Info Umat

Diaspora Indonesia Pecinta Qur’an di Kuwait

Sabtu 20 Syaaban 1434 / 29 Juni 2013 09:00

juridanpemenangmusabaqoh


(oleh : bidadari_Azzam)

Sebelum berada di negara baru yang akan disinggahi, kami selalu berkomunikasi dengan para diaspora Indonesia yang telah lebih dahulu berada disana. Tentu kaum diaspora (perantau) Indonesia selalu ingin saling menebar manfaat dan memperluas jaringan persahabatan. Apabila lokasi sebuah negeri ternyata tak kita dapati info tentang WNI (Warga Negara Indonesia), maka berusahalah menghubungi pihak kedutaan RI di area terdekat dengan wilayah tersebut.

Beberapa bulan sebelum pindah ke Kuwait pun, saya berkenalan dengan beberapa blogger dan wartawan Indonesia (baik yang masih bertugas di Kuwait, maupun yang sudah kembali ke tanah air atau bertugas ke tempat lainnya). Alhamdulillah melalui banyak tautan di kolom komentar sebuah blog, berlanjutlah pertemanan ke sobat WNI lainnya. Kemudian saya mengenal sebuah blog buletin islami ‘projek akhirat’ muslimah (WNI) di Kuwait yaitu Al-Husna.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, materi dan tausiyah dalam lembaran Al Husna ternyata relevan dengan keseriusan sisters Muallaf Krakow dalam mempelajari Al Islam. Ustadzah Latifah Munawarah, MA (Kandidat Doctor di Universitas Kuwait dan merupakan pembina banyak majelis taklim se-Kuwait) dan sisters atau ummahat lainnya pun sangat ramah dan segera membalas email-email kiriman kami, di tengah kesibukan mereka. Syukron jazzakumulloh khoiru jazza, dear…

sistersalhusnakuwait

Sangat banyak sharing info dan nasehat yang kami petik dari mereka. Bahkan hati kian berpaut, beberapa bulan yang mulai terasa jenuh kala menanti visa keluarga (saat anak-anak harus berpisah dengan ayahnya yang terlebih dahulu datang ke Kuwait) dihiasi dengan kiriman kata-kata motivasi, yang pada puncaknya pertemuan di bandara internasional Kuwait pun terjadi, kami saling berpeluk erat menumpahkan kerinduan. Subhanalloh, sisters dan keluarga para ustadz di Kuwait telah mengorbankan banyak waktu untuk menjemput kami (sejak tiba di bandara) dan mengantar ke berbagai tempat pengurusan prosedur iqomah (resident civil ID), dan sebagainya.

Beberapa minggu setelah tiba di Kuwait, barulah kami bisa sedikit bebas bepergian, sebab iqomah sudah di tangan. Dan senyuman bisa tetap terukir jika berada di tengah-tengah mereka, para diaspora Indonesia~ brothers dan sisters pecinta al-Qur’an. Di Kuwait, cuaca musim panas sangat garang, bisa lima puluhan derajat celsius atau lebih (suhu luar ruangan), ditambah kepulan debu pasir yang terbawa angin kencang, AC merupakan kebutuhan primer semua appartemen. Alergi sangat kerap menghinggapi para pendatang di negeri ini.

Apabila terasa jengkel dengan lambannya urusan prosedur iqomah, dan dokumen yang terkait dengan itu, ditambah cuaca terik~ cepat haus, capek dan lelah, bercampur rasa gerah dapat menjadikan diri mudah emosi. Namun bersua dengan saudara sebangsa alias para diaspora Indonesia dapat menjadi solusi yang hebat. Apalagi kumpulan WNI yang saya kagumi ini adalah para pecinta al-Qur’an. Tentu tak diragukan lagi, segala urusan dan problema hidup memang dibahas dalam keindahan ayat-ayatNya, al-Qur’an adalah obat jiwa raga.

kuwx1
(foto Sayyif di depan masjid Indonesia- Kuwait)

Catatan pertama mengenai para perantau ini adalah tampak awet muda dan enerjik meskipun berusia senior. Sangat jelas gurat wajah penuh kesabaran dan keikhlasan dalam melalui segala peristiwa kehidupan di tanah rantau, anak-anak mereka pun kebanyakan sudah hafidz dan hafidzah, Allahu Akbar! Alangkah bahagianya memetik hikmah dari kisah inspiratif mereka. Alangkah senang dan kagumnya melihat sisters muslimah nan cantik lahir batin; cantik zahirnya dan tartil bacaan qur’annya,  tambah lagi cantik akhlaknya.

Hal kedua adalah para diaspora Indonesia pecinta qur’an di Kuwait adalah WNI intelektual yang berprestasi cemerlang dalam pekerjaannya ; Bapak-bapak proffesional IT, bapak-ibu perawat yang telah bertahun-tahun dinas disini, mahasiswi, ibu rumah tangga, guru/dosen, bisnis-women, dll. Terbukti bahwa para penghafal qur’an adalah muslim/ah yang senantiasa berkarya, selalu ingin membawa berkah &manfaat untuk ummat. Mereka cerdas menggali potensi, sosok-sosok penuh kesyukuran dan selalu mengutamakan keberkahanNya dalam menjalani alur kehidupan.

