Nasional

Istri Kang Jalal: ‘Indonesia Bukan Negara Ahlus Sunnah, Syiah Berhak Hidup’

Jumat 28 Rejab 1434 / 7 Juni 2013 14:49

renita


KEBERADAAN kelompok minoritas keagamaan masih sering menjadi masalah di negeri ini. Masalah itu terjadi terkadang lebih karena kelompok minoritas tersebut ingin diakui sebagai bagian dari kelompok mayoritas yang ada, sebagai contoh warga Ahmadiyah yang sampai sekarang masih ngotot ingin diakui sebagai bagian dari umat Islam, meskipun secara aqidah sudah menyimpang jauh dari islam sesungguhnya dengan memiliki Nabi sendiri.

Selain ada kelompok minoritas agama yang sebenarnya sudah tidak bisa lagi dianggap sebagai bagian dari umat Islam seperti Ahmadiyah, ada juga kelompok-kelompok menyimpang menurut jumhur ulama yang berusaha mendakwahkan ajaran sektenya kepada mayoritas umat Islam yang berbeda aqidah dengan mereka, seperti Syiah. Kasus Sampang bisa menjadi contoh bahwa ada perbedaan mendasar antara mayoritas Muslim sunni dengan minoritas Syiah dalam hal keyakinan berislam.

Namun adanya perbedaan mendasar antara Sunni dan Syiah ditepis oleh Emilia Renita, seorang aktivis IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) dan istri tokoh Syiah terkemuka yang ada di Indonesia Jalaludin Rahmat (Kang Jalal).  Bagi Renita, tidak ada perbedaan prinsipil antara Sunni dan Syiah. Hal tersebut disampaikan Renita kepada Islampos.com disela-sela seminar “Dialog Antar Penganut Agama dan Kebudayaan” yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Madinah bekerja sama dengan Univesitas Islam Indonesia (UII) pada Selasa lalu.

“Sebetulnya saya tidak melihat ada prinsip-prinsip besar perbedaan antara Sunni dan Syiah, lah wong Qurannya sama saja,” bela Renita terhadap ajaran Syiah yang dianutnya. Menurutnya jika kita ingin menjalin terjadinya dialog keagamaan, seharusnya semua pihak dan keyakinan bisa hidup di Indonesia.

“Kita kan tinggal di Indonesia artinya negara ini bukan negara Ahlus Sunnah tapi NKRI, jadi semua orang berhak hidup di sini dan harus bisa saling berdampingan serta menghargai satu sama lain dan bisa menjalankan ibadah dengan nyaman,” ujar beliau.

Ketika ditanya terkait adanya isu Syiahisasi terhadap warga Sunni oleh penganut Syiah, Renita dengan tegas menolak dan membantahnya. “Tunjukkan pada saya di mana ada kejadian seperti itu, buktinya mana,” tegasnya. Menurut yang dia ketahui tidak ada namanya Syiahisasi bahkan dirinya pun masih merasa belum menjadi Syiah. “Saya sih merasa belum menjadi Syiah, doain saja yah supaya saya bisa menjadi Syiah yang baik,” pungkas beliau sambil tertawa kecil.(fq/islampos)

Redaktur: Al Furqon



Peluang