6], sedangkan para ulama yang terlibat dalam penyusunan tafsir utama “Gemara”, disebut dengan Amoraim. Mereka yang menambah penafsiran Talmud pada abad ke enam dan ketujuh, dinamakan Saboraim yang berarti cendekiawan (reasoners). Para Hakhom yang menafsirkan Talmud dinamakanGeonim, apabila mereka termasuk tokoh golongan Yahudi, sebutan untuk mereka adalah Posekim (penentu/desiders).

Ada suatu kekhilafan, apakah Judah Hanasi yang menghimpuan kitab Mishnah ini ataukah ilmuan (Saboraim) pada abad keenam? Menurut catatn kaum Yahudi, telah disepakati bahwa Judah Hanasi sebagai penghimpun kitab Mishnah, sedangkan pendatang berikutnya hanyalah sebagai penyunting dan penafsir.

Hukum-hukum dalam kitab Mishnah pada umunya majhul masdarnya, dianggap sebagai hukum yang bisa diterima, mungkin berasal dari pendapat hukama orang yang arif lagi bijaksana Sages (Hachamim), para guru. Pandangan para Hakhom dianggap lebih utama apabila terjadi suatu khilaf atau perselisihan dalam suatu masalah.

Bahasa kitab Mishnah adalah Ibrani Baru (Neo Hebrew) yang sudah dipengaruhi bahasa Yunani dan latin. Edisi terbaik kitab Mishnah adalah yang dicetak di Roma dan diterbitkan di Wilno, ibu kota Polandia Utara. Pada kitab Mishnah terbitab Frankrut, tahun 1927, telah ditambahkan suatu lampiran untuk kata-kata sukar, olehH.J Kassowsky. Sedangkan Mishnah yang diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh H. Dauby, terbit di Oxford pada tahun 1933.

Ada sebuah kitab penting lainnya lagi, sejenis Mishnah yaitu Braitha, berisikan ajaran para ulama Tanna’im yang hidup sesudah masa Yudah Hanasi sang penghimpun Mishnah. Untuk membedakan kitab Mishnah karya Yudah Hanasi dengan karya para ulama Tanna’im itu (Braitha), maka karya Yudah Hanasi diberi nama Mathnithan(Mishnah kami, Our Mishnah).[7]

Gemara artinya Pelengkap (Completion), penulisannya diawali oleh dua orang putra Yudah Hanasi yaitu Hakhom Gamaliel dan Hakhom Simeon. Kitab ini kemudian disusun kembali oleh Hakhom Ashi, disebuah kota dekat sungai Eufrat, Sura, dari tahun 365 sampai 425 Masehi. Kitab ini akhirnya diselesaikan penulisannya olehHakhom Akino (disebut juga sebagai Rabina). Penutup kitab ini ditulis oleh Hakhom Jose, yang pada khir hayatnya mendapat gelar dari bangsa Yahudi sebagai Pemberi Perintah (Dictator), sekitar tahun 498 Masehi. Para ulama yang mengikuti jejak langkah Hakhom Jose ini diberi gelar sebagai Pencetus Ide (Opinionost), mereka dianggap sebagai sumber hukum dari karya sebelumnya. Mereka jugalah yang kemudian menurunkan para ulama kenamaan (Sublime Doctors). Sesudah masa para ulama ini, lahirlah kemudian masa para Hakhom biasa yang sekarang disebut sebagai para  Rabbi.

Sanhendrin

Dalam bahasa Ibrani kata ini berarti Mahkamah Tertinggi. Tentang lembaga ini tercantum dalam Bab IV kitab Mishnah (Nizkin) yang membahas kedudukan Mahmakah Tertinggi Yahudi, prinsip dasar dan Anggaran Dasarnya. Bab ini terbagi dalam 11 pasal, setiap pasalnya membahsa kemungkinan wewenang Mahkamah Tertinggi Yahudi ini untuk menelorkan berbagai hukum dan kemungkinan ikut campurnya lembaga ini dalam kehidupan keagamaan bangsa Yahudi[8]. Samuel Krauss dalam sebuah bukunya menyamakan Sanhendrin ini dengan laporan Hakim. Ia mengatakan:

