Sosok

Kisah Hidup Uje (6 – Habis); Hidup di Jalan Dakwah

Jumat 15 Jamadilakhir 1434 / 26 April 2013 15:09

jefri Kisah Hidup Uje (6 – Habis); Hidup di Jalan Dakwah

NAMUN, menikah rupanya tak cukup menghentikan kebandelan Uje. Istrinya pun merasakan getahnya. Uje pernah memakai narkoba di depannya, dan menggunakan uang Pipit untuk membeli barang haram tersebut.

Kesulitan lain, Uje dan Pipik sama-sama menganggur. “Pernah kami mencoba berdagang kue. Malam hari kami menggoreng kacang, esok paginya bikin kue isi kacang dan susu. Lalu kami titipkan ke toko kue,” kenang Uje.

Tapi mungkin rezeki mereka bukan di situ. Kue yang mereka buat hanya laku beberapa buah. Dalam sehari Uje hanya membawa pulang Rp 200 – 300. Akhirnya mereka berhenti berjualan kue. Kehidupan mereka selanjutnya dijalani dengan penuh perjuangan sekaligus kesabaran.

MAKAN SEPIRING BERDUA

Kesetiaan Pipik begitu luar biasa. Perasaan sayang yang sangat kuat membuatnya mantap menikah dengan Uje. “Aku tak peduli lagi meski dia pecandu, bahkan pernah mengalami over dosis dan hampir gila karena paranoidnya. Aku banyak mengalami hal-hal luar biasa dengannya. Kalau tidak sabar, mungkin aku sudah tidak bersamanya lagi,” cerita Pipit.

Awal menikah, mereka hidup seadanya, Umilah yang membiayai hidup mereka. Pipit dan Jeffry tak jarang makan sepiring berdua, karena memang benar-benar tak ada yang bisa dimakan. Berat rasanya jadi istri dari suami penganggur, apalagi setelah menikah Pipit juga tidak lagi bekerja.

Tapi Pipit yakin, Allah tidak mungkin memberikan cobaan pada umat-Nya melebihi kemampuannya. “Aku yakin, pasti ada sesuatu yang akan diberikan Allah padaku. Beruntung, Umi sangat sayang padaku,” ucap Pipit.

Pipit sendiri tak jera memberi masukan pada Uje untuk mengubah hidup. Mereka sama-sama saling belajar menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Pelan-pelan, hidup Uje mulai berubah menjadi lebih baik, terutama setelah Pipit hamil. “Mungkin dia sendiri sudah capek dengan kehidupannya yang seperti itu,” simpul Pipit.

HIDUP DI JALAN DAKWAH

Pelan-pelan, Uje kembali dekat pada agama. Perubahan besar terjadi dalam hidup Uje pada tahun 2000. Kala itu, Fathul Hayat, kakak keduanya kemudian meninggal karena kanker otak, memintanya menggantikannya memberi khotbah Jumat di Mangga Dua. Pada waktu bersamaan, dia diminta menjadi imam besar di Singapura.

Fathul memang seorang pendakwah. Selama dia di Singapura, semua jadwal ceramahnya diberikan pada Uje. Pertama kali ceramah, Uje ingat, ia mendapat honor Rp 35 ribu. Uang dalam amplop itu Ia serahkan pada Pipik. “Kukatakan padanya, ini uang halal pertama yang bisa kuberikan padanya. Kami berpelukan sambil bertangisan,” kenang Uje.

Selanjutnya, kakak Uje memintanya untuk mulai menjadi ustaz. Inilah jalan hidup yang kemudian dipilih. Betapa indah hidup di jalan Allah. Ia mulai berceramah dan diundang ke acara seminar narkoba di berbagai tempat. Namun, perjuangan Uje tak semudah membalik telapak tangan. Tak semua orang mau mendengarkan ceramahnya karena aku mantan pemakai narkoba. Tapi Uje mencoba sabar.

“Alhamdulillah, makin lama ceramahku makin bisa diterima banyak orang. Bahkan sekarang, aku banyak diundang untuk ceramah di mana-mana, termasuk di luar kota dan stasiun teve,” ucap Uje. “Aku bersyukur bisa diterima semua kalangan. Aku pun ingin berdakwah untuk siapa saja. Aku ingin punya majelis taklim yang jemaahnya waria. Mereka, kan, juga punya hak untuk mendapatkan dakwah.”

Kebahagiaan Uje dan Pipit bertambah ketika tahun 2000 itu, lahir anak pertama, Adiba Kanza Az-Zahra. Dua tahun kemudian, anak kedua Mohammad Abidzan Algifari juga hadir di tengah mereka. “Mereka, juga istriku, adalah inspirasi dan kekuatan dakwahku. Kehidupan kami makin lengkap rasanya,” Uje bersyukur.

Sampai sebelum akhir hayatnya, Uje mengaku masih terus berproses berusaha menjadi orang yang lebih baik. “Semoga, kisahku ini bisa jadi bahan pertimbangan yang baik untuk menjalani hidup. Pesanku, cintailah Tuhan dan orangtuamu, serta pilihlah teman yang baik,” pungkasnya.

Uje kini telah berpulang ke Rahmat-Nya. Selamat jalan, Uje! []

 

Redaktur: Saad Saefullah



Peluang