Nasional

HTI: Umat Islam Lemah Karena Menjadikan Lawan Sebagai Kawan

Rabu 10 Zulkaedah 1433 / 26 September 2012 07:44

labib 300x199 HTI: Umat Islam Lemah Karena Menjadikan Lawan Sebagai Kawan

Umat Islam harus melepaskan dominasinya atas Barat. Akidah-akidah Barat seperti Sekularisme, Kapitalisme, dan Demokrasi adalah yang membuat umat Islam sulit bangkit. Demikian dikatakan Ketua DPP HTI, Rokhmat S. Labib dalam Liqo Syawal Ulama DKI di Silang Monas Jakarta, Selasa (25/9/2012)

Ia mengatakan salah satu kunci kemenangan Islam adalah mengetahui siapakah sesungguhnya lawan dan kawan kita. Mengapa umat Islam bisa dijajah Amerika, tidak lain karena Amerika itu dianggap sebagai kawan, sahabat, bahkan pemimpin atas kaum muslimin.

“Padahal sesungguhnya apa yang mereka perintahkan adalah racun bagi kaum muslimin,” tegasnya.

Magister Ekonomi Islam dari IAIN Sunan Ampel ini kemudian mengutip At Taubah ayat 28. “Hai orang-orang yang berimanSesungguhnya orang orang yang musyrik itu najis (QS At-Taubah : 28). Najis yang dimaksud bukanlah najis badannya, tapi najis karena kotornya akidah dan amal mereka.

“Akidah kufur inilah yang sangat kotor dan najis yang sudah saatnya ditinggalkan oleh umat muslim seperti sekularisme, liberalisme, pluralisme dan isme-isme lainnya,” tegasnya.

Sesungguhnya umat Islam tidaklah lemah. Umat Islam menjadi lemah justru karena salah mengenali siapa lawan dan siapa kawan.

“Irak bisa dikalahkan Amerika bukan karena Irak lemah, tapi justru karena negeri Islam yang ada di seklilingnya justru bergabung dengan Amerika untuk menyerang saudaranya sendiri,” katanya.

“Afghanistan bisa diduduki Amerika sampai sekarang, bukan karena Afghanistan lemah dan Amerika kuat, tetapi karena umat Islam tidak bersatu, inilah yang diinginkan orang kafir,” sambungnya.

Karenanya, kita semua wajib mendengungkan khilafah di manapun kita berada. “Khilafah adalah fardhuhlah dan sesungguhnya dengan khilafah persoalan pertama bisa diatasi. Dan persoalan kedua yakni persatuan umat bisa dilakukan,” jelasnya. (Pizaro)

 

Redaktur: Rayhan



Peluang