“Urgensi dari pasal ini berkisar tentang Yurispudensi Mahkamah Tertinggi Yahudi (Jewish Synhendrion) yang dianggap sebagai cuplikan akhir kehidupan pemerintahan Yahudi. Dan pasal ini mendapat perhatian yang besar sekali dari para peneliti, karena hal ini menyangkut hidup matinya banga Yahudi.[9]

Talmud Yerussalem (Palestina)

Kitab ini juga dinamakan Talmud (atau Gemara) Tanah Israel-Eretz Israel, atau juga sebagai Talmud Bani Ma’ariba (Maghrib). Selesai dihimpun pada tahun 400 Masehi, setelah selesai melalui suatu proses yang ketat oleh Ursicinus pada tahun 351 di Palestina. Penulisan Talmud Jerussalem ini didorong oleh keresahan bangsa Yahudi akan kemungkinan hilangnya undang-undang tak tertulis yang tersembunyi itu.[10]

Sebenarnya yang berusaha untuk mengabadikan Talmud Yerussalem adalah ulamaCaesarea bukannya para ulama dari Jerussalem sendiri. Digunakannya nama Jerussalem hanyalah sebagai kiasa saja untuk mewakili seluruh bagian, sebagai pimpinan para ulama yang mengbadikan Talmud ini adalah Hakhom Jochanan.

Talmud Jerussalem –seperti yang ada sekarang- hanyalah terdiri dari 6 bab –termasuk di dalamnya pasal Niddah pada bab keenam. Pada zaman Musa bin Maimun (Maimonides) Talmud Jerussalem hanya terdiri dari 5 bab, sedangkan 1 bab yang terakhir ditiadakan. Talmud jerussalem ini pertama kali dicetak tahun 1522-1523 di Venezia, Italia. Kemudia terbit cetakan kedua di Cracow, Polandia, sekitar tahun 1602-1605 berikut dengan tafsir dan komentar sehubungan dengan meningkatnya perhatian terhadap Talmud di negeri itu. Edisi Cracow ini dicetak ulang di Krotoschin pada tahun 1886. Diikuti kemudian dengan diterbitkannya Talmud Jerussalem edisi Zhitomir pada tahun 1860-1867. Meyusul pula terbitan Pioterkievsekitar tahun 1899-1900 dan edisi Roma, di kota Wilno pada tahun 1922. Talmud Jerussalem edisi Roma ini dilampiri pula dengan tafsirnya yang dicetak pada tahun 1929 dengan nama Tashlum Yerushalmi. Di kota Leipzig wilayah Jerman pada tahun 1925 terbit pula Talmud Jerussalem edisi Venezia yang bergambar, kemudian disusul dengan terbitan Berlin pada tahun 1929.

Talmud Jerussalem Versi Baru

Redaksi Ensiklopedia Umum Yahudi telah menyatakan bahwa dalam periode terakhir ini, Talmud Jerussalem banyak mengalami penggusuran yang disebabkan oleh dua kemungkinan:

  1. Para editor terdahulu teledor atau lalai tidak mencantumkan beberapa pasal (Scibal Ommisions)
  2. Pemalsuan yang disengaja (Deliberete Falsification)

Kami (yaitu penulis: Dhafrul Islam Khan) tidak dapat menerima alasan yang pertama, yaitu karena keteledoran pada editor maka Talmud Jerussalem berubah dalam terbitan terakhirnya. Kami menyakini bahwa para ulama Yahudi sendiri yang melakukan pemalsuan (penggusuran) itu, disebabkan bangkitanya amarah penduduk Kristen Eropa yang mengutuk bangsa Yahudi. Kemarahan penduduk Kristen Eropa ini muncul setelah mereka membaca kitab-kitab Yahudi  yang sangat anti-kristen.

Mengapa kami tidak menerima alasan yang pertama, juga disebabkan adanya kenyataan bahwa kitab Talmud yang lama (sebelum  terbitnya kitab Talmud versi baru abada ini) telah mengalami puluhan kali cetak ulang di abad pertengahan. Kitab Talmud yang orisinil ini –sejenis versi Venezia-, akhirnya dicabut peredarannya oleh gereja.

