Analisis

Densus 88, Pasukan Anti Teror Atau Anti Islam?

Rabu 5 Rejab 1434 / 15 Mei 2013 09:17

densus 88anti teror Densus 88, Pasukan Anti Teror Atau Anti Islam?

SIAPA orang Indonesia sekarang ini yang tidak mengenal Densus 88? Pasukan khusus berlambang burung hantu dengan seragam hitam dan selalu memanggul senapan serbu dalam setiap aksinya. Pasukan yang dalam beberapa tahun belakangan ini menyita perhatian publik, karena selalu beraksi bak pahlawan dalam film action pada operasi mereka.

Seperti pekan lalu, Densus 88 kembali melakukan operasi besar-besaran di beberapa daerah di Jawa Barat dan Jawa tengah bahkan bergerak hingga ke lampung di ujung pulau sumatra. Puluhan orang yang masih terduga menjadi target, baik dengan menghilangkan nyawa mereka atau menangkapnya hidup-hidup.

Semua media baik cetak maupun elektronik ramai-ramai memberitakan peristiwa ini dan seakan bertindak sebagai hakim, media-media itu memvonis dari tempat kejadian perkara, bahwa para terduga adalah teroris berbahaya, membawa senjata, melawan dan semua tuduhan negatif lain tanpa pengadilan. Saat itu, posisi para ahli hukum sebagai hakim yang bekerja di pengadilan benar-benar sudah di kudeta oleh media-media itu.

Benarkah target Densus 88 adalah orang jahat?

“Dobrak pintu rumah, todongkan senjata, ancam semua orang di rumah, selesaikan misi.” Begitulah kira-kira cara kerja pasukan berseragam hitam ini. Coba anda berpikir, akal sehat dan adat istiadat mana yang membenarkan orang lain memasuki rumah seseorang tanpa izin pemiliknya bahkan merusak pintunya, kemudian merusak kehormatan keluarganya.

Bisakah anda bayangkan, jika di rumah itu ada muslimah yang belum menutup semua auratnya ketika Densus beraksi. Bukankah itu sebuah penghinaan kepada muslimah? Di negara Indonesia ini yang dikenal dunia dengan keramahannya. Orang desa yang tidak bersekolahpun pasti tahu, bahwa memasuki rumah orang lain tanpa sopan santun itu perbuatan tercela. Apalagi sampai mendobrak pintu dan melanggar prifasi keluarganya. Tapi anehnya, pemimpin lembaga yang selalu menyertai langkah Densus 88 menyatakan bahwa apa yang dilakukan Densus adalah hal manusiawi. Siapa yang lebih berpendidikan?

Tidak sedikit berita yang mengabarkan bahwa korban Densus 88 adalah orang yang dikenal baik di lingkungannya, orang yang ramah kepada tetangga, dan hal-hal lain yang sama sekali tidak menunjukkan sifat-sifat keji dan tercela sebagaimana dilakukan para koruptor dan para preman jalanan saat ini. Bahkan ada yang merupakan ustadz-ustadz yang mengajarkan tentang Islam di lingkungannya.

Pertanyaan yang harus dijawab adalah, kenapa selama ini target detasemen khusus ini adalah orang Islam? Sedangkan kepada RMS dan OPM yang jelas-jelas memberikan teror di daerah mereka, pasukan khusus ini diam menutup mata. Apakah karena mereka bukan orang yang beragama Islam?

Sikap umat Islam terhadap Densus 88

Indonesia adalah salah satu dari beberapa negara yang mempunyai penduduk mayoritas beragama Islam. Maka, sudah saatnya umat Islam yang mayoritas ini untuk bersikap cerdas dengan memahami hakikat pembunuhan dan penangkapan yang selama ini dilakukan oleh Densus 88. Umat Islam pasti pernah mendengar bahwa musuh Islam memerangi agama ini dengan perang pemikiran (ghozwatul fikr). Maka, dengan melihat fakta dan realita yang ada selama ini, tidakkah ada Ulama’ dan para ahli ilmu Islam yang berkesimpulan bahwa aksi Densus 88 selama ini adalah perang fisik terhadap umat Islam?

Jika kaum Muslimin pernah mendengar, bahwa yang menjadi target operasi densus adalah orang yang ingin mengamalkan syari’at Islam. Maka, apakah tidak mungkin jika dikemudian hari target mereka adalah umat Islam itu sendiri.

Sekarang ini, saatnya umat Islam di Indonesia untuk tidak lagi menelan mentah-mentah berita yang dihembuskan oleh media-media yang tidak berpihak kepada Islam, terutama berita-berita yang berkaitan dengan aksi Densus 88. Saatnya kembali kepada media yang berpihak kepada Islam dan memahami realita yang ada, kemudian bersikap dengan ilmu dan amalan.

Pemuda Islam sebagai harapan.

Dahulu di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, ketika musuh berusaha untuk menghancurkan Islam. Para pemuda Islam berlomba-lomba berada di garis terdepan untuk melawan. Bahkan ada beberapa pemuda yang dilarang oleh Rasulullah untuk berpartisipasi karena umur mereka yang terlalu dini. Tetapi itu tidak menyurutkan niat mereka untuk membela Islam di kemudian hari.

Kita dapati dalam sejarah Islam. Di umur yang belum mencapai dua puluh tahun, Usamah bin Zaid -radhiyallahu anhu- memimpin pasukan kaum Muslimin mengalahkan musuh sedang di dalam pasukan tersebut terdapat para Sahabat-sahabat senior -radhiyallahu anhum yang tentunya lebih berpengalaman darinya. Jadi, adakah diantara para pemuda Islam hari ini yang akan mengikuti jejak Usamah bin zaid -radhiyallahu anhu? (Shoutussalam)

Redaktur: Pizaro



Peluang