Sosok

Di Balik Pertemuan Terakhir Daud Beureuh & Buya Hamka (1)

Ahad 5 Jamadilawal 1434 / 17 Maret 2013 17:52

 

s_31404

TAHUN 1968 sekitar bulan September, Menteri Sosial Mintaredja SH (alm), mengunjungi Buya Hamka menyampaikan pesan penting dari Presiden Soeharto. Hanya sepuluh menit, Mintaredja datang tergesa-gesa, meninggalkan Buya Hamka juga dengan langkah tergesa-gesa. Penulis yang lagi asik membaca koran, dipanggil oleh Buya dan diberitahu pesan presiden yang baru diterimanya itu.

Isi pesan itu ialah, Presiden Soeharto merasa amat terkesan pada Khutbah Idhul Fitri Buya Hamka di Komplek Istana Baitul Rahim, terutama pandangan Buya tentang Pancasila.

Khutbah itu berjudul “Pancasila akan hampa tanpa Ketuhanan Yang Maha Esa…”, dimana Buya menguraikan makna sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, yang tak lain artinya adalah Tauhid, sama seperti isi risalah yang berjudul “Urat Tunggang Pancasila” yang ditulisnya sekitar tahun 50-an.

Pada bagian lain khutbah Buya yang menarik perhatian Pak Harto seperti yang disampaikan oleh Mintaredja ialah ketika membantah penggolongan Islam Abangan, dan Islam Putihan, semuanya itu adalah bikinan orang saja yang bertujuan hendak memecah umat Islam.

Presiden meminta Buya Hamka menyampaikan pandangan Buya tentang Pancasila itu pada Tengku Daud Beureueh, pemimpin dari Ulama Aceh yang terkenal. Untuk itu, sekiranya Buya tidak keberatan, Presiden meminta Buya menemui Tengku Daud Beureueh langsung dikediamannya di Aceh dalam waktu dekat.

Beberapa hari sesudah itu, Mintaredja berulangkali berkunjung ke kediaman Buya, melanjutkan pembicaraan, sampai saat keberangkatan beliau ke Aceh. Sebagai sekretaris, saya menyertai penerbangan dari Jakarta ke Banda Aceh, dan ke Beureunuen, desanya Tengku Daud Beureueh.

Dalam perjalanan itulah, saya mengetahui lebih jelas tentang misi Buya menemui Daud Beureueh itu.

“Ini adalah tanggung jawab berat…,” ujar Buya.

Dari Buya saya mendengar tentang kebesarannya Daud Beureueh sebagai pimpinan rakyat, dan hubungan beliau-beliau sejak lama.

Beratnya tugas itu, ialah karena pada waktu itu di Jakarta tersebar fitnah tentang terjadinya pengusiran orang Kristen di pulau Banyak wilayah Aceh, yang dihubung-hubungkan dengan nama Daud Beureueh, tokoh pemberontakan DI.

Presiden sendiri dalam waktu dekat akan berkunjung ke Aceh. Oleh sebab itu, segala isu yang mengurangi keberhasilan kunjungan Presiden itu agar dijauhkan.

Kami tiba di Aceh, dan disambut oleh Staf Gubernur Muzakir Walad, kemudian ditempatkan disebuah guest-house milik pemda. Keesokan harinya, sehabis subuh kami naik mobil juga milik pemda, menuju Beureunun yang jauhnya kira-kira setengah hari perjalanan dari Banda Aceh.

Daud Beureuh menanti dipondoknya, yang terketak di depan mesjid yang belum selesai dibangun. Kedua orang itu berangkulan, karena sudah lama tak bertemu.

Setelah berbincang-bincang tentang kesehatan masing-masing. Buya memulai dengan menyampaikan pandangan Beliau tentang Pancasila dan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, persis seperti isi buku beliau “Urat Tunggang Pancasila”, dan isi khutbah di Istana.

“Betul, betul memang begitu” ujar Daud Beureueh yang memanggil Buya Hamka dengan sebutan “tuan”.

Kemudian ganti Daud Beureueh yang berbicara tentang Pancasila.

“Yang jadi masalah bagi saya ialah keadaan sehari-hari yang jauh berbeda dengan ucapan-ucapan para pemimpin”, tegas Abu Beureu’eh.

“Kita percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, tapi kita membiarkan berlakunya perbuatan-perbuatan syirik, memuja kubur, memuja api, bahkan ada pemimpin yang ikut melakukannya. Disebutnya juga perjudian yang semakin meluas. Bukankah itu namanya kita main-main dengan Ketuhanan Yang Maha Esa”…?, lugas Abu.

Menyinggung perikemanusiaan dan keadilan sosial, Tengku Daud menunjuk kenyataan-kenyataan yang jauh berbeda.

Dengan wajah serius dan suara berat, Daud waktu itu berumur sekitar 70 tahun, kemudian menyatakan kekhawatirannya come back-nya PKI, yang sulit dihindarkan akibat kesenjangan-kesenjangan antara segelintir orang dengan mayoritas rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan.

“Tolonglah hal ini, tuan sampaikan kepada Presiden”, Pinta Daud.

Buya Hamka menyatakan keyakinan beliau, Bahwa Presiden Soeharto seorang yang benar-benar anti-komunis.

Sehubungan dengan itu, Buya Hamka menyatakan, “Ulama perlu bekerjasama dengan Pemerintah. Bila tidak, orang lain yang masuk…”. Ujar Buya.

Pembicaraan pun sampai pada kemungkinan pihak ketiga yang selalu memfitnah mengadu domba umat Islam dengan pemerintah.

Penulis yang selama pembicaraan duduk menyandar di sudut ruangan, tidak mengingat lagi seluruh pembicaraan, yang masih tampak ialah pembicaraan itu berjalan lama, dan diselingi dengan makan siang dan shalat dzuhur.

Ketika sedang makan, penulis menanyakan tentang kasus “Pulau Banyak” pada Abu Daud, bagaimana keadaanya.

“Jelas itu fitnah,” jawab Daud Beureueh.

Antara orang Aceh dan Nias yang beragama Kristen sejak dulu hidup rukun. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba mereka menyerbu ke Pulau Banyak, mau mendirikan gereja dan menyiarkan agamanya di tengah-tengah orang Aceh. Daud menyebut nama beberapa media Kristen di Medan yang membesar-besarkan berita itu, seolah-olah rakyat Aceh anti-Pancasila dan akan memberontak melawan pemerintah orde baru.

“Fitnah itu ke itu saja diulang-ulang. dikiranya kita takut digertak…,” kata Abu lagi dengan suara yang serak dan berat.

Pembicaraan pun beralih pada pekerjaan yang sedang dihadapi oleh Daud Deureueh saat itu, yang sedang membangun proyek irigasi guna mengairi ratusan hektar sawah rakyat.

BERSAMBUNG

Penulis artikel ini (tidak menyebutkan namanya) adalah sekretaris Buya Hamka, yang menyertai kunjungan Buya ke Aceh untuk menemui Daud Beurueh (di Beureunuen), Sesuai amanat yang diberikan oleh Presiden. Penulis menceritakan apa-apa saja yang penulis dengar dan lihat selama pertemuan tersebut berlangsung.

Ditulis ulang dari Majalah Panji Masyarakat No. 543.

Redaktur: Saad Saefullah