Redaksi Ensiklopedia Umum Yahudi itu sendiri menyatakan: “Nash Talmud Palestina versi baru itu sebenarnya semrawut. Para editornya bertindak tidak teliti dalam menukil arti kata-kata yang sulit, disebabkan gaya bahasa Talmud yang sangat pelik. Maklumlah, Talmud bukanlah karya tulis biasa. Problem teks asli ini malah memperbanyak kesalahan para editor itu, seperti ketika mereka menemui kata-kata serupa yang berulang-ulang, hilangnya beberaapa huruf, atau bahkan melompati beberapa baris dikarenakan mereka tidak memahami slogan-slogan yang tertulis dalam Talmud”.[11]

Talmud Palestina tertulis dalam bahsa Ibrani atau Arami Barat, keseluruhan terdiri dari kurang lebih 750 ribu kata. Kitab ini 15 persennya berisikan Hanggada, yaitu kisah dongengan dan kisah-kisah Yahudi yang khas. Dongengan inilah yang menjadi dasar kisah-kisah Israiliyat dalam buku-buku yang ditulis oleh ulama Islam.

Talmud Babilonia

Setelah meninggalnya Judah Hanasi, para ulama Yahudi mendapatkan banyak dari karya-karyanya yang belum diabadikan dalam kitab Mishnah. Naskah Talmud Babilonia dihimpun berdasarkan Mishnashnya Judah Hanasi beserta tafsir yang ditulis oleh Hakhom Abba Areka[12] di Sura. Kitab-kitab yang terpenting dari karya Hakhom Abba Areka adalah Tosefta yang memuat Haggadah yang dijadikan sumber hukum.

Setelah hasil diskusi yang telah disepakati oleh para Hakhom itu terkumpul, maka orang yang pertama kali berusaha membukukan Talmud Babilonia ini adalah Ashiyang wafat pada tahun 427 Masehi, dengan bantuan Rabina. Penulisan Talmud Babilonia ini bertujuan agar bangsa Yahudi memiliki sebuah kitab undang-undang yang standart yang dapat digunakan sebagai pegangan untuk dipelajari para siswa Yahudi.

Hakhom Rabina Bar Huna, yang wafat pada tahun 499 Masehi merampungkan karya mendiang Ashi yang belum selesai. Sedangkan Hakhom Saboraim sekitar abad ke 6 dan ke 7, telah melakukan peletakan dan dasar-dasar tafsir pada naskah milik Rabina serta menambahkan satu bab baru tentang berbagai masalah. Dan perlu diketahui bahwa Kuil Yahudi (Jewish Temple) atapun Mazhab Hakhom tak pernah ada sebelumnya kecualin pada zaman perbudakan di Babilonia. Dengan ini maka selesailah problema pendirian Haikal (Bet Hakenesset). Jelas sekali nama ini menjurus pada kehendak untuk mendirikan kuil-kuil yang sama pula tujuannya saat para ulama Yahudi ketika membukukan Talmud.[13]

Pencetakan Talmud Babilonia

Beberapa bab dari Talmud Babilonia telah dicetak pad tahun 144, sedangkan edsi selengkapnya dari Talmud ini  diterbitkan di Venezia sekitar tahun 1520-1523. Naskah yang dicetak di Bazel terbit di bawah pengawasan gereja Katolik dan mengalami banyak revisi dan koreksi. Sementara naskah Talmud terbitanAmsterdam tahun 1644-1648, tidak banyak mengalami perubahan walaupun tunduk pada pengawasan gereja Katolik. Talmud yang paling orisinil adalah  edisi Romanyang dicetak di Wilno pada tahun 1886 sebanyak 20 jilid. Edisi paling mewah dari Talmud Babilonia adalah terbitan Stack, tahun 1912, berasal dari naskah yang dipersiapkan di Munich pada pertengahan abad ke 14.