Ketiga, dengan berkumpul bersama para pecinta al-qur’an, kita jadi belajar lebih baik lagi dalam manajemen waktu. Malu hati ini, waktu luang masih banyak terbuang. Sedangkan mereka ini, rata-rata sibuk dari subuh ke subuh esoknya, dinas di rantau berbeda shift,tambahan kegiatan kajian-kajian rutin Al-Husna, atau majelis taklim lainnya, juga urusan anak-anak sekolah, urusan dalam rumah tangga, dan sebagainya. Namun rutinitas padat itu memang senantiasa dihiasi dengan hafalan qur’an, oh Allah, it’s amazing! Tak ada waktu yang tersia, selalu berupaya menjadikan usia berkah, kaya makna, dan bermanfaat setiap masa.
kuwx2
Keempat, tentu saya dan keluarga menjadi termotivasi untuk meneruskan hafalan qur’an yang ‘bolong-bolong’. Duhai diri, jadi makin semangat untuk bertaubat. Teman-teman pecinta al-qur’an selalu tampak segar dan tegar. Meskipun cuaca ekstrim di Kuwait, mereka jarang sakit, sudah terbiasa ditempa dalam didikanNya. Ada banyak cerita haru dan heroik mengenai kehadiran mereka dalam menjalani takdir sebagai perantau di negeri teluk. Kisah perjuangan hidup mereka telah menularkan manfaat buat masyarakat Indonesia (khususnya di kampung kelahiran), membawa berkah buat keluarga, bangsa dan agama. “(Al-Qur’an) ini adalah kabar yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (tafsir QS. Ibrahim [14]:52) Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Kelima, berkumpulnya dalam majelis kebaikan seperti ini adalah obat kerinduan terhadap tanah air. Ada yang mudik setahun sekali, ada yang lebih jarang dari itu, namun selayaknya persaudaraan erat, maka sudah membuat tanah rantau bagaikan ‘rumah sendiri’, bagai memiliki keluarga sendiri disini. Subhanalloh, nilai plus pula hadir bagi para pecinta qur’an ini. Pemerintah Kuwait bahkan mendukung penuh kehadiran masjid Indonesia disini (kalau jumatan, di masjid ini khotbah dalam bahasa Indonesia) sejak beberapa tahun silam. Mereka sangat menghargai WNI sholihin & sholihat yang telah terbukti menunjukkan kecintaan terhadap agama mulia ini, Al-Islam. Bahkan cahaya terang inspirasi telah terpancar dalam jiwa raga, yaitu melalui kecintaan terhadap al-Qur’an, Insya Allah.

Ayat cintaNya mengingatkan, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus [10]:57)

Sebentar lagi bulan mulia tiba, tamu yang kita nantikan segera hadir, semoga kita dipertemukanNya dengan ramadhan, aamiin. Dalam penantian di penghujung sya’ban ini, brothers & sisters banyak yang saling mengingatkan tentang berlomba-lomba mendulang pahala di bulan ramadhan. Kegiatan tarhib ramadhan menggema dimana-mana, termasuk di Kuwait. Penat lelah serta tantangan keseharian menjadi tak terasa saat diri kita gemar berkumpul bersama para pecinta qur’an, insya Allah.

Beberapa minggu lalu sebelum liburan summer dimulai, saya sekeluarga berkesempatan hadir dalam silaturrahim di Jabriya, Walhamdulillah berjumpa ibu-ibu majelis taklim Khoirunnisa (datang bersama kaum bapak dan anak-anak sholih/at). Kemudian rezeki nomplok, pada selasa kemarin, walhamdulillah saya ikutan hadir dalam Musabaqah Tilawatil Quran Al-Husna Kuwait.
Subhanalloh, dada ini berdebar luar biasa, mata pun mengembun, puluhan sisters muslimah komat-kamit mengulang-ulang hafalan qur’annya, dan mereka adalah para srikandi Indonesia! Terangkum do’a pada Allah ta’ala, semoga ukhuwah islamiyah ini kian kencang, jiwa-jiwa makin berpadu, tali semangat ini tidak rapuh dan dekapan erat itu tetap terasa meskipun kelak terpisah jarak dan waktu benua berbeda. Allahumma ‘aamiin.

(Dengan penuh cinta, Selamat menyambut ramadhan, Barokalloh! @bidadari_azzam, dalam perjalanan menuju Makkah Al Mukarromah, penghujung sya’ban 1434 H)

*Penulis adalah ananda dari bapak H. Muhammad Holdoun Syamsuri TM Moorsid dan ibunda Hj. Sahla binti H. Majid, kelahiran Palembang 19 Juni 1983,  mantan pelajar berprestasi Indonesia. Ia merupakan supporter setia suami saat bertugas menyelesaikan projek IT di berbagai negara, pembimbing para muallaf dengan aktif sebagai koordinator muslimah di Islamic-Centre Krakow, Poland. Sarjana Ilmu Komunikasi, ibu tiga jagoan, sahabat dan pengamat TKI yang juga bisa berbahasa Polish dan sedikit bahasa Arab. Karyanya antara lain Catatan CintaNya di Krakow, Antologi “Indahnya Persahabatan” (2012),  Sajak Mengeja Masa (Kumpulan Puisi)~2013. Silaturrahim di :Twitter ID : @bidadari_azzam, FB akun    :  Sry Bidadari Azzam Dua, dan Alamat email : ummuazzam1983@gmail.com

Redaktur: Al Furqon



Peluang