Mengenal Syi'ah

Ibnu Bathutah Bercerita Tentang Syiah (1)

Rabu 16 Rabiulakhir 1434 / 27 Februari 2013 07:48

Rihlah Ibnu Bathuthah 001

Oleh: Mahardy

LPPI Makassar

IBNU Bathuthah adalah seorang pengelana Muslim terkenal tidak hanya di dunia Islam tapi juga dikenal oleh dunia barat. Ia lahir di Maroko, tahun 1304 M atau 703 H. Namanya tidak kalah dengan pengelana dunia seperti Marco Polo, Colombus, Laksamana Ceng Ho, dan lainnya.

Dalam bukunya, Tuhfah an-Nuzhar fi Gharaibil Amshar wa Ajaibil Asfar (Hadiah berharga dari Pengalaman Menyaksikan Negeri-negeri Asing dan Menjalani Perjalanan-perjalanan Ajaib), atau yang dikenal juga dengan Rihlah Ibnu Bathuthah, Ibnu Bathuthah banyak menceritakan perjalanannya ke berbagai negeri, tidak terkecuali Nusantara (Indonesia).

Dan di antaranya juga, pengelana Maghrib yang bernama asli Muhammad bin Abdillah bin Muhammad bin Ibrahim Al-Lawati At-Thanji ini menceritakan tentang kondisi orang-orang syi’ah pada masa itu. Berikut kisah yang kami kutip dalam rihlah-nya itu.

Ibnu Bathutha bercerita,

“……Kemudian aku melanjutkan perjalanan menuju kota Ma’arrah, sebuah kota yang dinisbatkan padanya seorang penyair yang bernama Abul Ala Al-Ma’arri. Selain itu, masih banyak lagi nama-nama penyair yang dinisbatkan pada kota ini.

Ma’arrah adalah sebuah kota besar nan indah. Pohon tin dan kacang tanah paling banyak tumbuh di sana. Dari sana, hasilnya dipasarkan di Mesir dan Syam. Sejauh satu farsakh (1 farsakh kurang lebih setara dengan 8 km) dari sana, terdapat makam Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz. Di makam tersebut tidak dijumpai zawiyah (bangunan rumah bagi kaum sufi, khusus didirikan untuk berdzikir, shalat, dan membaca al-Qur’an) dan tidak pula ada pembantu yang merawat makam. Mengapa demikian? Karena di sana terdapat kelompok orang Rafidhah yang membenci sepuluh sahabat Nabi. Mereka membenci setiap orang yang bernama Umar, terutama Umar bin Abdul Aziz, karena ia menghormati Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Aku berjalan menuju kota Sarmin, sebuah kota indah yang penuh dengan kebun penghasil buah zaitun. Dari buah zaitun ini dibuat sabun, dan kemudian dijual di Mesir dan Syam. Selain itu, dari bahan yang sama dibuat sabun tangan yang harum, warnanya merah nyaris kuning. Di kota Sarmin juga dibuat baju katun yang indah.

Penduduk kota ini adalah para pencela yang membenci sepuluh sahabat Nabi (yang dijamin surga). Anehnya, mereka tidak mengucapkan kata “asyarah” (artinya: sepuluh) di pasar saat menawarkan barang dagangannya. Jika hitungan angka mencapai bilangan “asyarah”,maka mereka akan mengatakan tis’ah wa waahid (Sembilan tambah satu).

Pada suatu saat, penguasa Turki datang ke tempat itu dan mendengar para makelar mengucapkan tis’ah wa waahid. Penguasa Turki lantas memukul kepala sang makelar dengan dabus (sejenis penjepit pakaian). Lalu ia berkata, “Ganti kata asyarah dengan dabus!”

Di sana terdapat masjid yang berkubah. Mereka tidak menggenapkan jumlah kubah menjadi sepuluh karena berpegang pada keyakinan yang buruk itu.” (Tuhfah an-Nuzhar fi Gharaibil Amshar wa Ajaibil Asfar, Rihlah Ibnu Bathuthah, Pustaka Al-Kautsar, Cet I, Maret 2012, hal 70-71).

Demikian penggalan kisah tentang kebencian orang-orang Syi’ah Rafidhah terhadap para Sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang dikisahkan langsung oleh Ibnu Bathuthah. Karena alerginya terhadap para sahabat, terutama Abu Bakar dan Umar, mereka enggan untuk menyebut nama keduanya. Bahkan untuk menyebut angka “asyarah” (sepuluh) pun mereka tidak mau. Padahal, di antara sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga itu terdapat nama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu yang mereka kultuskan dan anggap sebagai imam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Abu bakar masuk surga, Umar masuk surga, Utsman masuk surga, Ali masuk surga, Thalhah masuk surga, Zubair masuk surga, Abdurrahman bin Auf masuk surga, Sa’ad masuk surga, Sa’id masuk surga, Abu Ubaidah bin Jarrah masuk surga.” (HR. Tirmidzi).

Apakah mereka juga berlepas diri dari Ali bin Abi Thalib, imam mereka?

 

Redaktur: Rayhan



Peluang