Konsultasi

Hukum Wanita Mengantarkan Jenazah ke Kuburan

Sabtu 2 Zulkaedah 1434 / 7 September 2013 16:25

BANNER UST ATIK Hukum Wanita Mengantarkan Jenazah ke Kuburan

Assalamu’alaikum…

USTADZ waktu ada tetangga saya meninggal dunia, selepas prosesi mengkafani mayit dan menshalatinya, dan jenazah siap dibawa ke tempat pemakaman, ada seorang ustadz yang berdiri dan menyampaikan tausiah. Di antara tausiah itu adalah melarang wanita ikut menghantarkan jenazah. Padahal saya pernah mendengar bahwa menghantar jenazah sampai ke pemakaman pahalanya besar. Terlebih di antara keluarga yang sudah datang kecewa dengan penjelasan ustadz itu. Mohon penjelasannya. Terimakasih

Fatimah Helwaty
Semarang

Wa’alikumsalam wr.wb.

Ukhti Fatimah, benar, prosesi pengurusan jenazah sesama muslim selain berkekuatan hukum fardhu kifayah dan menjadi hak antarsesama muslim, juga mengandung pahala besar. Rasul saw bersabda, “Siapa yang menghadiri jenazah hingga menshalatkannya, maka baginya pahala satu qirath, dan siapa yang menghadirinya (menshalati) dan menghantarnya hingga dikuburkan maka baginya pahala dua qirath.” Rasulullah saw ditanya, “Seperti apa dua qirath itu?” Beliau menjawab, “(Pahalanya) laksana dua gunung yang besar.” (HR. Bukhari). Dalam riwayat Muslim disebutkan laksana besarnya gunung uhud.

Memang ada hadits yang menyebutkan larangan berziarah kubur bagi wanita, yaitu “Allah melaknat wanita-wanita yang berziarah kubur.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Tirmidzi). Hadits ini juga yang dijadikan dalih bagi mereka yang melarang, memakruhkan wanita ziarah kubur atau menghadiri proses pemakaman bagi wanita. Menarik untuk diperhatikan pendapat imam Qurthubi dalam kitabnya Jami’ li ahkam al-Qur’an tentang hadits tersebut. Ia menyatakan, bahwa laknat dalam hadits ini hanya ditunjukan bagi wanita yang sering kali ziarah kubur. Hal ini sebagai tindakan berlebihan (mubalaghah) dan dapat melalaikan kewajiban utama wanita yang lain, seperti berbakti pada suami dan mengurusi anak-anaknya.

Larangan itu juga terkait dengan wanita yang ziarah kubur dengan tabarruj atau bersolek dan menggunakan parfum berlebihan sehingga menimbulkan fitnah. Demikian laknat terkait bagi wanita yang berpotensi menangis dengan meraung dan erangan yang berlebihan, dan ini dilarang oleh Rasulullah. Imam Qurthubi menambahkan, bila hal-hal tersebut tidak terjadi dan dapat dihindari, maka ketentuannya selayaknya laki-laki, sunnah hukumnya.

Diperbolehkan ziarah kubur bagi wanita, di antaranya dikuatkan karena Aisyah ra pun melakukannya. Seperti disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abi Mulaikah ra, bahwa suatu hari Aisyah pernah datang dari kuburan. Dan aku bertanya kepadanya, “Wahai ummul mukminin, dari mana engkau?” Aisyah menjawab, “Dari kuburan saudaraku, Abdurrahman.” Aku bertanya kembali, “Bukankah Rasulullah melarang ziarah kubur?” Aisyah menjawab, “Benar beliau pernah melarang ziarah kubur, akan tetapi kemudian beliau memerintahkannya.” (HR al-Hakim dan al-Baihaqi). Selain itu, dalam hadits riwayat Bukhari dari Anas bin Malik disebutkan tentang Rasulullah saw yang bertemu wanita yang sedang ziarah kubur, dan beliau hanya melarang sikap berlebihan dari wanita tersebut dan membiarkan ia berziarah.

Oleh karena itu, dengan memandang hadits-hadits secara komprehensif, bahwa ziarah kubur atau menghantar jenazah bagi wanita diperbolehkan jika dapat terjaga dari fitnah dan tidak berlebihan, terlebih karena mengandung pahala besar dan dapat mengingatkan pada kematian.

Wallahu’alam. []

Redaktur: Saad Saefullah



Peluang