Analisis

Iran-AS: ‘Kemesraan di Balik Layar’ (2 – Habis)

Senin 21 Muharram 1435 / 25 November 2013 20:00

iran usa 490x326 Iran AS: ‘Kemesraan di Balik Layar’ (2   Habis)

AS vs Iran Hanya Retorika

Dunia Islam selalu menyangka bahwa AS adalah musuh dari Iran. AS adalah “Setan Besar” yang dianggap bertanggung jawab atas kesengsaraan rakyat Iran pada masa Syah Reza. AS dituduh mendukung berbagai kezaliman yang dilakukan oleh rezim Syah.

Komunikasi intens yang dijalin AS dengan Khomeini di Paris harus ditutupi untuk menjaga citra Revolusi Islam Iran. Penguasa Iran pasca revolusi harus memutus hubungan diplomatik secara resmi demi skenario besar tersebut. Insiden penyanderaan di Kedubes Amerika pada tanggal 4 Oktober 1979 yang diikuti dengan pemutusan hubungan diplomasi Iran dengan AS adalah untuk menguatkan posisi Khomeini dan menekan para penentangnya serta memberikan selubung atas hakikat hubungan kedua pihak. Di kemudian hari, berbagai sumber AS menyebutkan bahwa itu adalah sandiwara.

Iran dan AS kemudian menandatangani Perjanjian Aljazair pada 20 Januari 1981 dan dengannya sandera pun dibebaskan. Ronald Reagen, Presiden AS saat itu, secara implisit mengakui rezim Iran pimpinan Khomeini dan menyatakan saling terikat, saling menghormati, tidak saling campur tangan dalam urusan masing-masing pihak, menjaga kepentingan kedua negara dengan jalan menunjuk dan mewakilkan kepada pihak ketiga. Berikutnya dikembalikanlah 12 miliar dolar yang diminta oleh rezim baru Iran dari rekening Iran yang dibekukan.

Situasi tersebut di atas menunjukkan bahwa Iran tampil seolah-olah memusuhi AS. Padahal di balik itu Iran berjalan bersama AS dalam rencana-rencana imperialisme. Iran justru menjadi agen AS untuk jalannya rencana-rencana itu.
Sebaliknya, AS tampil seolah-olah memusuhi dan melawan Iran. Dengan begitu AS bisa mengontrol Eropa dan Yahudi, menyamarkan opini umum serta untuk merealisasikan kepentingan-kepentingan AS di Timur Tengah.

Sikap AS terhadap Iran tidak berubah. Bagaimanapun kerasnya seruan dari orang-orang Partai Republik sehingga Iran dimasukkan sebagai Axis of Evil, atau betapapun lunaknya seruan dari Partai Demokrat, Amerika tidak mengambil langkah tegas dan serius terhadap Iran.

Ketika presiden baru Iran Rouhani membentuk kabinet, ia mengatakan, “Pemerintahannya akan mengadopsi politik luar negeri mencegah ancaman dan menghancurkan ketegangan.” (Reuters, 12/8/2013).

Rouhani lalu memilih Muhammad Jawad Zharif untuk jabatan menteri luar negeri. Dia adalah mantan duta besar di PBB yang mendapat pendidikan di AS dan berpartisipasi dalam sejumlah putaran perundingan rahasia untuk mengatasi memburuknya hubungan antara Washington dan Teheran (Reuters, 12/8/2013).

Rouhani pasca pemilihannya mengatakan dengan lebih gamblang, “Kami tidak ingin melihat ketegangan lebih panas antara Iran dan AS… (Reuters, 17/6/2013).

Presiden Obama merespon dengan mengatakan, “AS tetap siap terjun dalam pembicaraan-pembicaraan langsung dengan pemerintah Iran dengan tujuan mencapai solusi diplomatis yang bekerja secara penuh menghilangkan keterguncangan masyarakat internasional seputar program nuklir Iran.” (Reuters, 17/6/2013).

Penutup

Jelas, Iran berjalan bersama AS. Pola “permusuhan” yang dibangun Iran terhadap AS adalah “permusuhan” dengan batas-batas tertentu. Inilah harmonisasi yang menyesatkan atau menutupi fakta sebenarnya dari hubungan Iran-AS. Hal ini sudah ditunjukkan sejak AS membidik kawasan Timur Tengah, dan Iran ada di dalamnya. Sejak masa Syah Reza, dilanjutkan masa Khomeini, Ahmadinejad hingga sekarang. Bantuan AS terhadap Iran dan sebaliknya, sokongan Iran terhadap AS di Afganistan, Irak dan Suriah, menunjukkan hal tersebut. Bagi AS, Iran adalah pelayan kepentingannya di kawasan, dan hal ini akan tetap dijaga oleh siapa pun yang akan berkuasa di Iran.

Inilah yang dinyatakan oleh Robert Gates pada tanggal 12 Desember 2008 dalam Konferensi Keamanan Internasional di Bahrain seputar hubungan antara AS-Iran dan apa yang seharusnya. Ia mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang berusaha mengubah rezim di Iran…Yang kami lakukan adalah menciptakan perubahan pada politik dan perilaku, dimana Iran akhirnya menjadi tetangga yang baik untuk negara-negara di kawasan, dan bukan menjadi sumber ketidakstabilan dan kekerasan.”

WalLahu ‘alam. []

HABIS

 

Redaktur: Saad Saefullah



Peluang