Analisis

Israel dan Masa Depan Suriah

Selasa 1 Ramadhan 1434 / 9 Juli 2013 16:17

israel dan suriah

Oleh: Dr. Muhsin Shalih

Serangan militer ke sejumlah titik penting milik rezim Suriah pada 3 dan 5 Mei 2013 memiliki indikasi jelas bahwa zionis ingin menjadi penentu dalam peristiwa di Suriah. Zionis ingin menentukan syarat permainan sesuai dengan kepentingannya atau minimal agar tidak melawan kepentingannya.

Zionis mengikuti peristiwa-peristiwa di Suriah dengan penuh kekhawatiran. Media zionis dan lembaga studi yang ada dipenuhi dengan pernyataan, analisis dan kajian serta studi para pemikir, politikus, pejabat keamanan, militer soal ini. Namun mereka semua disatukan dengan satu situasi kekhawatiran dan kegamangan soal masa depan Suriah, tidak ada satu peta masa depan Suriah yang bisa diprediksi. Bahkan ada yang menyatakan bahwa yang mengetahui ending masalah Suriah hanyalah nabi atau peramal. Sementara nabi sudah tidak ada.

Antusiasme yang pernah disampaikan oleh sebagian elit Israel seperti Presiden Simon Peres dan mantan Menhan Ehud Barack bahwa mereka ingin rakyat Suriah memperoleh kebebasan dan mewujudkan demokrasi hanyalah untuk hubungan umum dan konsumsi media. Sebab sebagian besar elit Israel seperti ditegaskan oleh ketua Departemen Sejarah Timur Tengah di Universitas Eiyal Zaise bahwa mereka tidak tidak peduli dengan perasaan dan antusiasme rakyat-rakyat di negara tetangga atau demokrasi mereka atau mewujudkan keadilan dan kesejahteraan mereka.

Israel hanya peduli kepada keamanan mereka sendiri dan ini yang dipikirkan oleh mereka. Selama 40 tahun Israel hidup aman di samping suriah. Namun saat ini ada konsesus Israel bahwa Suriah yang dikenal Israel sepanjang periode tersebut tidak akan kembali sedia kala. Sekenerio apapun yang terjadi, bahaya Suriah bagi Israel kini sedang memanas. Namun Israel merasa tenang sebab selama Suriah sibuk dengan konflik internal, maka zionis akan tetap terjauhkan dari bahaya hakiki dalam masa dekat.

Israel merasa bahagia dengan kondisi “penghancuran jati diri” di Suriah dan perang sektarian, tetap dalam kondisi carut marut, selama jalannya peristiwa masih berpihak kepada mereka dan konflik tidak melibatkan mereka.

Karena itu, Alex Vishman, pengamat militer zionis di harian Yediot Aharonot pada 12 Juni 2013 menulis artikel dengan judul “Biarkan Mereka (Suriah) Bunuh Diri Dengan Tenang”. Dan dia mengungkapkan kebahagiannya karena dunia Arab “terbakar” selama dua tahun dan akan menghilang sendiri tanpa ada intervensi dari luar. Beberapa hari setelah itu, pengamat militer zionis di harian Maarev, Emer Ribabot mengatakan bahwa bangsa Arab melupakan ‘Israel’ dan sibu dengan konfliknya sendiri.

Kepentingan Zionis dalam Konflik Suriah

Kepentingan mereka terangkum dalam sisi berikut:

1.       Sumber daya alam dan manusia serta infrastruktur Suriah akan hancur, rakyatnya akan termiskinkan. Suriah akan mundur puluhan tahun.

2.       Rajutan sosial Suriah akan tercabik-cabik. “Tembok darah” akan memisahkan antara kelompok dan sekte di Suriah, baik dari kalangan sunni atau Alawi atau Dorouz atau Kristen atau Arab atau Kurdi. Konflik akan memiliki dimensi sektarian dan etnis. Konflik semacam ini akan mengursa habis energi Suriah. Suriah akan sulit berdiri lagi dengan kedua kakinya.