Redaksi Ensiklopedia Umum Yahudi menjelaskan: “Penyebab tiadanya manuskrip asli dari Talmud Babilonia itu adalah fanatisme ekstrim gereje Kristen pada abad pertengahan yang sering melakukan pembakaran missal berpuluh gerobak yang berisikan kitab Talmud atau manuskripnya”.Terjemaha Talmud Babionia yang asli pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Soncino, London. Abraham Cohin telah menerjemahkan kitab Beracoth di Inggris pada tahun 1921. Edisi ringkasan Talmud Babilonia ini telah terbit dalam berbagai bahasa seperti Latin, Perancis, Italia, Rusia, Yiddi dan bahasa-bahasa lainnya. Edisi baru Talmud Babilonia merangkum artikel-artikel pendek yang dimasukkan dalam bagian terakhir bab ke IV (Nizikin). Talmud ini terdiri dari 2,5 juta kata, sepertiga bagiannya berisi Haggadah, sedangkan sisanya adalah Hallakhah (Hukum-hukum).

Artikel ini adalah terjemahan dari buku Talmud Tarikhuhu wa Ta’alimuhu karangan Zhafrul Islam Khan yang dicetak di Beirut tahun 1972.


[1] Talmud wa Suhyuniyyah, oleh As’ad Zaruq, Kairo, maktab albahts, 1970, hal.87

[2] Kaum Pharisi adalah suatu sekte Yahudi yang lahir menjelang kedatangan nabi Isa u, dikenal sebagai kelompok yang sangat taat melaksanakan tata cara (ritus) dan upacara keagamaan berdasarkan undang-undang tertulis (Taurat) dan diketahui sebagai kaum yang sangat memaksakan keyakinannya tentang keshahihan (validitas) penafsiran (Undang-Undang Lisan) mereka berkenaan dengan hokum-hukum.

[3] Jelas sekali apa yang disebut oleh Musa ben Maimun (Maimonides) bahwa para ulama Yahudi belum pernah sepakat tentang masalah ini.

[4] Kanzul Marshud fi Qawaid Talmud, hal.1:29

[5] (Hakhom) D.A. Fabian, The Babylonian Talmud, hal 5

[6] Tanna’im artinya “Guru”, gelar yang diberikan khusus bagi ulama bangsa Yahudi setelah kematian Hillel dan Shamai, yaitu pada tahun ke 10 SM sampai menginggalnya Judah Hanasi, sekitar tahun 200 M. Jumlah ulama Tannaim mencapai 200 orang ulama Yahudi, sebagian besar bergelar Hakhom yang juga berarti guru atau orang bijak. Jika seorang ilmuan Yahudi itu menjabat sebagai Paderi di kuil mereka, maka ia diberi gelar Rabbi yang berarti guru kita. Sementara Amoraim berasal dari kata Amar yang artinya “Berbicara”, sebutan ini diberikan kepada para penafsir atau pembicara.

[7] Strack Herman L, Introduction to the Talmud and Midrsah, Philadelphia, 1945, hal.4

[8] Kraus, Samuel, Dr. The Mishnah Treatise Sanhedrin, Leiden, 1909 (Semitic Studies Serie-XI), hal V-VI

[9] Kraus, Samuel, Dr. The Mishnah Treatise Sanhedrin, Leiden, 1909 (Semitic Studies Serie-XI), hal VII

[10] Sesuai dengan pernyataan readktur Ensiklopedia Umum Yahudi, Dr. Joseph Barkley dalam bukunya “Kesusastraan Ibrani”: “Saat ditulisnya Talmud Jerussalem dan Babilonia, bangsa Yahudi berada dalam kondisi damai (Comparative Peace). Sejak wafatnya Hakhom Yudah yang suci sampai dengan dinobakatkannya Konstantin sebagai raja (Romawi), biara Thabariyah tidak pernah mendapatkan perlakuan buruk ataupun tekanan-tekanan”. (hal.12)

[11] Jelas sekali bahwa Talmud Jerussalem saat ini masih tetap ada, tapi dalam keadaan semrawut, sementara Talmud Babilonia menderita banyak kekurangan. Untuk kalangan Yahudi sendiri tetap digunakan Talmud yang asli seperti yang diterbitkan di Venezia.

[12] Lahir di Babilonia pada tahun 175 M dan wafat pada tahun 247 Masehi

[13] Lihat The Babylonian Talmud, karya Dr.  Fabian, hal.7

(Ahmadbinhanbal)

Redaktur: Rayhan



Peluang