3.       Hancur dan terpecahnya militer Suriah dan kekuatannya yang terkuras habis dalam perang sia-sia dengan bangsa sendiri. Sehingga ia menjadi militer bangsa Arab klasik terakhir yang pernah menjadi ancaman bagi zionis setelah sebelumnya militer Mesir tidak berdaya karena meneken perjanjian Cam David di tahun 1978, dan setelah militer Irak bubar pasca agresi Amerika tahun 2003.

4.       Terbentuknya pemerintah liberal baru di Suriah yang menjadi pengekor politik Amerika di kawasan dan adanya kelompok moderat yang menempuh politik damai dengan negara zionis.

5.       Pemerintah politik Suriah baru diharapkan kuat yang bisa menjaga perbatasan dengan Israel dan lemah tidak cukup mampu dalam mengatasi dampak internal sosial dan ekonomi akibat konflik. Sehingga 20 tahun mendatang Suriah akan tenggelam dalam masalah internal dan hanya menjadi tim pemadam kebakaran konflik internal.

6.       Zionis ingin menyeret Iran dan Hezbollah (Syiah di kawasan) agar menciptakan perang dalam negeri di Suriah, menghabiskan energi ekonomi dan militer, menggolakkan perang kelompok Sunni dan Syiah yang hanya menimbulkan kehancuran semua pihak serta hanya menguntungkan zionis dan sekutunya.

7.       Menghalangi semua kelompok Islam politik dan musuh zionis untuk berkuasa di Suriah, menghalangi senjata berkualitas dan kimia ke tangan kelompok yang disebut zionis dan Amerika sebagai kelompok teroris garis keras.

8.       Jika tidak tercipta sistem pemerintah yang bisa diterima oleh zionis, maka negara penjajah ini akan mendorong terciptanya entitas-entitas Alawiyah, Sunni, Dorouz, dan Kurdi yang akan memecah belah Suriah sehingga menjadi negara-negara kecil.

Mendesain Jatuhnya Rezim Asad

Zionis tidak terburu-buru menginginkan kejatuhan rezim Basyar Asad. Sikap zionis sebelum ini berangkat dari gagasan “setan yang tahu kebaikan lebih baik dari pada setan yang tidak tahu kebaikan”. Sehingga zionis tidak condong kepada perubahan rezim oposisi di Suriah kepada pemerintah yang tidak mengetahui bagaimana tingkat permusuhannya kepada zionis. Namun jika jatuhnya Asad akan lebih banyak berpihak kepada zionis maka ia bersama Amerika lebih serius ingin Asad jatuh.

Maka cara Amerika dan ‘Israel’Zionis (yang memimpin sikap barat Eropa) jelas-jelas memilih konflik di Suriah lebih bertahan lama dan selama mungkin. Sehingga Suriah akan benar-benar habis energinya dan potensi ekonomi dan militernya serta lebih parah tingkat keterpecahan sosial dan kelompok sektariannya. Pada akhirnya, kondisi ini akan lebih mudah memeras potensi politik Suriah dan menerapkan syarat dan visi barat kepada mereka.

Atas dasar ini, Amerika dan sekutunya menolak memberlakukan “larangan terbang” bagi pesawat tempur Suriah yang selama ini menggempur lawannya di dalam negeri yang mengakibatkan tewasnya ribuan rakyat sipil.

Itu juga bisa dipahami sikap mereka melarang senjata bagi kelompok oposisi kecuali hanya untuk bertahan melanjutkan konflik, membuka akses bantuan, sehingga masing-masing kelompok di Suriah sulit memastikan kemenangannya.

Karena itu juga, Amerika tidak peduli jika Iran dan Rusia mempersenjatai rezim Asad. Ini juga bisa dijadikan bargaining bagi Amerika kepada kelompok oposisi agar memberikan komprominya.

Jadi, sesungguhnya Amerika dan sekutunya lebih menginginkan Asad jatuh untuk kemudian pemerintah setelahnya berpihak kepada mereka ketimbang bertahannya rezim Asad.

Sekenario dan Prediksi

Pada akhirnya, Zionis ingin rezim Asad jatuh. Skenario mereka, Suriah tetap utuh namun lemah karena perebutan kekuasaan antara kelompok Islam dan sekuler. Ada sekenario Asad jatuh dan Alawi menguasai wilayah utara. Ada juga sekenario Suriah akan terpecah-pecah berdasarkan kelompok dan etnis dan inii yang diinginkan zionis namun skenario ini lemah.

Ada juga skenario “Somalisasi Suriah” dimana akan tetap terjadi konflik dalam negeri dan merembet ke Libanon dan Jordania.

Namun ada sekenario yang ditakutkan zionis yakni rakyat Suriah akan mampu mendirikan negara kuat yang disatukan oleh semangat Arab dan Islam untuk mengembalikan peradaban dan kebangkitannya dan akan memiliki peran utama dalam mengendalikan konfliknya dengan zionis.

Prosedur Zionis di Lapangan

Untuk menjaga keamanannya, zionis melakukan sejumlah langkah berikut:

1.       Membangun tembok dan pagar listrik elektronik berteknologi maju sepanjang 70 kilometer di sepanjang perbatasannya dengan Suriah. “Tembok cerdas” ini dilengkapi dengan alat canggih pendeteksi setiap gerak yang mencurigakan. Diperkirakan pagar cerdas inii akan finalisasi pada Juni 2013.

2.       Merampungkan persiapan perang yang mungkin terjadi dengan Suriah, termasuk jika Suriah menggunakan senjata kimia. Meskipun Panglima Perang Zionis Beni Gents memprediksi sangat kecil kemungkinan terjadi perang dengan Suriah.

3.       Menciptakan sistem pengawasan udara ‘Israel’ dengan berkoordinasi dengan Amerika yang memantau semua senjata Suriah.

4.       Meriset kemungkinan mendirikan wilayah isolasi di Suriah dari sisi dataran tinggi Golan. Hal ini pernah disiarkan oleh televisi resmi ‘Israel’ pada 29 Maret 2013.

5.       Mengefektifkan aktivitas intelijen ‘Israel’ di dalam negeri Suriah.

6.       Koordinasi dengan Jordania. Sejumlah pertemuan sudah dilakukan antara Benjamen Netanyahu dan Raja Jordania terkait masalah konflik Suriah. (Yediot Aharonot, Haarets, Al-Quds Arabi, 27/12/2012, 23/4/2013).

7.       Mengefektifkan hubungan dengan Turki. Netenyahu akhirnya minta maaf kepada Turki setelah sekian lama menolak meminta maaf kepada Turki terkait kasus Mavi Marmara. (Aljazeera.net/24/3/2013).

Israel Punya Tekad, Rakyat Juga Punya Tekad

Tidak semua yang diinginkan Zionis dan berusaha diwujudkannya secara nyata bersama Amerika akan terwujud. Ini juga terjadi pada Rusia, Iran, Turki dan lainnya. Inti dari masalah Suriah adalah bangsa dan rakyat Suriah sendiri. Semua yang diinginkan oleh selain rakyat Suriah pasti dianggap tidak ada.

Meremehkan semangat nasionalisme dan semangat Islam bangsa dan rakyat Suriah untuk menentukan nasibanya secara merdeka dan menentukan sistem pemerintah yang mereka pilih adalah prediksi salah. Termasuk salah menyederhanakan bahwa revolusi Suriah dianggap sebagai konspirasi asing dan hanya kelompok teroris.

Pasti masa transisi dalam setiap revolusi di setiap negara pasti ada keterpecahan dan kelemahan. Pasti ada kekhawatiran akan meletusnya fanatisme. Namun demikian tidak berarti bahwa rakyat Suriah tidak mampu menyikapi tantangan ini. Tapi rakyat Suriah akan mampu menghadapi dan mengatasinya. (Aljazeera)

Redaktur: Rayhan